KONTAN.CO.ID - Fluktuasi pasar yang dinamis sering kali membuat para investor terjebak. Bagi investor kawakan Warren Buffett, hal ini tidak menjadi masalah. Kuncinya adalah satu prinsip investasi yang menjadi fondasi kesuksesan investasinya selama puluhan tahun. Prinsip investasi Warren Buffett yang ia terapkan selama ini termasuk pada tahun 2025 adalah mampu membedakan antara harga dan nilai suatu aset.
Memisahkan Sentimen Pasar dari Fundamental Bisnis
Bagi Buffett, harga saham bersifat sangat fluktuatif karena digerakkan oleh faktor psikologis seperti rasa takut, ketamakan, berita utama, serta momentum pasar. Sebaliknya, nilai adalah representasi dari arus kas yang akan dihasilkan oleh sebuah bisnis dalam jangka waktu tertentu. Ketika terjadi jurang pemisah yang lebar antara harga pasar dan nilai intrinsik perusahaan, Buffett melihatnya sebagai peluang emas. Menurut data yang dilansir Investopedia, pendekatan ini terbukti ampuh saat krisis finansial 2008. Kala itu, indeks S&P 500 anjlok hingga 37%, namun nilai buku Berkshire Hathaway hanya turun 9,6%. Strategi ini bukan sekadar teori, melainkan aksi korporasi yang terukur. Saat pasar dilanda kepanikan sistemik pada 2008, Buffett justru menyuntikkan modal besar ke beberapa institusi raksasa:- Goldman Sachs: Investasi sebesar US$ 5 miliar atau sekitar Rp 83,37 triliun (kurs Rp 16.675/US$)
- General Electric (GE): Investasi sebesar US$ 3 miliar atau setara Rp 50,02 triliun.
Implementasi Strategi saat Krisis Global
Investasi pada Goldman Sachs memberikan keuntungan yang signifikan bagi Berkshire Hathaway. Buffett membeli saham preferen dengan bunga tahunan 10%. Ketika Goldman Sachs membeli kembali saham tersebut pada 2011 dan Buffett mengeksekusi warannya pada 2013, total keuntungan yang diraup mencapai US$ 3,7 miliar (sekitar Rp 61,69 triliun, kurs Rp16.675/US$). Buffett juga mengambil langkah serupa saat membeli saham General Electric. Melansir Investopedia, Buffett memperoleh keuntungan sebesar US$ 1,5 miliar (sekitar Rp 25,01 triliun) saat GE menebus saham preferennya tiga tahun kemudian. Bagi Buffett, investasi ini bukanlah perjudian karena ia memahami bahwa masalah yang dihadapi perusahaan tersebut bersifat sementara dan tidak merusak kemampuan jangka panjang mereka dalam menghasilkan kas.Harga vs Nilai Intrinsik
Menerapkan aturan Warren Buffett ini tidaklah semudah yang terlihat. Investor dituntut untuk melakukan analisis mendalam terhadap fundamental perusahaan. Beberapa aspek yang harus diperhatikan antara lain:- Model Bisnis: Memahami bagaimana perusahaan menghasilkan keuntungan.
- Keunggulan Kompetitif: Mengidentifikasi apakah perusahaan memiliki "parit" (moat) yang melindungi bisnis dari kompetitor.
- Proyeksi Arus Kas: Menghitung estimasi kas di masa depan dan mendiskonnya ke nilai saat ini.
- Margin of Safety: Memberikan ruang bagi kesalahan analisis dalam menentukan harga beli.