BPS: Perubahan Desil Tidak Menentukan Angka Kemiskinan



KONTAN.CO.ID - Jakarta (08/09) Beredarnya anggapan bahwa perubahan posisi desil masyarakat digunakan untuk menurunkan angka kemiskinan mendapat penjelasan dari Badan Pusat Statistik (BPS). Masyarakat yang sebelumnya berada pada kelompok kesejahteraan atau desil lebih rendah pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) kemudian naik ke posisi yang lebih tinggi beranggapan bahwa kenaikan desil mereka ditujukan untuk mengurangi jumlah penduduk miskin.

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS RI, Nashrul Wajdi, dalam podcast Kasih Paham Nusantara TV (01/09), menegaskan bahwa desil dan angka kemiskinan merupakan dua ukuran yang yang memiliki konsep, tujuan, dan metodologi yang berbeda. Oleh karenanya, perubahan posisi desil sama sekali  tidak berhubungan dengan angka kemiskinan.

Ia juga menjelaskan bahwa desil pada DTSEN merupakan pengelompokan penduduk berdasarkan tingkat kesejahteraan. Seluruh keluarga diurutkan berdasarkan tingkat kesejahteraannya, kemudian dibagi ke dalam sepuluh kelompok dengan jumlah sama besar. Setiap kelompok mencakup sekitar 10 persen dari total keluarga. Artinya, bagaimanapun kondisi kesejahteraan suatu masyarakat, desil 1 hingga desil 10 akan selalu ada.


“Ketika kita berbicara posisi relatif, kalau kita mengumpulkan 100 orang kaya, lalu kita desilkan, di situ akan tetap ada desil 1.” jelas Nashrul

Nashrul lalu menyampaikan bahwa angka kemiskinan dihitung dengan konsep dan metode yang berbeda. Ketika angka kemiskinan tercatat sebesar 8 persen, misalnya, angka tersebut dapat berada di dalam kelompok desil 1 yang secara keseluruhan mencakup sekitar 10 persen populasi. Jumah desil 1 sendiri tidak berubah mengikuti perubahan jumlah penduduk miskin.

Desil sendiri memiliki peran penting untuk membantu melihat siapa yang berada pada kelompok kesejahteraan paling rendah. Melalui atribut desil dalam DTSEN, pemerintah dapat memetakan kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan berbeda dan mengidentifikasi kelompok yang membutuhkan perhatian, bantuan, maupun intervensi secara lebih tepat sasaran.

Dengan demikian, perubahan posisi desil tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa angka kemiskinan sengaja diturunkan melalui perubahan pengelompokan masyarakat. Perubahan desil dan perubahan angka kemiskinan merupakan dua hal yang berdiri pada ukuran dan metodologi yang berbeda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News