KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Brantas Abipraya (Persero) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung transformasi sistem kesehatan nasional melalui pembangunan Gene Bank Indonesia atau Bank Genomik Nasional di kawasan RS Dr. H. Marzoeki Mahdi (RSMM), Bogor, Jawa Barat. Sebagai bagian dari pengawasan proyek strategis tersebut, jajaran komisaris perusahaan melakukan
Management Walkthrough untuk memastikan progres pembangunan berjalan sesuai target, memenuhi standar mutu, serta mengedepankan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Baca Juga: Pemadaman Bergilir Akibat Batubara, Bahlil Bentuk Tim Pengadaan Lintas Instansi Kunjungan tersebut dihadiri Komisaris Utama PT Brantas Abipraya (Persero) Diana Kusumastuti, Komisaris Independen Isra D. Pramulya dan Santoso, didampingi Direktur Operasi II Mustafa Nahdi serta SVP Divisi Operasi I Tintus Noviyanto. Dalam peninjauan tersebut, jajaran komisaris memastikan pelaksanaan konstruksi berjalan sesuai standar kualitas dan keselamatan yang ditetapkan perusahaan. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga tata kelola proyek yang baik sekaligus memastikan penyelesaian pekerjaan tepat waktu. Gene Bank Indonesia yang dibangun Brantas Abipraya diproyeksikan menjadi pusat penyimpanan dan riset material genetik terbesar di Indonesia serta yang pertama di Asia Tenggara. Fasilitas ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian riset biomedis nasional, mendukung pengembangan genomik, meningkatkan akurasi diagnosis penyakit, hingga membuka peluang pengembangan terapi dan pengobatan yang lebih personal.
Baca Juga: Minyak Dunia Melandai, Harga BBM Non-Subsidi Berpeluang Turun pada Juli 2026 Sekretaris Perusahaan PT Brantas Abipraya (Persero) Dian Sovana menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas tersebut memiliki tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan gedung konvensional. “Pembangunan Gene Bank Indonesia dirancang dengan standar khusus untuk mendukung sistem penyimpanan material genetik, laboratorium riset genomik, serta fasilitas pengolahan data berkapasitas besar. Proyek ini tidak hanya menuntut ketelitian teknis yang tinggi, tetapi juga penerapan sistem keamanan dan pengendalian lingkungan yang ketat guna menjaga stabilitas sampel biologis dalam jangka panjang,” ujar Dian dalam keterangannya Selasa (23/6/2026). Bangunan Gene Bank Indonesia memiliki luas sekitar 22.699 meter persegi dan akan terdiri dari delapan lantai. Proyek tersebut ditargetkan selesai pada 2027. Fasilitas ini nantinya akan dilengkapi sistem pengendalian suhu dan kelembapan presisi, infrastruktur keamanan berlapis, serta teknologi informasi yang mampu mengelola data genomik dalam skala besar secara terintegrasi.
Baca Juga: PLN IP Kirim Perdana Biomassa Sorgum Dust untuk Co-Firing PLTU Pelabuhan Ratu Menurut Dian, keterlibatan Brantas Abipraya dalam pembangunan Gene Bank Indonesia menjadi wujud dukungan perusahaan terhadap agenda prioritas pemerintah di sektor kesehatan sekaligus memperkuat fondasi riset dan inovasi nasional. “Melalui proyek strategis ini, Brantas Abipraya tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga turut menghadirkan fondasi bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kesehatan generasi mendatang. Kami memastikan setiap tahapan konstruksi dilaksanakan dengan mengedepankan kualitas, keselamatan kerja, dan ketepatan waktu sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat Indonesia,” katanya. Secara strategis, Gene Bank Indonesia diharapkan menjadi fondasi penting dalam penguatan ekosistem riset dan inovasi kesehatan nasional.
Selain mendukung pengembangan terapi berbasis genetik dan pengobatan presisi, fasilitas ini juga menjadi langkah menuju kedaulatan data kesehatan nasional yang dapat meningkatkan daya saing Indonesia di bidang kesehatan dan bioteknologi.
Baca Juga: Pemadaman Listrik Bergilir oleh PLN, YLKI: Kompensasi Sepatutnya Diberikan “Brantas Abipraya bangga dapat menjadi bagian dari proyek strategis ini. Kami percaya kehadiran Gene Bank Indonesia akan memperkuat ekosistem riset dan inovasi kesehatan nasional, sekaligus membawa Indonesia semakin siap memasuki era pengobatan presisi berbasis genomik,” tutup Dian. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News