BSI Andalkan Bisnis Emas untuk Menopang Pertumbuhan Pembiayaan Konsumer



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) memastikan pembiayaan segmen konsumer masih mencatatkan pertumbuhan sesuai target perusahaan.

Direktur Utama Anggoro Eko Cahyo mengatakan, portofolio pembiayaan BSI hingga saat ini masih didominasi segmen konsumer. Sekitar 56% total pembiayaan perseroan berasal dari segmen tersebut, sementara pembiayaan korporasi mencapai 28% dan sisanya berasal dari segmen ritel.

"Di situasi yang sekarang ini pertumbuhan di consumer masih tetap sesuai dengan rencana kerja kami. Karena itu target dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) masih kami yakini bisa tercapai," ujar Anggoro di Jakarta, Rabu (1/7).


Baca Juga: MSIG Life Sebut Porsi Premi dari Produk Unitlink Sebesar 37% pada Kuartal I-2026

Ia menambahkan, salah satu mesin pertumbuhan baru pembiayaan konsumer berasal dari bisnis bullion, terutama melalui produk cicil emas yang mulai memberikan kontribusi signifikan terhadap ekspansi pembiayaan perseroan.

"Di consumer ini salah satu engine baru kami adalah bullion, yaitu cicil emas. Itu menjadi salah satu engine baru dan jumlahnya cukup besar," katanya.

Tren bisnis emas BSI sendiri masih menunjukkan pertumbuhan sepanjang awal 2026. Perseroan menilai emas tetap menjadi instrumen investasi syariah yang diminati masyarakat karena dinilai mampu menjaga nilai aset di tengah tekanan inflasi.

Saat ini BSI memiliki sejumlah lini bisnis emas, mulai dari layanan Bullion Bank melalui BSI Emas hingga produk cicil emas dan gadai emas. Melalui aplikasi BYOND by BSI, nasabah dapat membeli emas fisik secara digital, menabung emas mulai Rp50.000, bertransaksi secara real time, hingga mencetak emas fisik mulai 2 gram.

Dalam waktu sekitar satu tahun, jumlah nasabah BSI Emas telah bertambah lebih dari 1 juta rekening.

Sementara itu, pembiayaan cicil emas mencatatkan pertumbuhan 97,9% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp16,93 triliun hingga April 2026. Di sisi lain, pembiayaan gadai emas juga melonjak 100% secara tahunan menjadi Rp13 triliun, dengan rata-rata sekitar 120.000 transaksi setiap bulan.

Menurut Anggoro, peningkatan transaksi gadai emas umumnya dipicu oleh meningkatnya kebutuhan dana masyarakat menjelang tahun ajaran baru sekolah. Adapun tingginya pertumbuhan cicil emas menunjukkan semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan emas sebagai instrumen diversifikasi investasi untuk tujuan keuangan jangka menengah dan panjang.

Ia pun memproyeksikan bisnis emas masih akan terus bertumbuh pada tahun ini seiring tingginya minat masyarakat terhadap investasi emas sebagai aset lindung nilai untuk jangka menengah hingga panjang.

Baca Juga: Perkuat Kepercayaan Publik, Begini Strategi Askrindo

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News