BTN Tawarkan Obligasi Berwawasan Sosial Rp2 Triliun, Beri Kupon hingga 7,25%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) akan menerbitkan dan menawarkan Obligasi Berwawasan Sosial Berkelanjutan I Bank BTN Tahap II Tahun 2026 dengan jumlah pokok sebesar Rp2 triliun.

Penawaran tersebut merupakan bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Berwawasan Sosial Berkelanjutan I Bank BTN dengan target dana yang dihimpun sebesar Rp10 triliun. Sebelumnya, perusahaan ini dalam keterbukaan informasi di BEI pada Rabu (16/9/2026) memaparkan telah menerbitkan Obligasi Berwawasan Sosial Berkelanjutan I Bank BTN Tahap I Tahun 2025 sebesar Rp300 miliar. 

BTN menawarkan obligasi tahap II tersebut menjadi dua seri, yakni Seri A dan Seri B. Obligasi Seri A memiliki jumlah pokok sebesar Rp950 miliar dengan tingkat bunga tetap 7,05% per tahun. Obligasi ini memiliki tenor 370 hari kalender sejak tanggal emisi.


Baca Juga: Laba Bank Besar Masih Tumbuh hingga Agustus 2026, Siapa yang Paling Tinggi?

Sementara itu, Obligasi Seri B memiliki jumlah pokok sebesar Rp1,05 triliun dengan tingkat bunga tetap 7,25% per tahun dan tenor tiga tahun sejak tanggal emisi. 

Bunga obligasi akan dibayarkan setiap triwulan. Pembayaran bunga pertama dijadwalkan pada 6 Januari 2027.

Adapun pembayaran bunga terakhir sekaligus jatuh tempo untuk Seri A akan dilakukan pada 16 Oktober 2027. Sementara itu, Seri B akan jatuh tempo pada 6 Oktober 2029.

Penawaran obligasi dilakukan dengan harga 100% dari nilai nominal. Pemesanan pembelian obligasi dapat dilakukan dengan nilai sekurang-kurangnya Rp5 juta dan kelipatannya. 

Berdasarkan jadwal yang tercantum dalam informasi tambahan, masa penawaran umum obligasi berlangsung pada 29 September-1 Oktober 2026.

Tanggal penjatahan dijadwalkan pada 2 Oktober 2026. Selanjutnya, pengembalian uang pemesanan dan distribusi obligasi secara elektronik akan dilakukan pada 6 Oktober 2026.

Obligasi tersebut akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada 7 Oktober 2026. 

Baca Juga: Praktik STNK Only Berpotensi Timbulkan Risiko Hukum bagi Konsumen dan Multifinance

Dalam penerbitan ini, BTN menunjuk PT BCA Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT Indo Premier Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi sekaligus penjamin emisi obligasi.

Emisi obligasi tersebut dijamin dengan kesanggupan penuh atau full commitment. Porsi penjaminan terbesar diberikan kepada Mandiri Sekuritas sebesar Rp720,415 miliar atau 36,02%, disusul Indo Premier Sekuritas Rp568,035 miliar atau 28,40%, BRI Danareksa Sekuritas Rp391,1 miliar atau 19,56%, dan BCA Sekuritas Rp320,45 miliar atau 16,02%.

Adapun yang bertindak sebagai wali amanat adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. BTN menyatakan, seluruh dana hasil penawaran umum setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan untuk pembiayaan dan/atau pembiayaan kembali proyek sosial baru maupun yang sudah ada.

Proyek tersebut mencakup layanan infrastruktur dasar yang terjangkau dari sisi akses maupun harga, perumahan terjangkau, penciptaan lapangan kerja, serta program yang dirancang untuk mencegah dan/atau mengurangi pengangguran.

Dana juga dapat digunakan untuk pembiayaan usaha kecil dan menengah serta pembiayaan mikro. 

BTN menargetkan alokasi dana dapat dilakukan sepenuhnya dalam waktu dua tahun sejak tanggal penerbitan. Porsi pembiayaan baru atau new financing ditetapkan mayoritas, yakni sekitar 80%-100% dari total dana.

Baca Juga: 13 Bank Sudah Masuk Asset Registry Multifinance, OJK Ungkap Manfaat dan Risikonya

Sementara itu, porsi pembiayaan kembali atau refinancing dibatasi maksimal 20%, dengan periode tinjauan maksimal tiga tahun untuk proyek-proyek yang dibiayai ulang.

Dana hasil penerbitan akan ditempatkan dalam rekening khusus dan dialokasikan untuk proyek sosial yang memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan POJK Nomor 18 Tahun 2023. BTN juga berkewajiban menyampaikan laporan realisasi penggunaan dana secara berkala setiap enam bulan hingga seluruh dana hasil penawaran umum direalisasikan. 

Untuk penerbitan obligasi ini, BTN telah memperoleh hasil pemeringkatan dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dengan peringkat idAAA atau Triple A.

Peringkat tersebut berlaku untuk Obligasi Berwawasan Sosial Berkelanjutan I Bank BTN Tahap II Tahun 2026 selama periode 4 September 2026 hingga 1 September 2027.

BTN menyatakan, tidak terdapat hubungan afiliasi antara perusahaan dan perusahaan pemeringkat yang melakukan pemeringkatan obligasi tersebut. 

Meski demikian, obligasi ini tidak dijamin dengan jaminan khusus. Obligasi dijamin dengan seluruh harta kekayaan perusahaan, baik barang bergerak maupun tidak bergerak, yang telah ada maupun yang akan ada di kemudian hari.

Baca Juga: Bank Danamon Tunjuk Wenny Ayupramesti sebagai Plt Kepala Audit Internal

Hak pemegang obligasi bersifat paripassu tanpa hak preferen dengan hak-hak kreditur perusahaan lainnya, kecuali kreditur yang memiliki jaminan khusus atas kekayaan perusahaan.

Adapun risiko utama yang dihadapi investor antara lain risiko tidak likuidnya obligasi, terutama karena instrumen tersebut ditujukan sebagai investasi jangka panjang. 

Dalam informasi tambahan tersebut, BTN mencatatkan total aset sebesar Rp 545,16 triliun per 30 Juni 2026, meningkat 12,45% dibandingkan posisi yang sama tahun sebelumnya.

Kredit yang diberikan tercatat sebesar Rp 344,71 triliun, sedangkan pembiayaan dan piutang syariah mencapai Rp 58,21 triliun.

Pada periode enam bulan pertama 2026, pendapatan bunga dan bagi hasil bersih BTN tercatat sebesar Rp 8,51 triliun, turun dari Rp 9,25 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, laba operasional meningkat menjadi Rp2,93 triliun dari Rp2,10 triliun. Laba tahun berjalan juga naik menjadi Rp 2,40 triliun dari Rp 1,71 triliun pada semester I 2025.

Dari sisi kualitas aset, NPL bruto BTN tercatat sebesar 3,03%, membaik dari 3,31% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, rasio kecukupan modal atau CAR untuk risiko kredit dan operasional berada di level 18,45%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News