BTN Berupaya Turunkan Kredit Bermasalah di Sektor Properti, Begini Strateginya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) terus memperkuat kualitas kredit di tengah masih tingginya permintaan terhadap sektor perumahan. Berbagai upaya dilakukan untuk menurunkan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL). 

Hingga Juni 2026, NPL properti BTN tercatat sebesar 3,5%, membaik dari posisi 3,7% pada tahun sebelumnya. Meski demikian, level tersebut masih lebih tinggi dibandingkan NPL properti industri perbankan yang berada di 3,32% pada Juli 2026, dan turun dari 3,26% pada Juli 2025.

Corporate Secretary BTN Ramon Armando menyebut pihaknya masih melihat permintaan terhadap sektor perumahan relatif tinggi. Namun, pertumbuhan kredit bakal tetap dilakukan secara prudent dan terukur dengan mempertimbangkan kualitas aset.


Baca Juga: The Fed Menaikkan Suku Bunga, Saham Big Banks Menguat Pada Sesi I Kamis (17/9)

"Bagi kami, yang penting bukan hanya pertumbuhannya, tetapi juga kualitasnya. Karena itu, proses underwriting kami lakukan secara selektif dan kualitas kredit terus kami monitor secara berkelanjutan," ujar Ramon kepada Kontan, Selasa (15/6/2026).

Ramon mengungkapkan, tekanan terhadap NPL properti BTN saat ini lebih banyak berasal dari portofolio kredit existing atau legacy loans. Kondisi tersebut terutama terjadi pada kredit konstruksi dan KPR nonsubsidi di wilayah penyangga Timur Jakarta.

Tekanan pada wilayah tersebut, kata Ramon, antara lain dipengaruhi relokasi sejumlah aktivitas industri dan pabrik. Kondisi ini turut berdampak terhadap kualitas kredit pada portofolio lama.

"Kalau melihat NPL properti yang masih tinggi, itu tidak serta-merta berarti ekspansi kredit kami terlalu agresif. NPL merupakan lagging indicator, sehingga kondisi yang terlihat sekarang bisa mencerminkan tekanan dari portofolio kredit lama," jelasnya.

Di sisi lain, Ramon menyebut kualitas booking kredit baru BTN relatif lebih baik. Hal ini didukung oleh penguatan proses underwriting dan monitoring kredit yang dilakukan bank.

Untuk memperbaiki kualitas aset, BTN juga terus memperkuat strategi collection dan recovery. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengubah pendekatan collection dari sebelumnya berbasis regional menjadi berbasis klaster.

Dengan pendekatan tersebut, proses penagihan dapat dilakukan secara lebih fokus dan diharapkan meningkatkan efektivitas collection. BTN juga dapat meningkatkan efisiensi biaya operasional dalam proses perbaikan kualitas kredit.

Baca Juga: OJK Atur Penyeragaman Nama Unitlink Subdana di RPOJK PAYDI, Ini Kata Allianz Life

Ke depan, BTN akan tetap menyalurkan kredit secara selektif dan prudent. Perseroan menargetkan keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan kualitas aset tetap terjaga.

"Kami melihat masih ada ruang bagi kualitas aset untuk terus membaik, dan kami akan terus memperkuat collection serta recovery untuk menjaga NPL properti tetap pada level yang terkendali," kata Ramon.

BTN menegaskan pertumbuhan kredit yang sehat dan berkelanjutan tetap menjadi prioritas perseroan di tengah prospek permintaan sektor perumahan yang masih tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News