BSI (BRIS) Bidik Free Float 21% Lewat Rights Issue, Modal Bisa Bertambah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menerbitkan hingga 6,8 miliar saham baru Seri B dinilai dapat menjadi langkah strategis untuk memenuhi ketentuan minimum free float sekaligus memperkuat permodalan bank.

Analis CGS Sekuritas Indonesia Handy Noverdanius dalam riset 30 September 2026 mengatakan, harga pelaksanaan dan jadwal final rights issue BRIS masih belum diumumkan. Namun, berdasarkan prospektus, seluruh dana yang diperoleh akan digunakan untuk memperkuat permodalan dan meningkatkan kapasitas penyaluran pembiayaan.

BRIS menargetkan aksi korporasi tersebut dapat dilaksanakan dan diselesaikan pada kuartal I 2027, dengan terlebih dahulu memperoleh persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 6 November 2026.


Baca Juga: Kredit Sindikasi Melonjak 36,9%, Tembus Rp 456 Triliun hingga Awal Oktober 2026

Handy menilai salah satu tujuan utama rights issue tersebut adalah memenuhi ketentuan baru mengenai minimum free float. BRIS saat ini memiliki free float sekitar 9,9% dan diwajibkan meningkatkan porsinya menjadi 12,5% pada 2027 dan 15% pada 2028.

Dengan penerbitan maksimal 6,8 miliar saham baru, porsi free float BRIS bahkan berpotensi meningkat jauh lebih tinggi.

Berdasarkan perhitungan CGS Sekuritas, apabila pemegang saham utama BRIS yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tidak mengambil bagian sama sekali dalam rights issue, kepemilikan ketiganya akan terdilusi.

Saat ini, BMRI memiliki sekitar 51,5% saham BRIS, BBNI 23,2%, dan BBRI 15,4%. Setelah rights issue, kepemilikan masing-masing berpotensi turun menjadi sekitar 44,9%, 20,3%, dan 13,4%.

Dengan demikian, kepemilikan gabungan ketiga bank BUMN tersebut berpotensi turun dari sekitar 90,1% menjadi 78,5%.

Di sisi lain, porsi free float BRIS berpotensi meningkat dari sekitar 9,9% menjadi sekitar 21%, dengan asumsi seluruh saham baru yang diterbitkan nantinya masuk ke dalam kategori free float.

Pemegang saham yang tidak berpartisipasi dalam rights issue juga berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga 12,85%, berdasarkan prospektus.

Selain memenuhi ketentuan free float, aksi korporasi tersebut diperkirakan memberikan tambahan kapasitas permodalan bagi BRIS.

Baca Juga: OJK: Digitalisasi dan Keamanan Jadi Kunci Pengembangan Bank Syariah

Manajemen memproyeksikan ekuitas BRIS meningkat dari Rp 51,07 triliun pada 2026 menjadi Rp 64,41 triliun pada 2027. Artinya, ekuitas diperkirakan bertambah Rp 13,34 triliun atau sekitar 26,1%.

Kenaikan basis modal tersebut diperkirakan mendorong rasio kecukupan modal atau CAR naik 293 basis poin dari 20,38% pada 2026 menjadi 23,31% pada 2027.

Menurut Handy, penguatan permodalan ini dapat mempercepat ambisi BRIS untuk naik ke kelompok KBMI 4, yakni kelompok bank dengan modal inti di atas Rp 70 triliun.

Meski demikian, kenaikan ekuitas yang cukup besar juga berpotensi menimbulkan tekanan terhadap return on equity (ROE) dalam jangka pendek. Pasalnya, basis ekuitas akan meningkat lebih dulu sebelum seluruh dana hasil rights issue tersalurkan ke pembiayaan yang menghasilkan tambahan imbal hasil.

Di sisi lain, CGS Sekuritas melihat peluang peningkatan dividend payout setelah rights issue. Hal ini mempertimbangkan dividend payout ratio BRIS pada 2025 yang masih berada di level sekitar 20%.

Handy menilai rencana rights issue dapat menjadi overhang bagi saham BRIS dalam jangka pendek. Pasalnya, investor masih menunggu kepastian harga pelaksanaan, jumlah saham yang benar-benar diterbitkan serta partisipasi pemegang saham utama.

BRIS sebelumnya juga pernah melakukan rights issue pada Desember 2022 dengan harga pelaksanaan Rp 1.000 per saham. Aksi korporasi tersebut berhasil menghimpun dana sekitar Rp 4,99 triliun.

Terlepas dari potensi tekanan sentimen akibat rights issue, CGS Sekuritas mempertahankan rekomendasi Add untuk saham BRIS.

Rekomendasi tersebut ditopang oleh pertumbuhan pembiayaan yang masih kuat, terutama pada segmen konsumer, serta kualitas aset yang dinilai solid.

CGS Sekuritas juga mempertahankan target harga BRIS di Rp 2.600 per saham berdasarkan metode Gordon Growth Model (GGM), dengan asumsi ROE 17,2%, cost of equity (CoE) 14,3%, dan terminal growth 11%.

Adapun katalis yang berpotensi mendorong re-rating saham BRIS antara lain net interest margin (NIM) yang lebih baik dari perkiraan serta perbaikan efisiensi operasional.

Sebaliknya, risiko penurunan berasal dari meningkatnya biaya dana atau funding cost yang dapat menekan NIM, serta potensi memburuknya kualitas aset pada segmen konsumer.

Baca Juga: Aset Industri Penjaminan Turun 5,17%, Asippindo Optimistis Pulih pada Kuartal IV-2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News