KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mematok pertumbuhan kinerja yang lebih solid pada 2026 dengan fokus utama memperkuat pendanaan murah, menjaga ekspansi kredit secara selektif, serta memperbaiki kualitas aset. Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan, strategi tahun ini dimulai dari sisi funding. “Kalau kita bicara bisnis bank, itu mulainya dari funding dulu. Banking itu adalah
funding game,” ujar Hery saat paparan kinerja perseroan, Kamis (26/2). BRI menargetkan perbaikan struktur pendanaan dengan meningkatkan rasio dana murah atau
current account saving account (CASA). Sepanjang 2025, rasio CASA BRI melonjak dari sekitar 67,3% pada 2024 menjadi 70,6% pada akhir tahun 2025.
Baca Juga: Bank Sinarmas Resmikan Kantor Cabang Prioritas di Kelapa Gading “Kita ingin leading di sisi funding murah atau CASA ratio. Tahun lalu kita sudah buktikan peningkatannya signifikan, dan tren ini terus berlanjut,” ujarnya. Pertumbuhan dana murah didorong oleh optimalisasi
transaction banking, termasuk peningkatan produktivitas dan volume transaksi melalui BRImo, QRIS, EDC, serta jaringan BRIlink. Di sisi
wholesale, BRI juga mengoptimalkan
platform cash management dan trade seperti Kilola untuk mendorong transaksi korporasi. “Mesin
transaction banking ini kita optimalkan sekuat mungkin. Makin banyak user aktif dan volume transaksi, makin bagus untuk dana murah,” katanya. Dari sisi intermediasi, BRI memproyeksikan pertumbuhan kredit 2026 di kisaran 7%–9% secara tahunan. Ekspansi tetap difokuskan pada segmen UMKM, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang kini mencakup KUR perumahan. “Kita sangat selektif memilih sektor-sektor yang berkualitas. Harus memberikan yield yang baik, tapi tidak membawa risiko kualitas aset yang buruk,” tegasnya. Untuk menjaga kualitas kredit, BRI memperkuat manajemen risiko, terutama di segmen mikro dan small. Sepanjang 2025, perseroan membentuk subdirektorat retail tersendiri di bawah direktorat manajemen risiko serta memperkuat pengawasan di segmen
wholesale. Meski rasio kredit bermasalah (NPL) masih di kisaran 3%, manajemen menyebut kualitas booking baru terus membaik. “Di segmen large, NPL sudah turun sekitar 110 basis poin secara
year on year. Ini menunjukkan underwriting baru lebih baik,” jelasnya. Ke depan, BRI juga akan memperkuat fungsi collection, khususnya di segmen consumer dan mikro, guna menekan potensi kenaikan kolektibilitas. Dengan strategi tersebut, BRI optimistis pertumbuhan dana murah terus meningkat, biaya dana menurun, margin terjaga, dan kualitas kredit membaik. “Kita yakin 2026 akan lebih baik dibandingkan 2025,” pungkas Hery. Pada 2025 lalu, BRI membukukan laba sebesar Rp 57,13 triliun. Capaian tersebut susut 5,26% secara tahunan ata
u year on year (yoy) dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp60,30 triliun. Dari sisi fungsi intermediasi, kredit BRI secara konsolidasi mencapai sebesar Rp1.521,49 triliun, meningkat 12,31% yoy pada akhir tahun 2025. Adapun total aset BRI tercatat menjadi Rp2.135,37 triliun. Sementara itu dana pihak ketiga tercatat sebesar Rp1.466,84 triliun, pada periode akhir tahun 2025. Secara rinci, giro mencapai Rp448,20 triliun, meningkat 19,66% dari Rp374,55 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Bank Mandiri Sambut Positif Perpanjangan Penempatan Dana SAL Rp 200 Triliun Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News