BRMS Klarifikasi Penyegelan Tambang Emas di Palu, Operasional CPM Tetap Normal
Rabu, 18 Februari 2026 05:36 WIB
Oleh: Dimas Andi | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta.. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) memberikan klarifikasi atas informasi yang beredar di sejumlah media massa terkait penyegelan konsesi tambang emas perseroan di Palu, Sulawesi Tengah. Manajemen BRMS membeberkan kondisi terkini di lapangan terkait kegiatan usaha penambangan emas yang dijalankan oleh anak usahanya, PT Citra Palu Minerals (CPM). Area Disegel Bukan Lokasi Operasional CPM
BRMS menjelaskan bahwa pemerintah melalui Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) menyegel satu titik area yang ditemukan adanya pembukaan lahan tanpa izin oleh penambang liar di kawasan hutan. Area yang disegel tersebut memang berada dalam wilayah kontrak karya yang dikelola CPM. Namun hingga saat ini, area tersebut belum ditambang maupun dioperasikan oleh CPM. “Lokasi tambang emas River Reef di Poboya, Palu yang saat ini sedang dioperasikan oleh CPM melalui metode penambangan terbuka (open pit mining) tetap berjalan normal seperti biasa,” tulis Manajemen BRMS dalam keterangan resmi, Senin (16/2/2026). Dengan demikian, aktivitas produksi utama perusahaan tidak terdampak oleh penyegelan tersebut. Baca Juga: Menakar Prospek Saham-Saham Energi di Tengah Penurunan Indeks Sektor Energi Kapasitas Pabrik Ditingkatkan Hingga 2.000 Ton per Hari Di sisi lain, BRMS tengah meningkatkan kapasitas salah satu fasilitas pemrosesan emas milik CPM dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari. Proyek peningkatan kapasitas tersebut ditargetkan rampung pada Oktober 2026. Ekspansi ini diharapkan berdampak signifikan terhadap kenaikan produksi emas BRMS sepanjang 2026. Peningkatan kapasitas ini juga memperkuat fundamental operasional BRMS di tengah dinamika industri pertambangan emas nasional. Tonton: Heboh Jokowi Dukung Revisi UU KPK, Banyak Kalangan Nilai Jokowi Justru Dalang Lemahnya KPK! Target Tambang Bawah Tanah Mulai Semester II-2027 Selain ekspansi pabrik, CPM juga menargetkan pengoperasian tambang emas bawah tanah pada semester II-2027. Tambang bawah tanah tersebut memiliki kandungan emas berkisar 3,5–4,9 gram per ton (g/t), yang dinilai cukup prospektif. Dengan kadar emas tersebut, produksi emas BRMS diperkirakan kembali meningkat pada akhir 2027 atau awal 2028.
Ke depan, kombinasi peningkatan kapasitas pabrik dan pengoperasian tambang bawah tanah diharapkan dapat memperkuat kinerja produksi dan mendukung pertumbuhan jangka panjang BRMS.
LIVE REPORT! Konfrensi Pers APBN Kita, Update kondisi terakhir APBN 2025