BPS Proyeksikan Produksi Beras Kuartal IV-2026 Turun 16,32% akibat El Nino



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fenomena El Nino mulai memberikan tekanan terhadap produksi beras nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras pada kuartal IV-2026 merosot 16,32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, seiring berkurangnya potensi luas panen padi.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, produksi beras nasional pada Oktober-Desember 2026 diperkirakan hanya mencapai 5,01 juta ton.

Penurunan tersebut dipengaruhi oleh menyusutnya potensi luas panen padi akibat dampak fenomena El Nino yang terjadi sepanjang tahun ini.


Ateng mengatakan, hasil pengamatan Survei Kerangka Sampel Area (KSA) pada September 2026 menunjukkan proporsi luas lahan yang sedang ditanami padi atau standing crop hanya mencapai 20%.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan September 2023 yang sebesar 23,10%. Proporsi luas tanaman padi pada September 2026 juga berada di bawah periode September 2021, 2022, 2024, dan 2025 yang berkisar antara 24,67% hingga 26,46%.

Baca Juga: YLKI Desak Pemerintah Hapus PPN Pembalut: Jangan Miskin Ide Cari Pajak!

"Pada September 2023 dan juga September 2026 saat terjadi El Nino, proporsi luas standing crop atau pertanaman padi tercatat relatif lebih rendah," ujar Ateng dalam konferensi pers BPS, Senin (2/11/2026).

Menurut Ateng, rendahnya proporsi standing crop menunjukkan lebih sedikit lahan pertanaman padi yang berada pada fase vegetatif awal, vegetatif akhir, maupun generatif.

Kondisi tersebut berpotensi mengurangi luas panen padi dalam tiga bulan berikutnya. Pasalnya, tanaman padi yang memasuki fase generatif umumnya akan dipanen dalam satu bulan.

Sementara itu, tanaman pada fase vegetatif akhir diperkirakan dipanen dalam dua bulan mendatang. Adapun tanaman pada fase vegetatif awal diperkirakan baru memasuki masa panen sekitar tiga bulan berikutnya.

Sejalan dengan kondisi tersebut, BPS memperkirakan potensi luas panen padi pada Oktober-Desember 2026 hanya mencapai 1,54 juta hektare. Angka ini turun 17,75% atau sekitar 330.000 hektare dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Produksi padi pada periode tersebut diproyeksikan mencapai 8,69 juta ton gabah kering giling (GKG), atau mengalami penurunan 16,30% secara tahunan.

Sementara itu, produksi beras nasional sepanjang Januari-September 2026 diperkirakan mencapai 28,10 juta ton. Jumlah tersebut turun 2,12% dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Dengan demikian, BPS memproyeksikan produksi beras nasional sepanjang Januari-Desember 2026 mencapai 33,11 juta ton.

Proyeksi tersebut lebih rendah 1,59 juta ton atau 4,57% dibandingkan produksi beras sepanjang 2025.

Potensi panen beras di sejumlah wilayah

BPS mencatat potensi panen padi pada Oktober-Desember 2026 masih terkonsentrasi di sejumlah sentra produksi nasional.

Di Pulau Jawa, potensi panen terbesar secara umum berada di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

Sementara itu, di Pulau Sumatera, potensi panen terkonsentrasi di Sumatera Utara, Lampung, Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan.

Untuk wilayah Sulawesi, potensi panen padi berada di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Adapun di Kalimantan, potensi panen terkonsentrasi di Kalimantan Selatan.

Di kawasan Nusa Tenggara, potensi panen diperkirakan berada di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Baca Juga: Efek El Nino, Inflasi Diramal Bertahan di Level 3% Hingga Semester I-2027

Secara lebih rinci, potensi panen padi di Jawa Barat relatif besar berada di Kabupaten Indramayu, Subang, Karawang, Bekasi, dan Cirebon.

Di Jawa Tengah, potensi panen terkonsentrasi di Kabupaten Sragen dan Pemalang. Sementara di Jawa Timur, wilayah dengan potensi panen relatif besar meliputi Ngawi, Banyuwangi, Ponorogo, Jember, dan Lumajang.

Untuk wilayah Sumatera, potensi panen relatif besar berada di Kabupaten Tulang Bawang dan Aceh Utara.

Adapun di Sulawesi, potensi panen padi antara lain berada di Kabupaten Pinrang, Banggai, Luwu, dan Konawe.

Meski demikian, BPS mengingatkan bahwa proyeksi luas panen tersebut masih berpotensi mengalami perubahan mengikuti perkembangan kondisi di lapangan.

"Sekali lagi kami sampaikan bahwa angka potensi luas panen tersebut masih dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi terkini di lapangan," ujar Ateng.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News