KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) berencana melakukan penambahan modal melalui
rights issue atau Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PMHMETD II). BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) memandang aksi ini sejalan dengan kebutuhan perusahaan. Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), emiten bank berkode saham BRIS ini menyampaikan rencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 6,8 miliar saham baru Seri B dengan nilai nominal Rp 500 per saham. Aksi korporasi ini disiapkan untuk memperkuat permodalan sekaligus meningkatkan kapasitas penyaluran pembiayaan. Harga pelaksanaan dan jumlah final saham yang akan diterbitkan belum ditetapkan. Ketentuan tersebut akan disampaikan lebih lanjut dalam prospektus PMHMETD II.
Baca Juga: Mau Ada Aksi Korporasi, BTN Telaah Terbatas Laporan Keuangan Kuartal III-2026 Pemegang saham BSI akan dimintai persetujuan atas rencana tersebut dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 6 November 2026. Jika seluruh tahapan terpenuhi dan pernyataan pendaftaran dinyatakan efektif oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pelaksanaan
rights issue ditargetkan rampung pada kuartal I 2027. BSI menyatakan seluruh dana yang diperoleh dari
rights issue, setelah dikurangi biaya emisi, akan digunakan untuk penyaluran pembiayaan dalam rangka mendukung pertumbuhan usaha perusahaan. Dari sisi permodalan, manajemen memproyeksikan permodalan untuk mendukung bisnis meningkat dari Rp 51,07 triliun pada 2026 menjadi Rp 64,41 triliun pada 2027. Sementara itu, rasio kecukupan modal atau
capital adequacy ratio (CAR) diproyeksikan meningkat dari 20,38% menjadi 23,31%. Penguatan modal tersebut juga disiapkan untuk mendukung peningkatan kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) BSI sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Di sisi lain, pemegang saham yang tak melaksanakan haknya dalam
rights issue berpotensi mengalami dilusi kepemilikan maksimal 12,85%. BRIDS menjelaskan, rencana
rights issue BSI sejalan dengan kebutuhan pendanaan untuk menopang ekspansi pembiayaan. Per Agustus 2026, rasio pembiayaan terhadap kredir (
financing to deposit ratio/FDR) BRIS tercatat 88,4%, sementara biaya dana (
cost of fund/CoF) berada di level 2,8%.
Baca Juga: BSI (BRIS) Siapkan Rights Issue Maksimal 6,8 Miliar Saham Level CoF tersebut disebut mendekati posisi tertinggi sejak 2022. Pada saat yang sama, pembiayaan BRIS tumbuh sekitar 16% secara tahunan. BRIDS memandang positif aksi ini. "Tambahan modal memberi ruang ekspansi tanpa sepenuhnya bergantung pada DPK yang makin mahal," demikian tertulis dalam riset 1 Oktober 2026. Meski demikian, terdapat sejumlah hal yang perlu dicermati investor, terutama harga pelaksanaan
rights issue dan komitmen pemegang saham pengendali dalam aksi korporasi tersebut. BRIDS menyebut harga pelaksanaan dengan diskon besar terhadap harga pasar berpotensi menekan
theoretical ex-rights price (TERP). Selain itu,
return on equity (ROE) juga berpotensi terdilusi sementara sebelum tambahan modal tersebut tersalurkan ke pembiayaan dan mulai menghasilkan pendapatan.
Di sisi lain, proyeksi kenaikan ekuitas BSI menjadi Rp 64,41 triliun pada 2027 tak dapat dijadikan dasar untuk memperkirakan harga pelaksanaan rights issue. Pasalnya, proyeksi tersebut juga telah memperhitungkan laba yang diproyeksikan diperoleh BSI pada 2027. Adapun besaran dana yang akan dihimpun BSI juga masih bergantung pada harga pelaksanaan dan jumlah saham baru yang akhirnya diterbitkan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News