KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mencatat kinerja positif pada semester I 2026. Pertumbuhan laba tetap terjaga di tengah kondisi likuiditas industri perbankan yang masih ketat. Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, hingga Juni 2026 BSI membukukan laba sebesar Rp 4,16 triliun atau tumbuh 11,08% secara tahunan. “Pertumbuhan kinerja ini didukung oleh pertumbuhan neraca yang berkualitas dan sustain,” ujar Anggoro dalam paparan kinerja BSI, Jumat (21/8/2026).
Baca Juga: Asei Sebut Perlindungan Bencana Perlu Diperluas, Seiring Adanya Risiko Gempa & Iklim Dari sisi neraca, total aset BSI mencapai Rp 464,5 triliun atau tumbuh 15,96% secara
year on year (yoy). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh dana pihak ketiga (DPK) yang meningkat 21,81% yoy menjadi Rp 393 triliun. Khusus tabungan, BSI mencatat pertumbuhan 22,32% yoy menjadi Rp 173 triliun. Pertumbuhan dana murah tersebut turut menopang efisiensi biaya dana bank. Dus,
cost of fund (CoF) BSI turun 49 basis poin menjadi 2,19%. Di sisi lain, fungsi intermediasi juga tetap berjalan dengan baik dengan total pembiayaan mencapai Rp 340 triliun, tumbuh 15,98% yoy dengan kualitas yang terjaga. Rasio
non-performing financing (NPF)
gross berada di level 1,8%, sementara NPF
net sebesar 0,33%. Adapun
cost of credit (CoC) membaik menjadi 0,62%. Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menambahkan, di tengah tekanan likuiditas industri perbankan, pihaknya juga mengandalkan pertumbuhan pendapatan berbasis komisi atau fee based income. Dalam periode ini,
fee based income BSI tumbuh sekitar 38,6% yoy menjadi lebih dari Rp 4 triliun pada semester I-2026. Ade bilang peningkatan kontribusi pendapatan non-margin menjadi penting ketika persaingan likuiditas berpotensi menekan margin perbankan. “Di tengah situasi likuiditas yang ketat, persaingan likuiditas akan berdampak terhadap tertekannya margin perbankan. Kami beruntung dengan nasabah yang banyak dan produk-produk unik syariah maupun emas, BSI bisa mendapatkan sumber
revenue yang non-margin,” Ade.
Baca Juga: OJK Beri Izin Perubahan Nama Perusahaan Perseroan PT Asuransi Jasa Indonesia Salah satu penopang utama fee based income berasal dari bisnis emas. Bisnis emas BSI tumbuh agresif, dengan outstanding mencapai Rp30,5 triliun atau naik 80,52% yoy. Selain bisnis emas, aktivitas treasury dan layanan digital juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan berbasis komisi. Penggunaan aplikasi BYOND by BSI turut mendorong pertumbuhan fee based income dari kanal elektronik yang meningkat lebih dari 35%. Dari sisi bisnis emas, jumlah nasabah tabungan emas BSI telah menembus lebih dari 1,2 juta orang. Sementara nasabah gadai emas mencapai lebih dari 200.000 dan cicil emas sekitar 600.000 nasabah. Pertumbuhan bisnis tersebut berjalan beriringan dengan ekspansi jumlah nasabah. Pada semester I 2026, BSI berhasil mengakuisisi sekitar 1,1 juta nasabah baru, sehingga total nasabah mencapai 24,3 juta. BSI melihat peningkatan jumlah nasabah menjadi salah satu faktor yang memperkuat pertumbuhan neraca dan profitabilitas. Selain perbaikan teknologi setelah
upgrade core banking pada kuartal II 2026, pertumbuhan juga didorong oleh pengembangan ekosistem bank syariah dan bisnis emas. “Kemampuan BSI untuk melakukan akuisisi nasabah yang sangat agresif membuat dampak makro ekonomi yang berat bisa relatif berada dalam kondisi yang lebih baik,” kata Anggoro.
Adapun sejumlah segmen bisnis syariah BSI juga menunjukkan pertumbuhan. Tabungan haji mencapai sekitar Rp 16,7 triliun atau tumbuh 17,21% yoy. Sementara jumlah nasabah payroll mencapai 1,85 juta dan nasabah prioritas mendekati 80.000.
Baca Juga: Asbanda Minta BPD Perlu Level Playing Field, Bukan Proteksi dari Persaingan Anggoro menambahkan, pertumbuhan bisnis yang kuat akan terus didukung pengembangan infrastruktur untuk meningkatkan kualitas layanan bagi sekitar 24,3 juta nasabah BSI. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News