BPR sulit ikut berebut DPK dengan bank umum



JAKARTA. Pertumbuhan penghimpunan dana simpanan masyarakat di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) lebih lambat dibanding tahun lalu. Hal ini tak lepas dari ulah bank-bank umum yang melakukan perang bunga simpanan pada tahun lalu.

Menurut Raden Soeroso, Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Milik Pemerintah Daerah Se-Indonesia (Perbamida), perilaku bank-bank umum yang memasang bunga simpanan begitu tinggi jelas berdampak menyulitkan BPR dalam menghimpun DPK. "Sebab persaingan dengan bank umum menjadi lebih ketat. Berat bagi BPR ikut jor-joran perang bunga," kata Raden pada KONTAN, Jumat, (28/2).Padahal di tahun lalu, BPR sudah mengalami kenaikan biaya dana (cost of fund). Terlebih mayoritas DPK BPR masih didominasi oleh dana mahal alias deposito. "Cuma berapa peningkatan cost of fund BPR secara industri, saya belum tahu. Karena sesama BPR kita tidak boleh saling tahu cost of fund masing-masing," pungkas pria yang juga Direktur Utama BPR UMKM tersebut.Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per Desember 2013, total DPK BPR mencapai Rp 50,52 triliun. Tumbuh 12,59% dibanding akhir 2012 yang mencapai Rp 44,87 triliun. Pertumbuhan DPK  ini melambat dibandingkan tahun 2012 yang mencapai 17,46%. Sebab akhir 2011 DPK BPR mencapai Rp 38,20 triliun.Sampai tahun lalu, komposisi deposito mendominasi 67,06% dari total DPK BPR. Sementara tabungan hanya 32,94%. Kondisi ini tak jauh beda dengan tahun 2012. Kala itu, deposito mendominasi 67,75% dan tabungan 32,25% dari total DPK.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Sanny Cicilia