British American Tobbaco Berencana Pangkas 9.000 Karyawan



KONTAN.CO.ID - LONDON. British American Tobacco (BAT) mengumumkan rencana pengurangan jumlah karyawan. Dalam pernyataan resmi, Senin (29/6/2026), BAT menuturkan jumlah karyawan akan dikurangi sekitar 20%.

Langkah ini dilakukan seiring dengan upaya BAT mendorong program transformasi berbasis akal imitasi (AI), guna memangkas biaya dan meningkatkan keuntungan di tengah tantangan regulasi dan peluncuran produk yang tertunda.

Reuters melaporkan, perusahaan rokok raksasa tersebut mengatakan akan memangkas 5.500 pekerjaan. Selain itu, BAT juga berniat memindahkan 3.500 posisi lainnya ke perusahaan pihak ketiga, termasuk Accenture.


Baca Juga: British American Tobacco (BAT) Kerek Proyeksi Target Kinerja Berkat Outlook Vape

Dus, kebijakan ini berpotensi berdampak pada total 9.000 karyawan. Restrukturisasi ini tidak melibatkan posisi di Amerika Serikat, yang merupakan pasar terbesarnya.

BAT pada hari Senin mengatakan bahwa sebagian besar perubahan peran telah dikonfirmasi dengan karyawan, dengan konsultasi yang tersisa dilakukan sesuai dengan persyaratan lokal.

Program penghematan biaya tersebut diharapkan dapat menambah penghematan tambahan tahunan senilai £ 600 juta, sekitar Rp 14,16 triliun, pada 2028. Target penghematan mencapai £ 500 juta pada tahun 2027.

"Perubahan ini memengaruhi banyak kolega kami dan kami fokus untuk mendukung mereka melalui transisi ini dengan penuh perhatian dan hormat," kata Tadeu Marroco, CEO BAT, dalam sebuah pernyataan, seperti diberitakan Reuters, Senin (29/6/2026).

Baca Juga: Militer Israel Klaim Hancurkan Terowongan Hezbollah di Lebanon Selatan

Marroco menambahkan, langkah ini akan membuat perusahaan lebih gesit dan disiplin dalam hal biaya, didukung teknologi. Pertumbuhan penjualan dan laba produsen rokok Lucky Strike dan Dunhill ini lesu dalam beberapa tahun terakhir, jauh di bawah atau hanya mencapai targetnya sendiri. Realisasi tersebut mengecewakan beberapa investor.

Penggerak laba utama perusahaan, yakni segmen tembakau tradisional,  sedang mengalami penurunan performa drastis. BAT memprediksi penurunan global di seluruh industri sebesar 2,5% tahun ini.

BAT mengalihkan fokusnya ke rokok alternatif seperti vape Vuse dan kantong nikotin Velo untuk mendorong pertumbuhan. Tetapi perusahaan ini masih tertinggal dari pesaing utamanya, Philip Morris International.

Baca Juga: Malaysia Prediksi Gejolak Harga Energi Berlanjut Hingga Dua Tahun ke Depan

Penjualan BAT di pasar AS juga terhambat oleh regulasi setempat. Kondisi ini membuat peluncuran produknya tertunda.

Penjualan produk tembakau AS juga terpukul karena perokok beralih ke merek yang lebih murah di tengah melonjaknya biaya hidup, sementara BAT juga berjuang melawan kenaikan bea masuk, peraturan yang lebih ketat, dan perdagangan ilegal di tempat-tempat seperti Australia dan Bangladesh.