BSM memburu produk pasar modal



JAKARTA. Kinerja melempem di tahun lalu tak membuat Bank Syariah Mandiri (BSM) patah semangat. Menghadapi masa depan, BSM punya sederet rencana untuk menggenjot kinerja.

Yang paling dekat, BSM bakal merambah lebih banyak produk pasar modal berbasis syariah. Ada dua produk yang menjadi incaran anak usaha Bank Mandiri ini. Pertama, Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Rencananya, BSM bakal mengajukan diri sebagai bank peserta lelang SBSN.

BSM juga akan memburu SBSN di pasar primer sebagai alternatif pengelolaan likuiditas. BSM juga berharap berkah dari jual beli SBSN di pasar sekunder. 


Kedua, reksadana. Saat ini, BSM sudah menjual produk reksadana pasar uang syariah (RDPS) lewat kerjasama dengan beberapa manajer investasi (MI). Syukri, Senior Vice President (SVP) Tresuri BSM, mengatakan, penjualan RDPS telah mencapai Rp 1 triliun.

Kusman Yandi, Senior EVP BSM menambahkan, portofolio BSM di instrumen pasar modal sekitar Rp 1,8 triliun per  Januari 2015. "Tahun ini kami berharap bisa meningkatkan portofolio pasar modal syariah sekitar Rp 2,7 triliun," ujar Kusman, Senin (2/3).

Kusman juga mengatakan bahwa BSM sebetulnya telah lama berpartisipasi dalam pasar modal syariah.

Selain merambah produk pasar modal yang likuid, BSM juga berniat memperbesar porsi dana murah yang terdiri dari giro dan tabungan (current account saving account/ CASA). Hingga akhir tahun nanti, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) ditargetkan tumbuh 11%-12%.

Untuk pembiayaan, BSM menargetkan pertumbuhan 14%-16% di sepanjang tahun ini. Agus Dwi Handaya, Direktur Keuangan BSM, mengatakan, tahun ini pihaknya fokus menggenjot pembiayaan berbasis payroll atau gaji.

Strategi ini diterapkan untuk pembiayaan konsumer. "Ini meliputi pembiayaan untuk kebutuhan kesehatan, pembiayaan rumah (KPR) dan kebutuhan konsumsi lain," ujar Agus.

Di pembiayaan korporasi atawa wholesale, BSM membidik sembilan sektor andalan. Diantaranya, agrobisnis, lembaga pendidikan, rumah sakit, dan infrastruktur. "Untuk pembiayaan wholesale, BSM lebih banyak menjalin kerjasama dengan Bank Mandiri agar kualiatas pembiayaan bagus," ujar Agus.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), pembiayaan BSM mencapai Rp 10,68 triliun per Desember 2014, susut tipis 3,87% dari tahun 2013. Tahun lalu, pembiayaan didominasi oleh segmen ritel yang berkontribusi sebesar 56% dari total pembiayaan.

Kendati pembiayaan stagnan, BSM tetap memegang predikat sebagai bank umum syariah (BUS) dengan pangsa pasar terbesar. Klaim BSM, pangsa pasar BSM dari sisi aset sebesar 24,58%.  Sedangkan dari sisi  DPK dan pembiayaan masing -masing sebesar 27,46% dan 24,65%, per Desember 2014.

Asal tahu saja, tahun lalu laba bersih BSM turun 88,96% menjadi hanya Rp 72 miliar dari sebelumnya Rp 652 miliar. Salah satu pemicunya, rasio pembiayaan bermasalah atau non perfoming financing (NPF) sebesar 4,23%, naik dari 2,29%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie