Brent dan WTI Diprediksi Melandai, Ini Proyeksi hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia diperkirakan masih menghadapi tekanan hingga akhir 2026. Brent dan West Texas Intermediate (WTI) berpeluang bergerak lebih rendah seiring pasar kembali berfokus pada kondisi pasokan dan permintaan setelah tekanan geopolitik mereda.

Berdasarkan data Bloomberg, harga Brent tercatat US$ 86,77 per barel, sedangkan WTI berada di US$ 80,51 per barel pada perdagangan Rabu (26/8/2026) pukul 14.09 WIB.

Founder Traderindo, Wahyu Laksono memperkirakan harga Brent dan WTI masih akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar dalam dua hingga tiga bulan mendatang, dengan kecenderungan menguji level yang lebih rendah.


Baca Juga: AS Berencana Buyback Obligasi, Bagaimana Dampaknya ke Yield SBN?

"Jika sentimen damai terus menguat, harga berpotensi melanjutkan pullback teknikal untuk menguji area support kuat di US$ 76–78 pada WTI dan US$ 82–84 pada Brent," kata Wahyu.

Untuk akhir 2026, Wahyu memproyeksikan WTI berada di kisaran US$ 70–90 per barel, sedangkan Brent US$ 75–95 per barel dalam skenario dasar.

Menurut Wahyu, rentang tersebut masih dapat melebar apabila terjadi perubahan signifikan pada kondisi geopolitik maupun pasokan global. Dalam skenario de-eskalasi total dan pasokan kembali normal, WTI berpotensi turun ke kisaran US$ 60–75 per barel. Adapun Brent diperkirakan berada di rentang US$ 65–80 per barel.

Sementara itu, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo melihat harga Brent cenderung bergerak lebih rendah hingga akhir 2026. Ia mengutip proyeksi J.P. Morgan yang memperkirakan harga Brent rata-rata berada di US$ 86 per barel pada kuartal III 2026, sebelum turun menjadi US$ 80 per barel pada kuartal IV dan mencapai US$ 78 per barel pada akhir tahun.

"Pasar sedang 'membuang' premi ketakutan perang yang sempat membuat harga melonjak tajam," ujar Sutopo.

Menurut Sutopo, pelemahan harga minyak dalam beberapa bulan ke depan akan semakin dipengaruhi oleh kondisi fundamental setelah risiko geopolitik mereda. EIA memperkirakan harga spot Brent berada di sekitar US$ 85 per barel pada kuartal III 2026, dengan asumsi gangguan pasokan melalui Selat Hormuz masih membatasi pasokan.

Namun, apabila ketegangan mereda dan persediaan mulai pulih, harga Brent diperkirakan turun secara bertahap. EIA memperkirakan harga Brent dapat menuju rata-rata US$ 69 per barel pada 2027 seiring pemulihan produksi penuh yang diperkirakan berlangsung pada awal 2027.

Dari sisi pasokan, surplus minyak global menjadi salah satu faktor yang berpotensi menekan harga. Sutopo menyebut surplus pasokan global sempat diperkirakan mencapai 3,7 juta barel per hari pada 2026 sebelum gangguan di Timur Tengah terjadi. Angka tersebut menjadi surplus terbesar sejak 2015–2016.

Produksi minyak mentah Amerika Serikat juga diperkirakan tetap tinggi. Berdasarkan proyeksi EIA yang dikutip Sutopo, produksi minyak mentah AS diperkirakan rata-rata mencapai 13,6 juta barel per hari pada 2026.

Selain pasokan, arah kebijakan produksi OPEC+ dan perkembangan permintaan global juga menjadi faktor yang perlu dicermati. Pelemahan permintaan dari China, khususnya, akan menjadi indikator penting untuk melihat seberapa jauh konsumsi minyak global dapat melemah tahun ini.

Sutopo menilai ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi membuat proyeksi harga antar-lembaga cukup lebar. Untuk Brent, sejumlah proyeksi menempatkan harga pada rentang US$ 60–95 per barel. EIA memperkirakan sekitar US$ 69–70 per barel, J.P. Morgan US$ 78 per barel, sedangkan Goldman Sachs memproyeksikan skenario lebih bearish di sekitar US$ 56 per barel.

Untuk WTI, LongForecast memperkirakan harga dapat berakhir di kisaran US$ 74–79 per barel, dengan rentang volatilitas antara US$ 76–98 per barel. Sementara itu, Goldman Sachs memproyeksikan WTI sekitar US$ 52 per barel dalam skenario bearish.

Baca Juga: Low Tuck Kwong Jajaki Penjualan BYAN, Wacana Diakusisi Haji Isam Makin Mencuat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News