BTN perkirakan imbal hasil KIK EBA tahun depan turun



JAKARTA. Masih minimnya pemain Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA), membuat PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) bertekad membuat acuan atau benchmark imbal hasil KIK EBA di pasar.

Wakil Direktur Utama BBTN Evi Firmansyah mengatakan benchmark tersebut akan terbentuk setelah lima tahun penerbitan KIK EBA. "Untuk itu kami perlu menerbitkan KIK EBA selama lima tahun berturut-turut untuk membentuk benchmark di pasar," tutur Evi, di sela-sela pencatatan EBA Danareksa BTN 02 KPR (EBA DBTN02), di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, kamis (17/11). Instrumen EBA DBTN02 tersebut menggunakan aset dasar kredit pemilikan rumah (KPR) BTN. Sekuritisasi KPR BTN tahun ini merupakan seri keempat. Menurut dia, setiap tahunnya imbal hasil KIK EBA turun sekitar 50 basis poin.

Oleh karena itu imbal hasil KIK EBA tahun depan diperkirakan bisa turun 50 basis poin ketimbang tahun ini yang ditetapkan sebesar 8,75% per tahun. Tahun depan, BBTN berencana mensekuritisasi tagihan KPR pada semester II.


Sekuritisasi tersebut ditargetkan sebanyak-banyaknya Rp 1 triliun. "Kalau bisa lebih rendah dari 8,25% lebih bagus, apalagi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) juga turun lagi sebesar 50 basis poin," tutur dia. Untuk membuat KIK EBA menjadi lebih likuid di pasar, BBTN akan memperbesar investor.

Perusahaan tengah berkonsultasi dengan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) agar investor asuransi juga dapat menyerap KIK EBA. "Saat ini yang sudah masuk baru investor asuransi BUMN saja. Kalau investornya diperbesar, tentu akan lebih bagus. Kami akan terus melakukan sosialisasi," tutur dia. Menurut Evi, prospek KIK EBA tersebut masih besar. Dari total portfolio tagihan KPR BBTN sekitar Rp 58 triliun, hingga kini yang baru disekuritisasikan masih sekitar Rp 2 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News