KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) terus mengoptimalkan efisiensi biaya dana atau
cost of fund (CoF) di tengah ketidakpastian global. Strategi penguatan dana murah menjadi andalan untuk menjaga stabilitas likuiditas sekaligus menopang pertumbuhan bisnis. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi mengatakan, pergerakan suku bunga saat ini menjadi bagian dari respons industri perbankan dalam menghadapi dinamika global. Menurutnya, penetapan suku bunga dilakukan secara pruden dengan mempertimbangkan keseimbangan antara likuiditas, kualitas aset, serta pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Baca Juga: OJK Soroti Tantangan Asuransi Kendaraan Listrik “Kami memastikan pricing suku bunga tetap selaras dengan arah kebijakan moneter domestik serta kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang relatif solid,” ujarnya kepada kontan.co.id, Selasa (14/4/2026). Dari sisi pendanaan, BRI mencatat tren perbaikan biaya dana. Hingga akhir 2025, CoF dana pihak ketiga (DPK) BRI turun menjadi 2,87%, membaik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,07%. Perbaikan ini ditopang oleh pertumbuhan dana murah atau
current account saving account (CASA) yang solid. Total DPK BRI tercatat tumbuh 7,4% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp1.466,8 triliun. Adapun CASA tumbuh lebih tinggi, yakni 12,7% YoY, didorong oleh kenaikan giro sebesar 19,7% dan tabungan yang naik 7,9% secara tahunan. Dengan capaian tersebut, rasio CASA BRI meningkat menjadi 70,6%.
Baca Juga: ValueMax Klaim Transaksi Gadai Kembali Meningkat Usai Lebaran Capaian ini menunjukkan struktur pendanaan BRI semakin efisien dan berbasis dana murah. Untuk menjaga tren tersebut, BRI terus menjalankan transformasi melalui program BRIvolution Reignite, khususnya pada pilar penguatan funding franchise. Strategi ini difokuskan pada dua pendekatan utama, yakni memperbesar porsi dana murah serta meningkatkan kapabilitas
transaction banking. Di segmen ritel, BRI mengoptimalkan kanal digital seperti BRImo, BRILink, dan QRIS untuk mempercepat akuisisi dana murah. Penguatan juga dilakukan melalui pengembangan ekosistem pembayaran dan peningkatan pengalaman nasabah. Sementara itu, pada segmen SME dan
wholesale, BRI mengandalkan platform QLola untuk memperkuat layanan
cash management, trade finance, hingga
foreign exchange.
Hery menegaskan, strategi ini tidak hanya bertujuan menekan biaya dana, tetapi juga memperkuat posisi BRI sebagai bank transaksi utama bagi nasabah. “Melalui penguatan dana murah dan kapabilitas transaksi, kami ingin menjaga stabilitas likuiditas jangka panjang sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” jelasnya. Ke depan, BRI optimistis efisiensi biaya dana dapat terus terjaga seiring penguatan struktur pendanaan dan transformasi digital. Hal ini diharapkan menjadi penopang kinerja di tengah tekanan suku bunga dan ketidakpastian global. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News