BPS Catat Impor pada April 2026 Melonjak 22,49%, Cermati Pemicunya



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kenaikan impor barang konsumsi dan bahan baku industri menjadi pendorong utama melonjaknya impor Indonesia pada April 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor April mencapai US$ 25,21 miliar atau tumbuh 22,49% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan impor tersebut terjadi pada seluruh kelompok penggunaan, mencerminkan meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat dan kebutuhan sektor industri terhadap bahan baku produksi.


Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini mengatakan, nilai impor Indonesia pada April 2026 ditopang oleh kenaikan impor migas maupun nonmigas.

Baca Juga: BPS Catat Impor RI Melonjak 13,40% Capai US$ US$ 86,51 Miliar Januari-April 2026

"Pada April 2026, nilai impor mencapai US$ 25,21 miliar atau meningkat 22,49% dibandingkan April 2025," ujar Pudji dalam konferensi pers, Selasa (2/6/2026).

BPS mencatat impor migas mencapai US$ 4,60 miliar atau melonjak 82,52% secara tahunan. Sementara impor nonmigas mencapai US$ 20,62 miliar atau meningkat 14,11% dibandingkan April tahun lalu.

Menurut Pudji, peningkatan impor secara tahunan terutama didorong oleh impor nonmigas yang memberikan andil sebesar 12,39% terhadap pertumbuhan impor nasional.

Jika ditinjau berdasarkan penggunaannya, impor barang konsumsi mencatat kenaikan tertinggi, yakni sebesar 42,90% dibandingkan April 2025. Pertumbuhan tersebut menunjukkan permintaan domestik terhadap berbagai produk konsumsi masih cukup kuat.

Di sisi lain, impor bahan baku dan penolong juga meningkat signifikan sebesar 24,56% secara tahunan. Kelompok ini menjadi penyumbang terbesar terhadap kenaikan impor nasional dengan andil mencapai 17,86%.

Baca Juga: BPS: Impor Mesin RI dari Tiongkok US$ 77,52 Miliar, Defisit Meningkat

"Nilai impor bahan baku penolong sebagai pendorong utama kenaikan impor naik sebesar 24,56% dengan andil peningkatan sebesar 17,86%," kata Pudji.

Kenaikan impor bahan baku terutama berasal dari komoditas bahan bakar mineral (HS 27), mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85), serta berbagai produk kimia (HS 38).

Komoditas-komoditas tersebut banyak digunakan sebagai input produksi sektor manufaktur dan industri pengolahan.

Sementara itu, impor barang modal juga masih tumbuh positif sebesar 5,64% secara tahunan, mengindikasikan aktivitas investasi dan ekspansi usaha masih berlangsung.

BPS mencatat tiga komoditas nonmigas utama yang paling banyak diimpor sepanjang Januari-April 2026 adalah mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik.

Baca Juga: BPS Catat Surplus Neraca Dagang Desember 2025 Menyusut Jadi US$ 2,51 Miliar

Tingginya pertumbuhan impor barang konsumsi dan bahan baku industri menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih cukup kuat dari sisi konsumsi maupun produksi.

Namun, lonjakan impor tersebut juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan surplus neraca perdagangan Indonesia menyusut tajam menjadi hanya US$ 89,1 juta pada April 2026, dari US$ 3,32 miliar pada bulan sebelumnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News