BPR Jatim Masuk ke Bisnis Emas, Bidik Pertumbuhan Kredit 30% pada 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Perekonomian Rakyat Jawa Timur (BPR Jatim) menargetkan pertumbuhan kredit hingga 30% pada 2026, seiring penguatan pembiayaan ke sektor produktif dan ekspansi ke bisnis baru, termasuk kredit kepemilikan emas.

Direktur Utama BPR Jatim Irwan Eka Wijaya Arsyad mengatakan, fokus utama penyaluran kredit perseroan bukan pada segmen aparatur sipil negara (ASN), melainkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor produktif.

Market share kami bukan ASN atau pegawai. Market share kami adalah UMKM, mulai dari nelayan, perkebunan, pertanian, jasa, industri, hingga pelaku UMKM sektor produktif,” ujar Irwan kepada awak media, Kamis (22/1/2026).


Sepanjang 2025, BPR Jatim mencatatkan pertumbuhan kredit hampir Rp 600 miliar secara tahunan. Dengan capaian tersebut, perseroan optimistis penyaluran kredit pada 2026 dapat meningkat sekitar 30% atau mendekati Rp 1 triliun.

Baca Juga: BPR Jatim Ungkap Tantangan Konsolidasi di Tahun 2026

Untuk mencapai target tersebut, BPR Jatim telah menyiapkan sejumlah strategi, salah satunya melalui percepatan digitalisasi proses kredit. Perseroan mengembangkan sistem digital seperti e-loss dan e-loan guna mempercepat proses analisis dan pencairan kredit.

“Dengan digitalisasi, proses pemberian kredit bisa lebih sederhana dan cepat, bahkan bisa one day service. Ini untuk mempercepat pembentukan customer base baru,” jelas Irwan.

Selain itu, BPR Jatim juga melakukan diversifikasi produk, termasuk masuk ke bisnis kredit kepemilikan emas yang mulai diluncurkan pada semester II-2025 lalu. Menurut Irwan, animo pasar terhadap produk ini cukup positif, seiring tren harga emas yang terus meningkat.

“Jadi kami tidak menawarkan kredit ke ASN, tetapi menawarkan investasi. Skemanya cicilan emas yang juga bisa dijadikan agunan untuk kebutuhan usaha atau keperluan lain,” ungkapnya.

Skema pembiayaan emas tersebut dirancang sebagai instrumen investasi sekaligus pembiayaan, yang mana emas milik nasabah dapat digunakan kembali sebagai jaminan kredit. Perseroan menilai model ini berpotensi mendorong akselerasi pertumbuhan kredit ke depan.

Tak hanya dari sisi kredit, BPR Jatim juga berupaya memperkuat kepercayaan pasar dengan mempermudah layanan penghimpunan dana. Salah satunya melalui pengembangan layanan e-deposito berbasis web, sehingga nasabah dapat menempatkan dana tanpa harus datang ke kantor cabang.

“Ini bagian dari upaya meningkatkan trust. Sekarang deposito bisa dilakukan secara digital, termasuk untuk nasabah di wilayah 3T,” tambah Irwan.

Baca Juga: Dorong Pedagang Naik Kelas, BSI Siapkan Transaksi Digital di Pasar

Di sisi lain, BPR Jatim juga mendorong sinergi dengan badan usaha milik daerah (BUMD) di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota di Jawa Timur. Kerja sama ini diarahkan untuk mendukung pembiayaan modal kerja dan kegiatan produktif BUMD, sekaligus mempercepat pertumbuhan kredit perseroan.

“Kami melihat peluang sinergi antar-BUMD cukup besar, karena banyak yang bergerak di sektor produktif dan membutuhkan dukungan pembiayaan,” pungkasnya.

Selanjutnya: Pecahan Drone Picu Kebakaran Depo Minyak di Wilayah Penza, Rusia

Menarik Dibaca: Bukan Cuma Hantu, 7 Film Horor Thailand Ini Punya Plot Twist Tak Terduga

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News