KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah Brent kembali menembus level US$ 100 per barel pada perdagangan Rabu (9/9/2026). Kenaikan tersebut terjadi setelah eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu serangkaian serangan terhadap kapal tanker, meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dari Timur Tengah. Melansir
Reuters, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman terdekat naik US$ 3,04 atau 3,1% menjadi US$ 100,95 per barel pada pukul 13.39 waktu setempat. Harga Brent bahkan sempat menyentuh US$ 101,58 per barel.
Baca Juga: Pergeseran Tren Investasi Kalangan Superkaya Asia: Emas, Kripto & Malaysia Dipilih Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 2,75 atau 3% menjadi US$ 95,78 per barel. Harga tersebut merupakan level tertinggi sejak awal Juni. Kenaikan harga minyak kembali membawa Brent melewati ambang psikologis US$ 100 per barel. Sejak akhir Mei, harga minyak umumnya bergerak di bawah level tersebut karena pasar sebelumnya memperkirakan konflik Timur Tengah tidak akan berkembang menjadi gangguan pasokan yang lebih besar. Namun, perhitungan tersebut mulai berubah setelah serangkaian serangan kembali terjadi. Iran pada Rabu mengatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz. Sementara itu, AS menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran dalam eskalasi terbesar terhadap pelayaran sejak perang dimulai. “Pergerakan Brent menuju dan kembali di atas US$ 100 mencerminkan pasar yang semakin harus mengubah pandangannya mengenai berapa lama krisis Timur Tengah akan terus membatasi pasokan dari kawasan tersebut,” kata Ole Hansen, kepala strategi komoditas Saxo Bank.
Baca Juga: Iran Klaim Serang 10 Kapal di Selat Hormuz, Harga Minyak Brent Tembus US$100 Pasokan Selat Hormuz Tertekan Risiko pasokan menjadi perhatian utama pasar karena volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah level sebelum perang. Selat Hormuz merupakan jalur penting perdagangan energi global yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Data awal Kpler menunjukkan hanya enam kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Selasa. Jumlah tersebut turun dari sembilan kapal sehari sebelumnya dan berada di bawah rata-rata 10 hari sekitar 12 kapal. Menurut Claudio Galimberti, kepala ekonom Rystad Energy, sekitar 8 juta hingga 9 juta barel minyak per hari sempat mengalir melalui selat tersebut pada pekan sebelum pertempuran kembali pecah pada 30 Agustus. Angka tersebut dua kali lipat dibandingkan volume pada pekan sebelumnya. Namun, dalam periode terakhir, arus pengiriman turun hingga di bawah 2 juta barel per hari. “Tiba-tiba fundamental jangka pendek menunjukkan pasokan yang jauh lebih ketat, sementara serangan balasan antara AS dan Iran tampaknya akan menjadi kondisi yang terus berlangsung. Peluang kesepakatan damai juga semakin menjauh,” ujar Dennis Kissler, senior vice president energy trading BOK Financial.
Baca Juga: Investor ETF Amerika Lebih Pilih Obligasi Tenor Pendek, Mengapa? Harga Minyak Fisik Sudah di Atas US$ 100 Tekanan terhadap pasokan sebenarnya sudah tercermin di pasar minyak fisik. Harga dated Brent, yang menjadi acuan bagi sekitar dua pertiga pasokan minyak dunia, telah berada di atas US$ 100 per barel sejak 3 September berdasarkan data LSEG. Pasar minyak fisik biasanya merespons gangguan pasokan lebih cepat dibandingkan pasar berjangka karena pembeli membutuhkan pengiriman dalam waktu lebih dekat dan harus segera mencari alternatif kargo. Konsumen juga telah membayar harga yang setara dengan lebih dari US$ 100 per barel untuk produk minyak olahan seperti bensin dan solar sepanjang sebagian besar tahun ini. Konflik di berbagai wilayah telah memperketat kapasitas penyulingan global dan mendorong harga bahan bakar. Harga bensin di AS saat ini rata-rata sekitar US$ 4,22 per galon, sedangkan harga diesel berada pada level rekor dan mendekati US$ 6 per galon. Di Eropa, pasar bahan bakar juga masih sangat ketat. Harga kontrak berjangka diesel mendekati US$ 200 per barel, sementara margin pengolahan berada di level rekor akibat gangguan pasokan dari Selat Hormuz dan Rusia.
Baca Juga: Prancis Pangkas Pajak Perusahaan Besar dalam Anggaran 2027 Ancaman Meluas ke Laut Merah Risiko pasokan juga semakin besar setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang fasilitas energi Arab Saudi pada pekan ini dan memicu kebakaran di sejumlah instalasi minyak.
Serangan tersebut memperluas potensi gangguan dari pasokan minyak Iran ke infrastruktur energi serta jalur alternatif yang selama ini membantu menjaga aliran minyak dari kawasan Teluk. “Serangan Houthi terhadap fasilitas energi Saudi memperluas ancaman dan meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan dapat menyebar dari pasokan Iran ke infrastruktur serta jalur alternatif yang selama ini membantu menjaga aliran minyak Teluk,” kata Daniela Hathorn, senior market analyst Capital.com. Serangan tersebut juga mengancam pengiriman minyak melalui Laut Merah, yang selama ini menjadi salah satu jalur alternatif bagi perdagangan energi ketika akses melalui Selat Hormuz terganggu.
Baca Juga: Sebuah Kapal Tanker Minyak Dihantam Drone di Perairan Irak, Puluhan Lainnya Terjebak