BSI Prediksi FDR Berada di Kisaran 89% Begitu Dana SAL Ditarik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) memastikan kesiapan likuiditas menghadapi rencana penarikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) oleh pemerintah pada September 2026.

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo mengaku pihaknya telah mempersiapkan likuiditas untuk mengantisipasi penarikan dana tersebut. Pada dasarnya, kata Anggoro, kunci kesiapan bank adalah adanya pemberitahuan yang cukup dari pemerintah terkait waktu penarikan.

“Selama ditariknya itu pemberitahuannya cukup waktu, ya kita harus siap. Kita selalu siapkan,” ujar Anggoro saat ditemui wartawan, dikutip Minggu (23/8/2026).


Anggoro mengatakan persoalan penarikan dana SAL sebelumnya sempat menjadi perhatian karena pemberitahuan yang diterima perbankan terlalu dekat dengan waktu penarikan. Namun, dengan adanya pemberitahuan yang lebih awal, persiapan likuiditas dapat dilakukan dengan lebih baik.

Baca Juga: BTN Siap Setor Balik Dana SAL pada September 2026, Likuiditas Dipastikan Terjaga

“Yang kemarin ramai itu kan karena penarikannya terlalu dekat, mendadak, pemberitahuan terlalu mendadak. Sekarang kalau sudah diberitahu lebih lama, insyaallah kita siap,” jelasnya.

Dari sisi likuiditas, Anggoro menyebut rasio pembiayaan terhadap pendanaan (financing to deposit ratio/FDR) BSI masih bakal ada di bawah 90% setelah sebagian dana SAL ditarik pemerintah.

Sebagai informasi, hingga Juni 2026, FDR BSI ada di posisi 86,41%. “Enggak sampai 90% (setelah ditarik). Karena memang kita sudah persiapkan. Kira-kira 89%,” kata Anggoro.

Baca Juga: Pemerintah Akan Tarik Dana SAL dari Himbara, Bagaimana Efek ke Likuiditas Bank?

Ia menambahkan, penarikan dana SAL pada September nantinya dilakukan secara bertahap. Saat ini, pihaknya masih menunggu pemberitahuan resmi dari pemerintah terkait waktu tepatnya.

“Ya sebagian-sebagian. Belum tahu (minggu ke berapa), tergantung surat dari mereka nanti,” ujarnya.

Di sisi lain, Anggoro menjelaskan bahwa strategi likuiditas BSI lebih banyak diarahkan untuk mendukung penyaluran pembiayaan ketimbang menempatkan dana dalam instrumen surat berharga.

Selama paruh awal tahun, pertumbuhan pembiayaan BSI mencapai 15,98% secara tahunan menjadi Rp 340 triliun. Di saat yang sama, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) mencapai 21,81% secara tahunan menjadi Rp 393 triliun.

Baca Juga: OJK Optimistis Likuiditas Bank Tetap Longgar Jelang Penarikan Dana SAL dari Himbara

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News