KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) memastikan belum mengubah target pertumbuhan kredit tahun ini meski tekanan suku bunga masih membayangi industri perbankan. Perseroan tetap berpegang pada Rencana Bisnis Bank (RBB) yang telah disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, hingga saat ini BRI belum melihat kebutuhan untuk merevisi target penyaluran kredit. "Kami sampai hari ini masih
stick dengan RBB yang sudah kami sampaikan ke OJK, jadi belum ada perubahan," ujar Hery usai menghadiri OJK Banking Forum 2026, Selasa (14/7/2026).
Seperti diketahui sebelumnya, bank dengan kode saham
BBRI ini menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 7%–9% pada tahun ini.
Baca Juga: BTN Sebut Gelombang PHK Belum Berdampak Signifikan terhadap NPL Kredit Konsumer Adapun hingga Mei 2026, BRI berhasil membukukan kinerja laba bersih bank only mencapai Rp20,42 triliun, meningkat 9,52% secara tahunan (year on year / YoY), ditopang pertumbuhan kredit yang masih mencatatkan kenaikan dua digit. Berdasarkan laporan keuangan BRI, kenaikan laba juga ditopang oleh membaiknya pendapatan bunga bersih (
net interest income/NII). Meski pendapatan operasional turun tipis 0,07% menjadi Rp 66,77 triliun, beban bunga berhasil ditekan menjadi Rp 18,26 triliun dari Rp 21,33 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Alhasil, pendapatan bunga bersih tumbuh 6,64% menjadi Rp 48,50 triliun. Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit BRI mencapai Rp 1.417,19 triliun per Mei 2026 atau tumbuh 12,23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 8,6% secara tahunan menjadi Rp 1.546,44 triliun, sementara total aset naik menjadi Rp 2.073,12 triliun dari Rp 1.893,38 triliun pada Mei 2025. Hery menyebut, pertumbuhan kredit BRI hingga Mei 2026 masih ditopang oleh segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selain itu, kredit konsumer dan kredit pemilikan rumah (KPR) juga masih mencatatkan pertumbuhan positif.
Baca Juga: Laporan Judi Online Melonjak 260%, OJK Minta Bank Perkuat Pengawasan "Pendorongnya tetap UMKM, kemudian kredit konsumer juga tumbuh, KPR juga mengalami pertumbuhan. Di perusahaan anak seperti Pegadaian juga pertumbuhannya masih baik," katanya. Meski demikian, Hery mengakui industri perbankan masih menghadapi tekanan dari tingginya suku bunga yang berdampak terhadap kenaikan biaya dana (
cost of fund). Ia berharap kondisi suku bunga tinggi tidak berlangsung lama sehingga tidak semakin membebani industri perbankan. "Mudah-mudahan tekanan suku bunga yang tinggi ini tidak berlangsung terlalu lama," ujarnya. Di sisi lain, Hery menjelaskan, kenaikan biaya dana akibat meningkatnya tingkat suku bunga acuan tidak serta-merta langsung diteruskan ke bunga kredit.
Baca Juga: Komdigi Temukan Rekening Bank & Akun E-Wallet Terindikasi Judi Online, BCA Terbanyak Menurut dia, transmisi kenaikan biaya dana ke suku bunga kredit membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan. "Kalau
cost of fund naik hari ini, bukan berarti besok bunga kredit langsung naik. Proses transmisinya biasanya membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga bulan," jelas Hery. Dengan kondisi tersebut, BRI masih optimistis dapat menjaga pertumbuhan kredit sesuai target yang telah ditetapkan dalam RBB sembari terus mencermati perkembangan suku bunga dan kondisi ekonomi domestik. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News