KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI terus menggenjot bisnis emas sebagai salah satu motor utama penghasil fee based income (FBI). Hingga kuartal I-2026, fee based income BSI tercatat mencapai Rp 2,09 triliun atau tumbuh 22,30% secara tahunan (year on year/yoy). Kontribusi FBI terhadap total pendapatan perseroan juga meningkat menjadi 22,98%. Direktur Finance and Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho, mengungkapkan bahwa bisnis emas menjadi penyumbang terbesar FBI perseroan. Kontribusinya mencapai 33,69% atau setara Rp 705 miliar, melonjak 125% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Bisnis emas menjadi penyumbang terbesar fee based income BSI,” ujar Ade saat paparan kinerja perseroan, Selasa (12/5/2026).
Baca Juga: BSI Salurkan Pembiayaan Berkelanjutan Rp75,3 Triliun hingga Maret 2026 Kinerja positif tersebut tercermin dari pertumbuhan pembiayaan gadai emas yang naik 58,3% secara tahunan. Di sisi lain, layanan digital E-mas melalui aplikasi BYOND mencatatkan lonjakan transaksi yang sangat signifikan hingga lebih dari 2.700%. BSI juga mencatat jumlah nasabah tabungan emas telah mencapai 1 juta nasabah per April 2026. Pencapaian ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap investasi emas, khususnya melalui layanan syariah yang semakin mudah diakses secara digital. Ade menegaskan, strategi utama perseroan dalam mengembangkan bisnis emas bukan sekadar memanfaatkan fluktuasi harga emas jangka pendek. BSI lebih berfokus membangun budaya menabung emas di tengah masyarakat. “Secara fundamental strategi yang ingin kita jalankan di Bank Syariah Indonesia adalah memberikan akses dan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat Indonesia untuk dapat memiliki dan mulai menabung emas,” katanya. Menurut Ade, BSI ingin mengedukasi masyarakat agar investasi emas dipandang sebagai instrumen persiapan keuangan jangka menengah dan panjang. Salah satu tujuan yang didorong ialah menjadikan emas sebagai bagian dari persiapan dana ibadah haji.
Baca Juga: Dana Kelolaan Tabungan Haji BSI Tumbuh 14,68% Jadi Rp 15,65 Triliun Kuartal I-2026 Karena itu, indikator utama yang dikejar perseroan adalah peningkatan jumlah nasabah penabung emas. Saat ini, jumlah nasabah penabung emas BSI telah menembus 1 juta nasabah.
Untuk memperluas akses kepemilikan emas, BSI juga menghadirkan fitur bank emas melalui aplikasi BYOND. Melalui fitur tersebut, masyarakat dapat mulai membeli emas dengan nominal terjangkau mulai Rp 50.000. Selain membeli, nasabah juga dapat menjual maupun mentransfer emas dalam nominal kecil. Strategi ini dinilai mampu menjawab keterbatasan daya beli masyarakat terhadap investasi emas jika menggunakan pendekatan konvensional. “Jadi niat kami adalah mengedukasi bahwa investasi emas ini adalah bagian dari persiapan jangka menengah dan panjang dan digunakan untuk kepentingan yang jauh lebih besar lagi termasuk misalnya untuk berhaji,” ungkap Ade. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News