KONTAN.CO.ID - Norwegia menjadi salah satu kejutan di Piala Dunia 2026. Setelah absen selama 28 tahun, tim berjuluk
Løvene itu sukses menembus babak gugur. Pemain bintang seperti Erling Haaland dan Martin Odegaard jelas jadi tulang punggung tim. Di balik keberhasilan tersebut, Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF) menilai kesuksesan tim nasional adalah hasil dari sistem pembinaan pemain yang dibangun selama bertahun-tahun. Presiden NFF, Lise Klaveness, mengatakan Norwegia sejak lama mengembangkan sepak bola melalui klub-klub lokal dengan mengandalkan pelatih sukarelawan.
"Kami tidak memiliki pelatih profesional di sepak bola usia muda. Erling Haaland hingga remaja dilatih oleh para sukarelawan yang bahkan tidak dibayar. Hal yang sama juga dialami Martin Odegaard. Karena itu kami merasa harus memberikan sesuatu kembali kepada mereka," ujar Klaveness kepada
Reuters. Haaland tampil tajam dengan mencetak dua gol saat Norwegia menang 4-1 atas Irak, sebelum kembali mencetak dua gol ketika mengalahkan Senegal 3-2. Dua kemenangan tersebut memastikan Norwegia melaju ke babak 32 besar.
Baca Juga: 10 Pemain Paling Diburu di Bursa Transfer Musim Panas 2026 Pemain Muda Tetap Berkembang Bersama Klub Lokal
Klaveness menjelaskan, filosofi sepak bola Norwegia tidak menempatkan proses seleksi pemain berbakat sebagai prioritas utama sejak usia dini. Sebaliknya, pemain muda didorong untuk tetap bermain bersama klub di daerah asal mereka selama mungkin. "Model kami didasarkan pada hubungan yang sangat erat antara sepak bola akar rumput dan sepak bola elite. Kami tidak terburu-buru menyeleksi pemain muda. Kami ingin mereka tetap berada di klub lokal agar klub-klub di seluruh Norwegia tetap hidup dan berkembang," katanya. Menurut Klaveness, sistem tersebut juga membuat anak-anak tidak perlu meninggalkan rumah terlalu cepat hanya demi bergabung dengan akademi besar. Jika seluruh pemain terbaik direkrut lebih awal, klub-klub kecil akan kehilangan daya saing sehingga ekosistem sepak bola nasional ikut melemah.
Baca Juga: Bukan Cari Pujian, Ini Alasan Fans Jepang Bersihkan Stadion Usai Pertandingan Dibangun Berdasarkan Penelitian Akademik
Associate Professor of Football di School of Sports Science Oslo, Mark O'Sullivan, mengatakan filosofi sepak bola Norwegia berpegang pada prinsip agar sebanyak mungkin anak dapat bermain sepak bola selama mungkin dalam lingkungan terbaik. "Sepak bola Norwegia berusaha berinvestasi di tempat yang benar-benar dibutuhkan, yaitu pada lingkungan nyata tempat proses belajar, melatih, dan meningkatkan performa berlangsung. Tujuannya adalah menciptakan standar tinggi tanpa menyeragamkan semua pemain," kata O'Sullivan. Dalam pembinaan usia dini, anak-anak lebih diarahkan menikmati permainan dan belajar melalui pertandingan daripada mengejar kemenangan semata. Sejak 2016, Norwegia juga telah membangun lebih dari 500 lapangan sepak bola sintetis guna memperluas akses latihan di berbagai wilayah.
Baca Juga: Kontroversi Pride Match Piala Dunia 2026, FIFA Tolak Permintaan Iran dan Mesir Mengandalkan 1.700 Klub dan Ribuan Sukarelawan
Klaveness mengakui kondisi geografis dan iklim Norwegia menjadi tantangan tersendiri dalam mengembangkan sepak bola. Meski demikian, NFF memilih tetap mempertahankan model pembinaan berbasis komunitas yang dinilai paling sesuai bagi negara dengan populasi relatif kecil tersebut.
"Kami ingin tim nasional lolos ke turnamen besar, tetapi model kami dibangun sepenuhnya di atas para sukarelawan. Kami memiliki sekitar 1.700 klub dan sebagai negara kecil, kami tidak mungkin menggunakan model lain," ujarnya. Ia menambahkan, pendekatan tersebut memang membutuhkan waktu lebih lama, tetapi mampu menciptakan fondasi sepak bola yang lebih kuat dan berkelanjutan. "Kami ingin klub-klub melahirkan pemain kelas dunia, tetapi pada saat yang sama tetap menjadi tempat yang terbuka bagi siapa saja, termasuk mereka yang mungkin tidak akan pernah bermain sebagai pesepak bola profesional," pungkasnya.
Baca Juga: Fakta Stadion Baru Manchester United, Biaya Rp47 Triliun dan Muat 100.000 Orang