Buffett: Harga vs Nilai Aset, Kunci Sukses Investasi 2026



KONTAN.CO.ID -  Fluktuasi pasar yang dinamis sering kali membuat para investor terjebak. Bagi investor kawakan Warren Buffett, hal ini tidak menjadi masalah. 

Kuncinya adalah satu prinsip investasi yang menjadi fondasi kesuksesan investasinya selama puluhan tahun. 

Prinsip investasi Warren Buffett yang ia terapkan selama ini termasuk pada tahun 2025 adalah mampu membedakan antara harga dan nilai suatu aset.


Baca Juga: Bos AI Meta Tunda Punya Anak Tunggu Chip Otak Musk!

Melansir Investopedia, kesalahan fatal yang sering dilakukan banyak orang, menurut Buffett, adalah menganggap harga sama seperti nilai. 

Dalam surat tahunannya kepada pemegang saham Berkshire Hathaway Inc. pada 2008, Buffett mengutip mentornya, Benjamin Graham, dengan kalimat yang kini menjadi legenda di dunia finansial: "Harga adalah apa yang Anda bayar; nilai adalah apa yang Anda dapatkan."

Memisahkan Sentimen Pasar dari Fundamental Bisnis

Bagi Buffett, harga saham bersifat sangat fluktuatif karena digerakkan oleh faktor psikologis seperti rasa takut, ketamakan, berita utama, serta momentum pasar.

Sebaliknya, nilai adalah representasi dari arus kas yang akan dihasilkan oleh sebuah bisnis dalam jangka waktu tertentu.

Ketika terjadi jurang pemisah yang lebar antara harga pasar dan nilai intrinsik perusahaan, Buffett melihatnya sebagai peluang emas.

Menurut data yang dilansir Investopedia, pendekatan ini terbukti ampuh saat krisis finansial 2008. Kala itu, indeks S&P 500 anjlok hingga 37%, namun nilai buku Berkshire Hathaway hanya turun 9,6%.

Strategi ini bukan sekadar teori, melainkan aksi korporasi yang terukur. Saat pasar dilanda kepanikan sistemik pada 2008, Buffett justru menyuntikkan modal besar ke beberapa institusi raksasa:

  • Goldman Sachs: Investasi sebesar US$ 5 miliar atau sekitar Rp 83,37 triliun (kurs Rp 16.675/US$)
  • General Electric (GE): Investasi sebesar US$ 3 miliar atau setara Rp 50,02 triliun.
Baca Juga: Kilas Balik 2025: Kekayaan Elon Musk Tembus Rp 10.020 Triliun di Tengah Gejolak

Implementasi Strategi saat Krisis Global

Investasi pada Goldman Sachs memberikan keuntungan yang signifikan bagi Berkshire Hathaway. Buffett membeli saham preferen dengan bunga tahunan 10%.

Ketika Goldman Sachs membeli kembali saham tersebut pada 2011 dan Buffett mengeksekusi warannya pada 2013, total keuntungan yang diraup mencapai US$ 3,7 miliar (sekitar Rp 61,69 triliun, kurs Rp16.675/US$).

Buffett juga mengambil langkah serupa saat membeli saham General Electric. 

Melansir Investopedia, Buffett memperoleh keuntungan sebesar US$ 1,5 miliar (sekitar Rp 25,01 triliun) saat GE menebus saham preferennya tiga tahun kemudian.

Bagi Buffett, investasi ini bukanlah perjudian karena ia memahami bahwa masalah yang dihadapi perusahaan tersebut bersifat sementara dan tidak merusak kemampuan jangka panjang mereka dalam menghasilkan kas.

Harga vs Nilai Intrinsik

Menerapkan aturan Warren Buffett ini tidaklah semudah yang terlihat. Investor dituntut untuk melakukan analisis mendalam terhadap fundamental perusahaan. Beberapa aspek yang harus diperhatikan antara lain:

  • Model Bisnis: Memahami bagaimana perusahaan menghasilkan keuntungan.
  • Keunggulan Kompetitif: Mengidentifikasi apakah perusahaan memiliki "parit" (moat) yang melindungi bisnis dari kompetitor.
  • Proyeksi Arus Kas: Menghitung estimasi kas di masa depan dan mendiskonnya ke nilai saat ini.
  • Margin of Safety: Memberikan ruang bagi kesalahan analisis dalam menentukan harga beli.
Banyak investor ritel cenderung gagal karena lebih sering memantau grafik harga daripada membaca laporan keuangan. Mereka sering kali terjebak dalam momentum, membeli saat harga melonjak tinggi dan menjual karena panik saat harga terkoreksi.

Senjata Utama dan Rekor Kas Berkshire Hathaway

Kunci lain dari keberhasilan strategi ini adalah kesabaran yang luar biasa. Jika harga pasar tidak berada di bawah nilai intrinsiknya, Buffett lebih memilih untuk menunggu, tidak peduli seberapa lama waktu yang dibutuhkan.

Berdasarkan data terbaru tahun 2025 yang dikutip dari Investopedia, Berkshire Hathaway memegang posisi kas rekor sebesar US$ 381,7 miliar atau setara dengan Rp 6.364 triliun.

Tonton: Harga Emas Antam Menebal Hari Ini (2 Januari 2026)

Meskipun pasar saham, terutama sektor teknologi, terus mencatatkan penguatan, Buffett tetap disiplin pada aturannya untuk tidak membeli aset yang harganya sudah melampaui nilai wajarnya.

Filosofi ini mencerminkan pandangan jangka panjang yang konsisten. Sebagai contoh, Berkshire Hathaway telah memegang saham Coca-Cola sejak 1988 dan American Express sejak tahun 1960-an.

Pengalaman Buffett menunjukkan bahwa kekayaan terbesarnya justru dihasilkan dari investasi yang dipertahankan dalam jangka waktu yang sangat lama, asalkan nilai fundamental perusahaan tetap terjaga.

Selanjutnya: Daftar 10 Orang Terkaya di Indonesia Awal Januari 2026

Menarik Dibaca: Perdagangan Awal Tahun, IHSG Menanjak 0,3% (2/1)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News