BRI Targetkan Laba Bersih Rp 60 Triliun di 2024, Ini Kisi-Kisi Rencana Bisnisnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menyongsong tahun 2024, PT Bank Rakyat Indoensia Tbk (BBRI) sudah ancang-ancang pasang target laba bersih sejak dini. Tidak tanggung-tanggung, BRI membidik bisa mencetak laba bersih sebesar Rp 60 triliun pada tahun depan.

Direktur Utama BRI Sunarso juga menyebut proyeksi soal pembagian dividen untuk tahun buku 2024 yang diperkirakan bakal dibayar minimal 70% dari perolehan laba bersih yang diperoleh setahun penuh.

"Kalau 2024 misalnya kita bisa proyeksikan laba Rp 60 triliun atau berapa, kalau bisa 70% juga kita bagikan dalam bentuk dividen," kata Sunarso, Kamis (30/11).


Di sisi lain, Sunarso menyebut tahun depan pihaknya akan fokus pada capital management bank. Menurutnya tantangan BRI yang utama saat ini adalah leverage capital di level yang optimal.

Baca Juga: Siap Tebar Dividen Interim, BBRI Pastikan Akan Bagi Dividen Dua Kali Dalam Setahun

Dia juga menyebut jarang bank di dunia yang memiliki rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) optimal yang secara bersama mampu memberikan keuntungan bagi para pemegang saham denga Rasio return on equity (RoE) yang sehat.

Sebagai informasi, menurut regulator, tingkat CAR bank yang sehat paling minimal memiliki rasio 8%, sementara untuk tingkat ROE perbankan yang sehat minimal memiliki rasio 5%. 

Bank bisa dikatakan masuk kategori sehat secara kecukupan modal dan profitabilitas jika CAR dan ROE masing masing berdada di level minimal 9% dan 12,5%.

"Cari bank di dunia ini yang memilik CAR 27%, terus di saat yang bersamaan men-deliver ROE 20%. Rasanya sih jarang, ini bank di dunia ya. Namun demikian kami tetap sadar bahwa tantangan kami adalah mengoptimalkan kapital, management capital," kata Sunarso.

Saat ini BRI tengah menyusun rencana bisnis bank (RBB) yang dibahas terbatas secara internal. Direktur Manajemen Risiko BRI Agus Sudiarto mengatakan dengan memperhatikan ekonomi makro yang ada saat ini, pihaknya memproyeksikan tahun 2024 tidak akan lebih ringan dibandingkan dari tahun 2023.

"Maka guideline kami tidak akan bergeser agresif dari tahun ini untuk 2024, tentu harus tumbuh baik dari sisi kredit maupun bottom line-nya di tahun 2024, namun agresivitasnya tidak sebesar tahun 2023 ini," kata Agus.

Lebih rinci Agus menyebut fokus BRI di tahun 2024 salah satunya dalam penentuan kredit cost dan kualitas aset yang diupayakan lebih baik lagi dari saat ini.

"Credit cost akan lebih rendah dari 2,4%,  serta rasio kredit bermasalah (NPL) di kisaran, 2,8%-2,9%," tegasnya.

Adapun jika melihat per September 2023, Agus membenarkan adanya kenaikan rasio NPL, namun pihaknya optimis bisa membawa angka tersebut lebih rendah di akhir Desember 2024.

Baca Juga: Potensi Kenaikan NPL Setelah Relaksasasi Restrukturisasi Covid-19 Dicabut

"September 2023 memang masih lebih tinggi (NPL) 3,7% dari guideline kami yang dikisaran 2,8%-3%, namun kami di kuartal IV akan bekerja keras, sehingga angka itu akan bisa dideliver dan kita bawa lebih rendah lagi, sehinga guideline bisa kita deliver hingga akhir tahun 2023," jelas Agus.

Lebih lanjut BRI juga akan mendorong pertumbuhan bisnis bank secara organik dan anorganik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi