BRMS Rampungkan Portal Tambang Bawah Tanah, Genjot Produksi Emas hingga 2028



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) melaporkan kemajuan dalam konstruksi proyek tambang emas bawah tanah di Poboya, Palu, Sulawesi Tengah. Perusahaan menyatakan portal atau pintu masuk ke mulut tambang bawah tanah telah rampung dikerjakan.

Direktur Utama & Chief Executive Officer BRMS Agus Projosasmito mengatakan terowongan bawah tanah tersebut telah mencapai panjang lebih dari 975 meter dari portal dengan kedalaman 140 meter dari permukaan tanah. 

Selain itu, fasilitas shaft ventilasi udara pertama juga telah diselesaikan, sementara shaft kedua masih dalam tahap konstruksi dan ditargetkan rampung pada semester pertama 2027.


Baca Juga: Rupiah Dibayangi Gejolak Minyak & FOMC, Begini Proyeksi Pergerakannya Kamis (17/9)

Dengan progres tersebut, anak usaha BRMS, PT Citra Palu Minerals (CPM), diproyeksikan dapat mulai menambang bijih berkadar tinggi dengan kadar emas di atas 3,2 gram per ton, dari tambang bawah tanah pada pertengahan 2027. Di sisi lain, peningkatan kapasitas pabrik pengolahan emas dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari ditargetkan selesai pada awal 2027.

Lebih lanjut, pabrik emas baru dengan kapasitas 2.000 ton per hari, dan penambangan bijih berkadar tinggi dari lokasi tambang emas bawah tanah akan memungkinkan perusahaan untuk dapat terus meningkatkan produksi emas di tahun 2027 dan 2028.

Selain proyek emas di Palu, BRMS juga melaporkan perkembangan aktivitas eksplorasi tembaga di Gorontalo, Sulawesi. Anak usaha BRMS, PT Gorontalo Minerals (GM), saat ini mengoperasikan empat unit alat pengeboran eksplorasi di lokasi tambang Cabang Kiri East.

Pada tahun mendatang, GM berencana untuk mengoperasikan 7 alat pengeboran di 3 lokasi tambang di Gorontalo. Perusahaan menargetkan hasil pengeboran tersebut dapat dituangkan dalam bentuk sumber daya mineral tembaga pada semester pertama 2027.

”Kami cukup puas dengan kemajuan operasional kami. Terlepas dari faktor-faktor makro dan eksternal yang dapat mempengaruhi harga dan permintaan emas di pasar domestik, kami tetap percaya terhadap fundamental BRMS yang kuat. Operasi pushback di Poboya, Palu sudah berhasil diselesaikan di bulan Juli lalu. Oleh karenanya produksi emas dari tambang terbuka kami diharapkan akan meningkat di semester kedua-2026.” kata Agoes dalam keterangannya, Rabu (16/9/2026).

Adapun hingga perdagangan Rabu (16/9/2026), harga saham BRMS berada di level 730 per saham atau melemah 0,68% dari perdagangan sebelumnya. Secara tahun berjalan, harga saham ini juga terkoreksi 33,64%.

Baca Juga: Penawaran SR025 Berakhir Hari Ini (16/8), Kuota Belum Terserap Penuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News