BSI Pimpin Laba Bank Syariah 2025, Siapa Tumbuh Paling Kencang?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS) yang telah merilis laporan keuangan 2025 mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun lalu. Pertumbuhan laba, ekspansi pembiayaan, hingga penguatan dana pihak ketiga (DPK) menjadi indikator utama solidnya industri perbankan syariah di tengah dinamika ekonomi.

Lantas, bank syariah mana yang mencatatkan performa paling unggul pada 2025?

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Cetak Laba Terbesar

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menjadi bank syariah dengan capaian laba terbesar pada 2025. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 7,56 triliun, tumbuh 8,02% secara tahunan (year on year/YoY).


Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang meningkat 9,92% YoY menjadi Rp 19,04 triliun. Selain itu, pendapatan berbasis komisi melonjak 25,06% YoY menjadi Rp 6,89 triliun, dibandingkan Rp 5,51 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi intermediasi, penyaluran pembiayaan BSI mencapai Rp 318,84 triliun atau tumbuh 14,49% dibandingkan 2024 sebesar Rp 278,48 triliun. Sementara penghimpunan dana masyarakat meningkat 16,20% menjadi Rp 380,48 triliun dari Rp 327,45 triliun pada tahun sebelumnya.

Baca Juga: BCA Syariah Siapkan Produk Valas, Meluncur Tahun Ini!

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyatakan kinerja positif tersebut akan terus dijaga pada 2026 melalui strategi yang telah dibangun sejak 2025, termasuk penguatan fokus bisnis dan perluasan ekosistem syariah.

"Sebagai bank BUMN berbasis syariah, BSI memposisikan diri melengkapi segmen bank Himbara lain. Jika Bank Mandiri fokus pada wholesale, BRI pada UMKM, BNI pada retail internasional, dan BTN pada pembiayaan perumahan, BSI menitikberatkan pada consumer banking berbasis Islamic ecosystem," ungkap Anggoro saat paparan kinerja perseroan beberapa waktu lalu.

Ke depan, BSI menegaskan akan tetap fokus pada pembiayaan konsumer dan retail, memanfaatkan hubungan wholesale korporasi sebagai pintu masuk ekosistem rantai pasok.

"Strategi tersebut diharapkan memperkuat peran BSI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperluas penetrasi keuangan syariah di Indonesia," kata Anggoro.

Dengan strategi tersebut, BSI juga optimistis mampu mencatat pertumbuhan kinerja double digit pada 2026, baik dari sisi pembiayaan, dana pihak ketiga (DPK), maupun profitabilitas.

"Optimisme ini ditopang oleh kondisi likuiditas yang relatif terjaga, penguatan ekosistem syariah, serta peluang bisnis emas yang dinilai semakin prospektif," imbuhnya.

PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) Jaga Profitabilitas Tinggi

PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) membukukan laba bersih Rp 1,20 triliun hingga akhir 2025 atau tumbuh 13,15% YoY.

Pendapatan setelah distribusi bagi hasil memang turun 3,35% YoY menjadi Rp 4,73 triliun. Namun, pendapatan komisi tumbuh 17,96% YoY menjadi Rp 1,73 miliar. Penurunan beban operasional sebesar 11,36% YoY menjadi Rp 3,11 triliun turut menopang kinerja, terutama karena impairment menyusut 39,23% YoY menjadi Rp 826,29 miliar.

Baca Juga: Laba BTPN Syariah Melesat 13%, Simak Rahasia Kualitas Pembiayaannya

Penyaluran pembiayaan BTPS tercatat Rp 10,35 triliun. Rasio profitabilitas tetap kuat dengan Return on Assets (RoA) 7,2% dan Capital Adequacy Ratio (CAR) 57,7%. Dana simpanan wadiah juga tumbuh 7,27% YoY menjadi Rp 2,27 triliun.

PT Bank BCA Syariah Tumbuh Agresif

PT Bank BCA Syariah membukukan laba bersih Rp 212 miliar sepanjang 2025 atau meningkat 15,4% YoY.

Kenaikan laba didorong oleh income financing sebesar Rp 938 miliar (tumbuh 16% YoY) serta treasury income yang meningkat 25% YoY. Penyaluran pembiayaan melonjak 23,1% YoY menjadi Rp 13,2 triliun, dengan total aset mencapai Rp 19,2 triliun atau tumbuh 15%.

DPK juga naik sekitar 17% menjadi Rp 15,4 triliun.

Direktur BCA Syariah Pranata menyampaikan, bahwa mesin utama pertumbuhan laba tahun 2025 adalah optimalisasi pendapatan di sektor riil dan manajemen keuangan yang efisien.

"Pertumbuhan laba ini banyak disumbangkan oleh kenaikan pendapatan dari penyaluran pembiayaan kita, kemudian dari aktivitas treasury," ungkap Pranata.

Pada 2026, BCA Syariah menargetkan pertumbuhan double digit untuk aset, pembiayaan, dan laba melalui penguatan digitalisasi dan inovasi produk.

"Dengan fondasi kinerja yang solid dan berkelanjutan, BCA Syariah optimistis mampu terus tumbuh di tengah tantangan ekonomi ke depan," imbuhnya.

PT Bank Permata Tbk (UUS) Laba Melonjak

Unit Usaha Syariah PT Bank Permata Tbk (BNLI) meraih laba bersih Rp 1 triliun pada 2025, melonjak 160,63% YoY dari Rp 387,34 miliar.

Pertumbuhan laba ditopang kenaikan pendapatan setelah distribusi bagi hasil sebesar 6,40% YoY menjadi Rp 1,24 triliun serta lonjakan pendapatan lainnya 934,99% YoY.

Meski pembiayaan bagi hasil turun 9,64% YoY menjadi Rp 21,26 triliun, kualitas aset membaik. NPF gross turun menjadi 1,19% dari 1,39%, sedangkan NPF net menyusut ke 0,39% dari 0,67%.

Baca Juga: Laba BTPN Syariah Melesat 13%, Simak Rahasia Kualitas Pembiayaannya

Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli menyatakan komitmen menjaga pertumbuhan berkelanjutan di tengah dinamika industri.

“Kami meyakini bahwa pertumbuhan berkelanjutan tidak semata ditentukan oleh skala, melainkan oleh relevansi, dengan menjadi bank pilihan utama nasabah untuk memenuhi kebutuhan keuangan sehari -hari, bisnis, dan keluarga mereka,” kata Meliza.

PT Bank OCBC NISP Tbk (UUS) Tertekan Beban Impairment

Unit Usaha Syariah PT Bank OCBC NISP Tbk mencatat laba Rp 68,31 miliar pada 2025, turun 16,85% YoY dari Rp 82,15 miliar.

Penurunan laba dipicu kenaikan beban impairment 120,84% menjadi Rp 30,73 miliar. Beban operasional lainnya juga naik 5,64% menjadi Rp 231,59 miliar.

Meski demikian, pendapatan operasional dari penyaluran dana meningkat 12,95% YoY menjadi Rp 1,08 triliun. Pembiayaan tercatat Rp 5,7 triliun, turun 6,23% YoY.

Kepala Unit Usaha Syariah OCBC, Mahendra Koesumawardhana, menegaskan fokus pada pembiayaan konsumer khususnya sektor perumahan.

"Ke depan, OCBC Syariah berupaya memperbaiki kinerja pembiayaan pada 2026 dengan strategi yang lebih selektif serta fokus pada segmen yang dinilai memiliki kualitas risiko lebih baik. Langkah ini diharapkan dapat menjaga kualitas aset sekaligus mendorong pertumbuhan bisnis yang lebih sehat," kata Mahendra.

Selanjutnya: Inovasi Tanpa Henti: Kepemimpinan Huawei di Smartphone Lipat

Menarik Dibaca: Kadar Asam Urat Tinggi? Coba 5 Minuman Ini Tiap Pagi!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News