KONTAN.CO.ID - Bank Sentral Brasil kembali memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) pada rapat kebijakan moneter Rabu (5/8/2026). Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar dan membuka peluang penurunan suku bunga lanjutan pada pertemuan September mendatang. Mengutip
Reuters, Komite Kebijakan Moneter (Copom) Bank Sentral Brasil secara bulat memutuskan menurunkan suku bunga acuan Selic menjadi 14,00%. Level tersebut merupakan yang terendah sejak Maret 2025.
Baca Juga: Iran Berpotensi Kendalikan Kapal yang Masuk Selat Hormuz, Ingin Tarik Biaya hingga 7% Sebanyak 38 dari 42 ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya telah memperkirakan bank sentral akan memangkas suku bunga sebesar 25 bps. Keputusan ini memperpanjang siklus pelonggaran moneter yang dimulai sejak Maret 2026. Langkah tersebut didukung oleh tanda-tanda perlambatan pertumbuhan ekonomi dan meredanya tekanan inflasi, sehingga memberikan keyakinan lebih besar kepada pembuat kebijakan bahwa inflasi mulai terkendali. Meski demikian, Bank Sentral Brasil belum memberikan sinyal pasti mengenai langkah kebijakan berikutnya. Copom menegaskan keputusan pada pertemuan September akan bergantung pada perkembangan data ekonomi yang masuk. "Dewan akan terus memantau perkembangan kondisi ekonomi untuk memastikan kebijakan moneter tetap cukup ketat guna menjamin inflasi kembali menuju target," tulis Copom dalam pernyataan resminya.
Baca Juga: Harga Minyak Beragam, Pasar Cermati Prospek Pembukaan Kembali Selat Hormuz Ekonom Santander Brasil Marco Antonio Caruso menilai, pernyataan terbaru bank sentral menunjukkan fokus pembuat kebijakan mulai bergeser, bukan lagi pada seberapa jauh suku bunga akan dipangkas, melainkan kapan siklus pelonggaran tersebut akan dihentikan. "Bank sentral masih membuka peluang untuk pemangkasan suku bunga berikutnya, tetapi tidak memberikan komitmen bahwa langkah tersebut pasti dilakukan," ujar Caruso. Sementara itu, Kepala Ekonom Quantitas Ivo Chermont menilai, nada pernyataan bank sentral sedikit lebih hawkish. Menurutnya, Copom masih menyoroti ketatnya pasar tenaga kerja dan ketahanan ekonomi meskipun aktivitas ekonomi mulai melambat. "Pesan utamanya adalah kondisi memang membaik, tetapi masih terlalu dini untuk menyatakan kemenangan atas inflasi," kata Chermont. Ia memperkirakan, Bank Sentral Brasil masih berpeluang memangkas suku bunga sebesar 25 bps pada September.
Baca Juga: Stok Minyak Mentah AS Naik, Aktivitas Kilang Melambat dan Impor Meningkat Namun, pasar kemungkinan akan mengurangi ekspektasi terhadap peluang penurunan suku bunga pada pertemuan November. Dalam pernyataannya, bank sentral juga kembali menegaskan bahwa risiko inflasi masih cenderung mengarah ke atas. Selain itu, otoritas moneter menyatakan terus mencermati belum stabilnya ekspektasi inflasi jangka panjang yang dapat memengaruhi pembentukan harga dan membuat proses penurunan inflasi menjadi lebih mahal. Sejak rapat kebijakan Juni lalu, prospek ekonomi Brasil dinilai semakin kondusif bagi pelonggaran moneter. Inflasi bergerak lebih rendah dari perkiraan, sementara sejumlah indikator aktivitas ekonomi menunjukkan perlambatan yang lebih jelas sehingga memperkuat prospek inflasi yang lebih terkendali.
Baca Juga: Dolar AS Diproyeksi Tetap Kuat, Intervensi Jepang Dinilai Tak Cukup Selamatkan Yen Bank Sentral Brasil memproyeksikan inflasi tahunan sebesar 3,2% untuk horizon kebijakan 18 bulan yang kini bergeser ke kuartal I-2028, sama dengan proyeksi pada Juni lalu. Adapun target inflasi Brasil ditetapkan sebesar 3%, dengan batas toleransi masing-masing 1,5 poin persentase di atas dan di bawah target tersebut. Untuk tahun 2026, bank sentral menurunkan proyeksi inflasi menjadi 5,1% dari sebelumnya 5,2%. Sementara proyeksi inflasi 2027 direvisi menjadi 3,8% dari sebelumnya 3,7%.