KONTAN.CO.ID - Kesepakatan China untuk membeli lebih banyak produk pertanian Amerika Serikat dapat mendorong Brasil memanfaatkan celah yang ditinggalkan pengiriman AS di pasar lain, karena Washington akan lebih memfokuskan ekspornya ke China, mitra dagang terbesar Brasil. Demikian diungkapkan oleh para pakar industri pada Senin (18/5/2026). Namun, perkiraan dampak terhadap sektor pertanian Brasil akibat perjanjian yang diumumkan Gedung Putih pada Minggu dinilai masih terlalu dini. Meski demikian, daya saing Brasil dapat membuat negara tersebut masuk lebih agresif ke pasar-pasar lain, menurut para pakar. Mengutip
Reuters, ekspor produk pertanian Brasil ke China mencapai US$ 55,22 miliar pada 2025, atau sekitar sepertiga dari total penjualan luar negeri sektor tersebut tahun lalu, berdasarkan data pemerintah. Dari jumlah tersebut, kedelai menyumbang US$ 34,5 miliar, diikuti daging sebesar US$ 9,82 miliar.
Gedung Putih memperkirakan tambahan pembelian kedelai AS oleh China sebesar 25 juta metrik ton. Jika terealisasi, Brasil kemungkinan akan mengalihkan arus perdagangannya, kata perusahaan pialang Stag International. “Program pembelian kedelai China sebesar 25 juta ton terutama akan menggusur pembeli di luar China untuk beralih ke Brasil dan sumber pasokan lain,” kata Stag dalam laporannya. Menurut Stag, Brasil tetap kompetitif secara struktural dan, dengan perkiraan panen rekor lebih dari 180 juta ton pada 2026, Brasil diperkirakan tetap akan menangkap permintaan besar di luar China.
Baca Juga: Minyak Dunia Menguat, IEA Peringatkan Stok Global Tinggal Cukup Beberapa Pekan Kelompok perdagangan dan pengolahan kedelai Anec dan Abiove belum memberikan tanggapan atas pertanyaan
Reuters. Secara ironis, Brasil juga bisa meningkatkan ekspor daging sapi ke Amerika Serikat jika negara tersebut, yang sedang menghadapi pasokan ketat, mengalihkan lebih banyak produknya ke China. “Pada prinsipnya, jika pembaruan persetujuan pabrik AS (oleh China) dikonfirmasi, bisa ada minat dari Amerika Serikat untuk merebut kembali sebagian pangsa pasar di China. Mengingat kekurangan besar produksi AS untuk memenuhi permintaan domestik, peluang dapat muncul bagi negara lain seperti Brasil untuk meningkatkan penjualan ke AS,” kata Paulo Mustefaga, CEO asosiasi industri Abrafrigo. China memperpanjang lebih dari 400 lisensi ekspor yang telah kedaluwarsa bagi pengolah daging sapi AS, berdasarkan situs bea cukai China pada Jumat, setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menyelesaikan pertemuan puncak di Beijing.
Tonton: UEA Berani Lawan Iran Timur Tengah Makin Panas “Perlu dicatat, Amerika Serikat, seperti Brasil, juga dikenai kuota ekspor daging sapi dalam kebijakan pengamanan (safeguard) oleh China, yang seharusnya membatasi ekspansi penjualan AS ke pasar China,” tambah Mustefaga. Tabel 1: Komposisi Ekspor Pertanian Brasil ke China (2025)
| Komoditas | Nilai Ekspor (US$ miliar) | Catatan |
| Kedelai | 34,5 | Komoditas utama |
| Daging | 9,82 | Potensi naik jika AS fokus ke China |
| Total ekspor pertanian ke China | 55,22 | Sekitar 1/3 ekspor sektor pertanian Brasil |
Tabel 2: Dampak Potensial Deal AS-China terhadap Arus Perdagangan
| Faktor | Dampak ke AS | Dampak ke China | Dampak ke Brasil |
| Tambahan pembelian kedelai AS (25 juta ton) | Ekspor naik | Pasokan dari AS meningkat | Brasil bisa alihkan ekspor ke pasar lain |
| Panen kedelai Brasil 2026 (diproyeksi >180 juta ton) | - | - | Memperkuat daya saing global |
| Kuota ekspor daging sapi ke China | Membatasi ekspansi | Menahan lonjakan impor | Menjaga peluang Brasil di pasar China |