BTN Tetap Luncurkan Obligasi Tahun Ini Meski Dapat Likuiditas Tambahan, Ini Alasannya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Tabungan Negara (BTN) tidak mengubah rencana penerbitan surat utang alias obligasi tahun ini, meskipun mendapat suntikan likuiditas tambahan nantinya. 

Asal tahu saja, pemerintah berencana menambah suntikan likuiditas ke perbankan senilai total Rp 100 triliun. Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu pun menyambut rencana ini dan sudah membidik porsi kisaran Rp 12 triliun, sejalan dengan potensi kebutuhan likuiditas yang lebih tebal seiring tren positif pada penyaluran kredit bank.

Di luar keputusan pemerintah nantinya soal rencana likuiditas tambahan ini, BTN sebenarnya sudah menyiapkan dua aksi korporasi untuk menghimpun total dana Rp 6 triliun tahun ini.


Baca Juga: Bos BTN Sambut Baik Rencana Tambahan Likuiditas dari Pemerintah

Rinciannya, BTN bakal menerbitkan modal tier II senilai Rp 2 triliun yang diharapkan menarik minat investor institusi, termasuk Danantara, serta menerbitkan obligasi sebesar Rp 4 triliun untuk memperkuat likuiditas dan mendukung penyaluran kredit.

Nah, kalaupun nantinya bank benar mendapat likuiditas tambahan dari pemerintah, Nixon memastikan rencana penerbitan obligasi ini tak berubah. “Tidak ditunda. Ini kan beda, kalau obligasi itu kan panjang (tenornya), bisa lima sampai tujuh tahun. Kalau likuiditas tambahan ini kan dapat ditarik sewaktu-waktu,” kata Nixon kepada awak media, Jumat (13/3/2026).

Memang, berbeda dengan suntikan likuiditas dari dana saldo anggaran lebih (SAL) sebelumnya yang ditempatkan dalam bentuk deposit on call bertenor enam bulan, kali ini skema penempatan likuiditas tambahan disebut bakal lebih fleksibel agar bisa sewaktu-waktu ditarik kembali ketika dibutuhkan untuk membiayai belanja negara. 

Soal itu, Nixon memastikan BTN juga siap mengembalikan dana sesuai permintaan pemerintah. “Kira-kira jadi lebih cepat tenornya, tidak ada isu,” tegasnya. 

Pun, lanjut Nixon, pada dasarnya baik suntikan likuiditas yang bertenor pendek maupun dana obligasi yang bertenor panjang tak bisa saling menggantikan. Tak cuman karena tujuan penggunaannya berbeda, ia bilang manajemen liabilitas asetnya pada dasarnya tak sama. “Cara pricing-nya, risiko suku bunganya, itu berbeda,” kata Nixon.

Meski tetap meluncur tahun ini, Nixon bilang rencana penerbitan obligasi ini mungkin bakal terealisasi pada semester kedua mendatang. “Karena sekarang masih cukup likuid,” pungkasnya.

Baca Juga: Perkembangan Kasus DSI, Bareskrim Polri Lakukan Penyitaan Aset Senilai Rp 300 Miliar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: