KONTAN.CO.ID - Pemerintah Brasil menyatakan akan membuka negosiasi dengan China terkait standar inspeksi dan keamanan kedelai, menyusul keluhan dari Beijing terhadap kualitas sejumlah pengiriman.
Reuters melaporkan, Menteri Pertanian Brasil, Carlos Favaro, pada Selasa (18/3) menegaskan bahwa pemerintah tidak melonggarkan aturan inspeksi, membantah laporan media lokal yang menyebut adanya pelonggaran untuk mempercepat ekspor. Favaro mengakui bahwa Brasil menerima keluhan dari pembeli dan otoritas China setelah ditemukan biji gulma dalam beberapa kargo kedelai. Menyusul keluhan yang berulang, pemerintah justru memperketat pemeriksaan.
“Tidak ada aturan yang diubah. Kami punya kewajiban hukum untuk melakukan inspeksi,” tegas Favaro. Ia menambahkan, kapal yang belum lolos inspeksi hanya akan mendapatkan sertifikat ekspor jika muatannya memenuhi standar yang ditetapkan China, sebagai importir kedelai terbesar dunia. “Kalau memang ada pelonggaran, kapal-kapal itu sudah berlayar,” ujarnya.
Brasil Kirim Delegasi ke China
Sebagai langkah lanjutan, Brasil akan mengirim dua pejabat tinggi ke China pekan depan, yakni Sekretaris Perdagangan dan Hubungan Internasional Luis Rua serta Sekretaris Perlindungan Pertanian Carlos Goulart. Delegasi ini akan mengusulkan protokol sanitasi baru yang diharapkan bisa memenuhi tuntutan inspeksi China, sekaligus menjaga kelancaran operasional industri kedelai Brasil dan meminimalkan risiko perdagangan.
Baca Juga: Perkiraan Idul Fitri 2026 di Arab Saudi Menurut Para Astronom Meski terjadi ketegangan, Favaro menegaskan situasi ini belum bisa disebut sebagai embargo. “Jika China ingin menghentikan pembelian kedelai Brasil, mereka pasti sudah melakukannya. Itu bukan isu utamanya,” jelasnya.
Pengiriman Melambat di Musim Puncak
Sebelumnya, laporan
Reuters menyebut Kementerian Pertanian Brasil meningkatkan pengawasan setelah China berulang kali menemukan kedelai yang terkontaminasi pestisida dan fungisida. Para pelaku pasar menyebut kebijakan inspeksi yang lebih ketat memperlambat pengiriman di tengah musim puncak ekspor Brasil. Hal ini mendorong kenaikan biaya logistik dan berpotensi mengganggu pasokan ke China.
Keterlambatan penerbitan sertifikat ekspor juga membuat kapal harus menunggu lebih lama di pelabuhan, yang berujung pada biaya penalti. Bahkan, perusahaan perdagangan global Cargill sempat menghentikan pengiriman kedelai Brasil ke China akibat perubahan aturan tersebut.
Tonton: Ini Alasan Boy Thohir Gelontorkan Rp 4 Triliun untuk Buyback Saham ADRO Meski demikian, data dari asosiasi eksportir biji-bijian Brasil (Anec) menunjukkan jadwal pengiriman relatif tidak banyak berubah. Ekspor kedelai bulan ini diperkirakan mencapai 16,32 juta ton, sedikit di bawah proyeksi pekan lalu sebesar 16,47 juta ton.