KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan lembaganya akan memfokuskan pengembangan sejumlah teknologi maju yang dinilai menjadi penentu daya saing Indonesia dalam dua hingga tiga dekade mendatang. Teknologi tersebut meliputi kecerdasan artifisial (
artificial intelligence/AI), semikonduktor, genomik, hingga teknologi kuantum. Menurut Arif, penguasaan teknologi strategis menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menjadi pengembang dan pemilik teknologi di masa depan.
“BRIN akan berfokus pada teknologi-teknologi maju yang akan menentukan daya saing negara dalam dua hingga tiga dekade ke depan,” ujarnya saat memaparkan arah pengembangan riset nasional di hadapan Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan bersama 150 periset BRIN di Istana Kepresidenan, Kamis (6/8).
Baca Juga: Data BPS Ungkap IKLHI Haji 2026 Tembus 83,28%, Menhaj Bidik Peningkatan Layanan Ia menjelaskan, salah satu fokus utama adalah pengembangan teknologi semikonduktor agar Indonesia tidak terus bergantung pada pasokan chip dari luar negeri. “Pertama, semikonduktor agar Indonesia tidak bergantung pada chip asing,” kata Arif. Selain itu, BRIN juga akan memperkuat pengembangan kecerdasan artifisial (AI) untuk meningkatkan produktivitas di berbagai sektor. Tak hanya itu, BRIN juga menjadikan teknologi genomik sebagai prioritas agar Indonesia mampu mengembangkan benih, obat-obatan, dan bioindustri secara mandiri. Sementara teknologi kuantum dipersiapkan untuk mendukung keamanan siber dan komputasi masa depan. “Ketiga, genomik agar kita mampu menghasilkan benih, obat, dan bioindustri sendiri. Keempat, teknologi kuantum untuk keamanan dan komputasi masa depan,” katanya. Arif menambahkan, selain empat bidang tersebut, BRIN tetap mengembangkan teknologi nuklir dan antariksa sebagai pengungkit kedaulatan di sektor energi, kesehatan, pangan, hingga pengawasan wilayah. “Penguasaan teknologi-teknologi inilah yang akan menentukan apakah Indonesia hanya menjadi pengguna teknologi atau menjadi pemilik teknologi di masa depan,” tegasnya.
Untuk mendukung agenda tersebut, BRIN bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi telah menyusun Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional 2026–2045. Dokumen tersebut akan menjadi acuan pengembangan ilmu pengetahuan agar selaras dengan RPJMN, mendukung implementasi Asta Cita, serta berbagai program prioritas nasional. Menurut Arif, melalui roadmap tersebut pemerintah ingin memastikan riset nasional tidak lagi berjalan sendiri-sendiri di masing-masing lembaga, melainkan menjadi gerakan nasional yang terintegrasi untuk memperkuat daya saing ekonomi dan teknologi Indonesia dalam jangka panjang.
Baca Juga: Prabowo Akan Bangun Sekolah Unggulan dengan Kurikulum Standar Internasional Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News