Brasil pesta bir, Rusia sementara puasa



LONDON. Cuaca topis yang bagus di awal tahun didukung harga makanan yang tidak melonjak tajam, memungkinkan warga Brasil membelanjakan uang lebih banyak di luar kebutuhan sehari-hari. Termasuk, pengeluaran untuk membeli bir.Anheuser-Busch InBev, produsen bir terbesar asal Belgia yang mengandalkan dua pertiga penjualannya di Brasil, ikut kecipratan untung. Perusahaan ini mencatat, volume bir yang terjual di Brasil pada Januari-Maret naik 11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Memang, AB InBev menyadari akan ada tantangan dari kenaikan pajak penjualan makanan-minuman di Brasil per 1 Juni yang akan menekan permintaan. Namun, permintaan di Negeri Samba diramal tetap lebih tinggi dibanding kawasan lain didorong perhelatan Piala Dunia yang digelar di Brasil Juni nanti. Alhasil, permintaan bir Budweiser, Stella Artois, Corona di Brasil mengalahkan permintaan di China yang naik 9,4%, ataupun di Amerika Serikat yang justru turun 2,6%. Sepanjang kuartal I-2014, penjualan AB InBev menanjak 8,9% dibandingkan setahun sebelumnya. Sedangkan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi naik menjadi US$ 3,88 miliar.Permintaan bir di Rusia

Kemeriahan yang terjadi di Brasil tak sampai ke Rusia. Meski dikenal sebagai konsumen utama produk minuman beralkohol, konflik dengan Ukraina membuat selera warga Rusia menggak bir ikut turun. 

Konflik menjadikan mata uang ruble melemah dan inflasi melesat di Rusia. Alhasil, rumah tangga memilih lebih berhati-hati menggunakan uang saat ini. Aturan pemerintah untuk menahan konsumsi minuman beralkohol juga ikut berkontribusi memangkas pangsa pasar bir di Negeri Beruang Merah ini. 


Carlsberg A/S asal Denmark, yang mengandalkan Rusia sebagai pasar terbesar birnya lewat Baltika dan Tuborg, alhasil tak terlalu optimis. Perusahaan memperkirakan, laba bersih hanya tumbuh low-single-digit di sepanjang tahun 2014, ketimbang perkiraan sebelumnya middle-single-digit.

Pesimisme Carlsberg terlihat dari kinerja kuartal pertama tahun ini. Carlsberg membukukan rugi bersih 50 juta kroner (US$ 9,21 juta), berbanding untung sebesar 95 juta kroner di periode kuartal I tahun lalu.

Sepanjang Januari-Maret lalu, volume bir Carlsberg naik 4% year on year, sedangkan penjualan naik 1,5% menjadi 12,9 miliar kroner lantaran tertolong aksi akuisisi. Angka penjualan tertekan rugi kurs di Rusia, Ukraina, Norwegia, Malaysia, dan Indonesia. Sebelumnya, produsen bir asal Belanda Heineken NV juga melaporkan penurunan laba bersih hingga 37%, dipicu penurunan permintaan di Rusia.

Editor: Sanny Cicilia