Budi Sasongko, Dirut PT Garam dengan segudang gelar



KONTAN.CO.ID - MemulaI karier sebagai staf rendahan, kini Budi Sasongko berhasil menjadi Direktur Utama PT Garam (Persero). Salah satu kunci suksesnya adalah kemauan untuk terus belajar, mengembangkan diri dan fokus dalam bekerja. Kesetiannya bekerja hampir 30 tahun di PT Garam juga turut menjadi andil dalam membangun kariernya.

Kesetiaan Budi Sasongko bekerja di PT Garam (Persero) selama hampir 30 tahun berbuah manis. Kini ia dipercaya menjadi Direktur Utama PT Garam sejak bulan September 2017. Sebagai orang lama di PT Garam, Budi memulai karier di perusahan milik negara ini sejak masih baru lulus kuliah tahun 1989. Awalnya ia meniti karir sebagai salah satu staf biro umum.

Semangat dan ketekunannya untuk mengembangkan diri dan bekerja dengan total membuat jenjang karirnya lebih cepat dibandingkan teman-teman seangkatannya. Dengan pengalaman puluhan tahun di perusahaan yang sama, dia memulai bekerja sebagai salah satu staf rendahan dan telah merasakan asam garam di hampir seluruh divisi di perusahaan milik negara ini.


Budi berkisah, dirinya pernah dipercaya menjadi Kepala Seksi Bagian Rencana dan Analisa Satuan Pengawas Interen (SPI). Selama memegang jabatan ini, ia bertugas membuat analisa hasil pemeriksaan dan rekomendasi tindak lanjut kepada Kepala Biro SPI.

Budi juga pernah beberapa kali memegang jabatan sebagai kepala divisi. Kepercayaan yang diberikan itu, menurut Budi, menandakan bahwa pimpinan melihat ada potensi dan keunggulan dalam dirinya. Hal itulah yang membuatnya semakin terpacu membangun dan mengembangkan diri.

Budi berkisah, upaya mengembangkan karier di PT Garam juga kerap menghadapi tantangan berat. Salah satu tantangan terbesar yang ia ingat adalah ketika menjabat sebagai Kepala Bagian Wilayah Pemasaran Sumatera II di Padang. Saat itu ia harus memasarkan dan mempromosikan garam, baik garam konsumsi beryodium, maupun garam industri di wilayah Sumatera Barat.

Menurutnya pekerjaan ini termasuk berat karena dia harus membuka pasar baru. Namun berkat kerja keras, pengetahuan serta pengalamannya, ia berhasil menyukseskan sesuai target.

Hal itu terbukti dengan berhasilnya PT Garam mendapatkan market share terbaik selama tahun 2005 hingga tahun 2013. Keberhasilan tersebut tak terlepas dari prinsipnya bekerja adalah ibadah.

Berkat sejumlah pencapainnya itu, pria yang meraih gelar doktor di bidang ekonomi dari Universitas Andalas, Sumatera Barat ini diangkat menjadi direktur produksi pada tahun 2016

"Dengan banyaknya jabatan yang pernah saya jalani selama di level staf, memperkaya pengalaman saya ketika sekarang menjadi pemimpin," ujar Budi kepada Kontan.co.id beberapa waktu lalu.

Menurut Budi, ketekunan dan kerja keras merupakan modal utama menuju kesuksesan dan membangun karier di sebuah perusahaan. Selain itu, kemauan yang kuat untuk mengevaluasi diri sendiri turut juga menopang kesuksesannya.

Dengan adanya kemauan mengoreksi diri, maka ia bisa mengurangi potensi untuk mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama sebelumnya. Belajar dari pengalaman yang kita alami dapat meningkatkan rasa kepekaan dan intuisi kita terhadap pekerjaan, terangnya.

Selain kerjas keras, dan koreksi diri, Budi juga memiliki keinginan yang kuat untuk belajarnya. Ia membuktikan kalau hasrat belajarnya itu bukan sekedar angan-angan. Sambil tetap bekerja dan meniti karier di PT Garam, Budi berhasil mengantongi sejumlah gejar sarjana, master hingga doktoral. Tidak hanya satu, Budi memiliki dua gelar sarjana dan dua gelar master serta satu gelar doktor serta beberapa pendidikan lainnya.

Gelar itu didapatkannya dengan cara yang tidak mudah. Usai menamatkan pendidikan sarjana hukum di Universitas Narotama Surabaya pada tahun 2000, Budi memang memendam keinginan untuk terus belajar. Keinginan itulah yang membuatnya tak mudah berpuas diri dengan dua gelar sarjana. Budi pun melanjutkan pendidikan di tingkat magister pada program studi hukum bisnis di universitas yang sama sampai ia lulus pada tahun 2003.

Dengan gelar sarjana akuntansi, tak lengkap bila tak disertai dengan profesi sebagai akuntan. Maka pada tahun 2010 ia berhasil menamatkan pendidikan profesi akuntan di Universitas Andalas Padang. Belum cukup hanya itu saja, ia juga mengambil S2 Notaris pada tahun 2013 dan tahun 2014 mengambil doktor Bidang Ekonomi di universitas yang sama.

Meskipun sudah memiliki sederet gelar. Budi mengaku selalu merasa haus akan ilmu pengetahuan dalam rangka pengembangan diri. Sebab menurutnya pengembangan diri merupakan investasi terbesar baginya dalam mengembangan karier di masa yang akan datang.

Selain pendidikan, dalam mengembangkan kariernya, Budi juga mengaku selalu melakukan koreksi diri atau auto kritik atas apa yang dijalaninya. Menurutnya kebiasaan koreksi diri dapat membuat orang terbebas dari melakukan kesalahan berulang kali.

Kesuksesan yang diraihnya, menurut Budi juga disebabkan karena dirinya selalu fokus pada suatu usaha dan pekerjaan. Oleh karena itulah dia setia dalam meniti karier di PT Garam. Kesetiaan inilah yang membuatnya dapat lebih ahli dan paham kondisi perusahaan yang dia pimpin.

Komitmen untuk fokus dan setia itu juga yang dipegang teguh Budi. Menurutnya komitmen dalam bekerja merupakan suatu yang tidak dapat ditawar-tawar. Salah satu komitmen yang juga selalu dipegangnya adalah ingin menjadi yang terbaik dalam menyelesaikan pekerjaan.

Bangun kualitas SDM

Budi banyak belajar dari pengalamannya menjadi Direktur Produksi PT Garam tahun 2016. Saat itulah Budi melihat ada yang perlu diubah yakni kualitas para karyawan. Salah satunya kualitas yang perlu diubah dari sumber budaya manusia (SDM) PT Garam adalah terkait pola kerja. Menurutnya pola kerja sebagai farming (petani) harus diubah ke arah industrial. Untuk itu, ia mendorong para karyawannya meningkatkan keterampilan dan pengetahuan di bidang industri dan teknologi.

Dia juga melakukan revitalisasi dan modernisasi sarana dan prasarana produksi garam. Tujuannya adalah agar pembuatan garam sesuai dengan standar operational (SOP). Dengan begitu maka biaya produksi pembuatan garam bisa menjadi lebih efisien sehingga harga garam PT Garam di pasar lebih kompetitif.

Setelah fokus pada pengembangan kualitas SDM, Budi juga berusaha menempatkan karyawan PT Garam sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing. Mengatur SDM sangat penting agar bisa menerapkan prinsip The Right Man on The Right Place dan meningkatkan kompetensi kinerja antar karyawan, jelasnya.

Berkat upaya itulah, Budi dinilai berhasil dalam meningkatkan produksi garam, walaupun harus berhadap dengan kondisi cuaca buruk. Dia pun kemudian dipercaya menjadi nahkoda PT Garam pada tahun lalu.

Ketika diangkat menjadi orang nomor satu di PT Garam, ia mewarisi beban berat karena harus menstabilkan harga garam di pasar. Apalagi saat itu PT Garam juga tengah terjerat kasus hukum, sehingga Direktur Utama PT Garam sebelumnya menjadi pesakitan.

Dia mengaku siap menghadapi itu semua, apalagi sebelum ditunjuk sebagai Direktur Utama, ia telah menjabat sebagai pelaksana tugas Direktur Utama. Karena itulah, ia mengaku sudah mempersiapkan diri dalam memimpin PT Garam di tengah masalah yang membelenggu.

Ketika tongkat estafet kepemimpinan PT Garam diterimanya secara resmi, Budi langsung tancap gas. Ia mematok target produksi garam sesuai arahan pemerintah. Budi menginginkan PT Garam menjadi pengawal pencapain target swasembada serta kedaulatan garam nasional. "Ke depan kami akan menjadi pengawal swasembada dan kedaulatan garam nasional yang didukung oleh pemerintah," tegas Budi.

Dalam rangka mencapai hal tersebut, PT Garam akan penyerap bagi garam rakyat. Garam rakyat tersebut nantinya akan digunakan sebagai stok sehingga harga garam bisa stabil dan seluruh produksinya terserap.

Selain itu PT Garam juga akan melakukan penambahan luas lahan tambak garam. PT Garam akan mengelola lahan baru seluas 300 hektare (ha). Lahan tersebut terletak di Nusa Tenggara Timur (NTT). Wilayah ini dipilih karena memiliki musim panas yang panjang sehingga dapat memprodukis garam lebih banyak. Selain itu, tambak di NTT nantinya juga akan menggunakan teknologi penggaraman terbaru sehingga produksi serta kualitasnya meningkat.

Dengan begitu PT Garam menargetkan produksi garam tahun 2018 sebesar 350.000 ton. Target ini lebih tinggi dibandingkan produksi tahun 2017 yang hanya mencapai 194.300 ton.

Budi menyadari target itu tidaklah mudah dicapai. Butuh kerjasama tim yang kokoh di dalam perusahaan untuk bisa mewujudkannya. Karena itulah dirinya berusaha mencairkan suasana tegang yang dialami karyawan. Ia berusaha membuat suasana kantor seperti keluarga. Dengan suasana yang lebih nyaman maka setiap karawan akan mudah untuk saling membantu mencapai target perusahaan. Demikian juga relasi atasan dan bawahan dibuat secair mungkin, sehingga pekerjaan bisa dilakukan dengan semangat bersama.

Hobi mendengarkan musik dan bersepeda

DI tengah kesibukannya sebagai orang nomor satu di PT Garam (Persero), Budi Sasongko masih bisa menyempatkan diri untuk mendengarkan musik-musik kesukaannya dan naik sepeda. Salah satu musik kegemarannya adalah lagu legendaris dari Koes Plus yakni dengan penggalan lirik "Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman".

Menurut Budi, lagu tersebut tidak hanya nikmat didengar, tetapi juga menginspirasi. Ia terinspirasi untuk kembali kepada alam dan memajukannya. "Lagu tersebut memberikan inspirasi saya untuk kembali dan memajukan alam yang sudah diamanahkan Tuhan kepada kita," ujar Budi.

Selain Koes Plus, Budi juga menyukai grup musik fenomenal asal Inggris, The Beatles. Menurutnya Koes Plus dan The Beatles mengandung filosofi perjuangan serta filantropis. Dengan lagu-lagu kesukannya ini, ia kerap menyanyikannya sendiri dan juga mendengarkannya ketika ada waktu di tengah kesibukan dan kerja kerasnya.

Tidak hanya musik, Budi juga sering bersepeda untuk menghabiskan waktunya. Kebiasaan bersepeda atau biasa ia menyebutnya telah ia lakukan sejak duduk di bangku SMA. Budi biasanya bersepeda dari rumah hingga Alun-alun Malang. "Saya hingga sekarang hobi bersepeda dari rumah ke Alun-alun Malang karena sejak SMA saya sering sekolah dengan sepeda," ceritanya.

Selain itu, di akhir pekan ia selalu menyempat diri bersama dengan keluarga. Karena bagaimana pun keluarga merupakan penopang utama dalam kariernya sehingga bisa seperti sekarang ini.

Selain pada akhir pekan, kalau ada waktu santai atau pun pada waktu cuti kerja, ia kerap mengajak keluarganya jalan-jalan ataupun menonton bareng. Keakraban dan kehangatan saat berada di tengah-tengah keluarga membuatnya semakin semangat dalam membangun karier.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati