BTN Tawarkan Obligasi Berwawasan Sosial Rp 2 Triliun, dengan Kupon hingga 7,25%



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) kembali menghimpun dana melalui penerbitan obligasi berwawasan sosial. Kali ini, BTN menawarkan Obligasi Berwawasan Sosial Berkelanjutan I Bank BTN Tahap II Tahun 2026 dengan nilai pokok sebesar Rp 2 triliun.

Dikutip dari keterbukaan informasi BEI pada Rabu (30/9), penawaran umum obligasi tersebut merupakan bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi Berwawasan Sosial Berkelanjutan I Bank BTN dengan target dana yang dihimpun mencapai Rp10 triliun. Sebelumnya, BTN telah menerbitkan tahap pertama pada 2025 dengan nilai Rp300 miliar.

Dalam penerbitan tahap II ini, BTN menawarkan dua seri obligasi dengan tingkat bunga tetap berbeda.


Baca Juga: BSI Siapkan Rights Issue Maksimal 6,8 Miliar Saham, Target Rampung Kuartal I 2027

Seri A memiliki nilai pokok Rp950 miliar dengan tingkat bunga tetap 7,05% per tahun dan tenor 370 hari.

Sementara itu, Seri B memiliki nilai pokok Rp1,05 triliun dengan tingkat bunga tetap 7,25% per tahun dan tenor tiga tahun. Bunga kedua seri obligasi dibayarkan setiap tiga bulan.

Masa penawaran umum berlangsung pada 30 September-1 Oktober 2026. Selanjutnya, penjatahan dilakukan pada 2 Oktober, pengembalian uang pemesanan pada 6 Oktober, distribusi elektronik pada 6 Oktober, dan pencatatan obligasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dijadwalkan pada 7 Oktober 2026.

Obligasi tersebut ditawarkan pada harga 100% dari nilai nominal. Pemesanan dapat dilakukan dengan jumlah sekurang-kurangnya Rp 5 juta dan kelipatannya.     

BTN menyatakan seluruh dana hasil penerbitan obligasi, setelah dikurangi biaya emisi, akan digunakan untuk pembiayaan dan/atau pembiayaan kembali proyek sosial yang memenuhi kriteria.

Baca Juga: KB Bank: Penempatan Kas Pemerintah Berpotensi Tambah Likuiditas Perbankan

Proyek tersebut mencakup layanan infrastruktur dasar yang terjangkau dari sisi akses maupun harga, perumahan terjangkau, penciptaan lapangan kerja serta program untuk mencegah dan/atau mengurangi pengangguran.

Selain itu, dana obligasi juga dapat digunakan untuk mendukung pembiayaan usaha kecil dan menengah (UKM) serta pembiayaan mikro.

BTN menargetkan alokasi dana untuk pembiayaan baru atau new financing menjadi mayoritas, yakni sekitar 80%-100% dari total dana. Sementara porsi pembiayaan kembali atau refinancing dibatasi maksimal 20%.

Dana hasil penerbitan akan ditempatkan pada rekening khusus dan dialokasikan untuk proyek sosial yang memenuhi syarat. BTN juga diwajibkan menyampaikan laporan penggunaan dana secara berkala kepada OJK hingga seluruh dana hasil penerbitan direalisasikan.     

Sebagai gambaran, seluruh dana dari penerbitan Obligasi Berwawasan Sosial Berkelanjutan I Bank BTN Tahap I Tahun 2025 telah digunakan untuk pembiayaan dan/atau pembiayaan kembali proyek sosial, termasuk pembiayaan UKM dan mikro.

Dari sisi peringkat, Obligasi Berwawasan Sosial Berkelanjutan I Bank BTN Tahap II Tahun 2026 memperoleh peringkat idAAA (Triple A) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Baca Juga: BNC: AI Buka Peluang Baru untuk Layanan Perbankan yang Lebih Personal

Peringkat tersebut berlaku untuk periode 4 September 2026 hingga 1 September 2027 dan akan diperbarui setiap tahun selama kewajiban atas obligasi masih belum lunas.     

Obligasi BTN ini tidak dijamin dengan jaminan khusus. Namun, seluruh harta kekayaan perseroan, baik yang bergerak maupun tidak bergerak, yang telah ada maupun yang akan ada di kemudian hari menjadi jaminan bagi pemegang obligasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Sementara itu, hak pemegang obligasi bersifat paripassu tanpa hak preferen dengan kreditur BTN lainnya, kecuali kreditur yang memiliki jaminan khusus.     

Berdasarkan data dalam dokumen penerbitan, per 30 Juni 2026 BTN mencatat total aset sebesar Rp 545,16 triliun, naik dari Rp 527,79 triliun pada akhir 2025.

Pada periode yang sama, kredit yang diberikan tercatat Rp 344,71 triliun, sedangkan pembiayaan/piutang syariah mencapai Rp58,21 triliun. Simpanan nasabah berada di level Rp 400,78 triliun.

Dari sisi profitabilitas, BTN membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 2,40 triliun pada semester I-2026, meningkat 40,78% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,71 triliun.

Adapun rasio kecukupan modal atau CAR BTN untuk risiko kredit dan operasional tercatat 18,45%, sementara NPL bruto sebesar 3,03% dan NPL neto 1,90%. ROA berada di 1,06%, ROE 13,36%, sedangkan NIM tercatat 3,46% per 30 Juni 2026.

Dengan penerbitan obligasi berwawasan sosial tahap II ini, BTN menambah sumber pendanaan sekaligus mengarahkan dana yang dihimpun untuk pembiayaan proyek-proyek yang memiliki manfaat sosial, termasuk perumahan terjangkau, UMKM dan pembukaan lapangan kerja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News