BSI Semakin Diminati, Tabungan Tumbuh Tertinggi di Industri



KONTAN.CO.ID - PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mencatatkan pertumbuhan tabungan tertinggi di industri. Tingginya antusias berhaji berdampak pada lonjakan nasabah Tabungan Haji hingga menembus 7,25 juta, sebanyak 1,2 juta merupakan generasi muda (Milenial dan Gen-Z).

Pertumbuhan Tabungan Haji melanjutkan kinerja BSI yang solid sejak merger, sekaligus menunjukkan bahwa dual licence—bank syariah dan bank emas, sukses menumbuhkan customer base secara signifikan. Sejak merger 1 Februari 2021, nasabah BSI tumbuh 9,26 juta, dan khusus pada tiga bulan pertama tahun 2026, jumlah nasabah bertambah 0,5 juta menjadi 23,7 juta.

Peningkatan customer base mendorong Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI pada triwulan I 2026 tumbuh 18% (YOY), menjadi Rp376,8 triliun. Tak hanya tinggi, DPK BSI tumbuh pada segmen dana murah (CASA) dengan giro naik 24,17% (YOY) menjadi Rp71,7 triliun dan tabungan tumbuh 20,18% (YOY) menjadi Rp164,5 triliun. Total CASA tumbuh 21,36% (YOY) menjadi Rp236,2 triliun.


"Tabungan saat ini menjadi engine growth BSI termasuk dari Tabungan Haji,’’ kata Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo pada paparan kinerja Perseroan Triwulan I 2026. BSI, kata dia, fokus pada penumbuhan Tabungan Haji, Payroll, dan Tabungan Bisnis.

Peningkatan DPK mendorong total aset BSI per Maret 2026 naik menjadi Rp460,1 triliun,  mengantarkan BSI ke jajaran Top 5 Bank di Indonesia setelah resmi masuk sebagai bank Persero pada 23 Januari 2026.

Pada triwulan I 2026 BSI membukukan laba bersih Rp2,2 triliun, tumbuh 17,1% (YOY). Kinerja tersebut adalah hasil dari implementasi strategi penurunan biaya dana, penjagaan kualitas pembiayaan serta pertumbuhan pendapatan berbasis fee terutama dari bisnis emas.

Dari sisi pembiayaan, BSI berhasil menumbuhkan double digit atau 14,39% (YOY) mencapai Rp329 triliun. Mayoritas pembiayaan sebesar 72,37% didistribusikan pada segmen konsumer dan ritel, sisanya 27,63% ke segmen wholesale. Kualitas pembiayaan yang disalurkan juga cukup sehat dengan indikasi Non-Performing Financing (NPF) gross 1,8% membaik dari 1,88% periode sebelumnya. Adapun NPF Nett di sekitar 0,38%.

Peningkatan dana murah berkontribusi terhadap penurunan biaya dana ke level 2,12% dan Cash of Kredit (CoC) BSI juga masih terjaga di level 0,73%. Kondisi tersebut cukup ideal untuk mendorong rasio laba bersih perseroan pada triwulan I 2026 dengan indikasi ROA 2,53% dan ROE 19,36%.

BSI mendukung program perekonomian pemerintah dengan pembiayaan Rp198 miliar kepada 211 dapur MBG, penyaluran KDMP ke lebih dari 80 ribu koperasi dan penyaluran KUR kepada 17.732 nasabah. Adapun FLPP kuartal I sebanyak 894 nasabah dengan total pembiayaan rumah bersubsidi mencapai Rp5,7 triliun. Selain itu BSI juga berpartisipasi di dalam Pembiayaan Program Perumahan (KPP) untuk UMKM.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News