BPR Jatim Ungkap Tantangan Konsolidasi di Tahun 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong konsolidasi di industri perbankan, khususnya di segmen Bank Perekonomian Rakyat (BPR), masih dihadapkan dengan sejumlah tantangan. 

Direktur Utama BPR Jatim Irwan Eka Wijaya Arsyad menilai, secara prinsip konsolidasi merupakan langkah yang positif untuk memperkuat ketahanan industri BPR. Terutama bagi BPR-BPR kecil yang diarahkan untuk bergabung dengan BPR yang lebih besar atau membentuk Kelompok Usaha Bank (KUB).

Namun demikian, Irwan mengaku masih menanti kebijakan yang komprehensif selain arahan konsolidasi. Ia menyebut, hingga saat ini arah kebijakan konsolidasi BPR, termasuk dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD) masih belum dijelaskan secara rinci. 


Baca Juga: Perkuat Bisnis Beyond Mortgage, BTN Expo 2026 Siap Digelar

Apalagi, menurutnya, sejumlah BPR besar termasuk BPR milik Pemerintah Daerah sudah mapan dari sisi bisnis, prosedur operasional, maupun ketahanan permodalan.

Nah, konsolidasi BPR besar seperti itu dengan BPD berpotensi menimbulkan tumpang tindih segmen pasar. Pasalnya, BPD sebagai bank umum memiliki cakupan segmen yang luas, termasuk segmen yang selama ini justru dilayani oleh BPR.

“Ada kekhawatiran segmentasinya jadi mengecil. Apalagi pangsa BPR milik Pemda ini kan banyak di ASN, sementara BPD juga menggarap segmen yang sama. Ini bisa saling beririsan,” jelas Irwan kepada media, Kamis (22/1/2026).

Selama ini, lanjut Irwan, BPR justru hadir untuk melayani segmen-segmen yang belum tersentuh optimal oleh bank umum, khususnya di wilayah pedesaan dan sektor-sektor rural seperti pertanian, perikanan, hingga wilayah pegunungan dan perkebunan.

“Melayani sektor rural itu butuh effort luar biasa. Kami hadir di situ, dan itu market share kami,” tegasnya.

Karena itu, Irwan menilai tantangan utama konsolidasi terletak pada kejelasan segmentasi, pembagian tugas, dan pembagian pasar antarbank. Ia menekankan, konsolidasi seharusnya memperbesar skala usaha dan meningkatkan kualitas layanan, bukan justru mematikan peran satu sama lain.

Baca Juga: Dorong Pedagang Naik Kelas, BSI Siapkan Transaksi Digital di Pasar

“Prinsipnya, kalau digabung harus jadi lebih besar dan layanannya lebih baik. Jangan sampai tumpang tindih. Segmentasi dan pembagian market harus diperjelas supaya masyarakat bisa dilayani dengan jauh lebih baik,” pungkasnya.

Selanjutnya: Perkuat Bisnis Beyond Mortgage, BTN Expo 2026 Siap Digelar

Menarik Dibaca: Bukan Cuma Hantu, 7 Film Horor Thailand Ini Punya Plot Twist Tak Terduga

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News