KONTAN.CO.ID - Banyak para eksekutif memenuhi meja kerjamya dengan buku-buku manajemen teknis untuk mengasah kemampuan kepemimpinan mereka. Namun, pendekatan berbeda justru diterapkan oleh salah satu tokoh paling berpengaruh di industri hiburan global, Ted Sarandos. Co-CEO Netflix ini mengungkapkan bahwa kunci kepemimpinannya justru berakar pada karya sastra fiksi, sebuah perspektif yang menarik bagi para pemegang kebijakan di dunia bisnis.
Pelajaran Menavigasi Konflik dan Ketidakpastian
Novel Typhoon mengisahkan tentang seorang kapten kapal uap beserta krunya yang harus berjuang melewati badai hebat di tengah lautan. Meskipun sekilas tampak seperti cerita petualangan biasa, Sarandos menilai buku tersebut sebagai kisah kepemimpinan paling kuat yang pernah ia baca. Ia mengaku membaca buku tersebut berulang-ulang karena selalu menemukan perspektif baru dalam setiap pembacaan. Dikutip dari wawancara dalam episode Leaders Playbook, Sarandos menjelaskan evolusi pandangannya terhadap karakter kapten dalam buku tersebut. Jika dua dekade lalu ia menganggap sang kapten ceroboh, kini ia melihatnya sebagai simbol ketegaran seorang pemimpin dalam menghadapi konflik. Bagi Sarandos, ujian kepemimpinan yang sesungguhnya adalah bagaimana seseorang mengelola situasi ketika keputusan yang diambil tidak memberikan hasil sesuai ekspektasi. Pelajaran ini sangat relevan dengan realitas bisnis saat ini, di mana perubahan pasar dan disrupsi teknologi sering kali menciptakan "badai" yang tidak terduga. Kemampuan untuk tetap tenang dan mengambil keputusan di tengah situasi sulit menjadi aset berharga bagi seorang manajer atau direktur perusahaan.Otonomi dan Keberanian Mengambil Risiko Besar
Selain dari literatur, filosofi kepemimpinan Sarandos juga dibentuk oleh pengalamannya bekerja bersama pendiri Netflix, Reed Hastings. Sarandos belajar bahwa kepemimpinan yang efektif melibatkan pemilihan talenta terbaik, pemberian fasilitas yang mumpuni, dan memberikan otonomi penuh kepada tim untuk bekerja tanpa intervensi berlebihan. Salah satu bukti nyata dari keberanian Sarandos dalam mengambil risiko adalah saat ia menyetujui proyek serial orisinal pertama Netflix, House of Cards. Melansir CNBC, Sarandos menggelontorkan dana sebesar US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,67 triliun (kurs Rp 16.750 per US$) untuk memproduksi dua musim sekaligus tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Hastings. Keputusan berisiko tinggi tersebut didasari oleh analisis risiko dan imbal hasil (risk-reward) yang matang. Sarandos berargumen bahwa jika serial tersebut gagal, perusahaan hanya mengalami kerugian finansial yang biasa terjadi. Namun, jika berhasil, proyek tersebut memiliki potensi untuk mentransformasi fundamental bisnis Netflix secara keseluruhan. Sejarah kemudian mencatat bahwa langkah tersebut berhasil mengubah wajah industri streaming dunia. Tonton: BREAKING NEWS! Menkeu Purbaya Sampaikan Update Realiasi APBN 2025 dan Arah Kebijakan Fiskal 2026Manfaat Membaca Fiksi bagi Pemimpin Bisnis
Ted Sarandos bukan satu-satunya tokoh besar yang mengandalkan fiksi. Pendiri Amazon, Jeff Bezos, dilaporkan terpengaruh oleh novel The Remains of the Day karya Kazuo Ishiguro. Begitu pula dengan Bill Gates yang sering menekankan bahwa novel dapat membuka tabir mengenai cara kerja sesuatu yang penting dalam kehidupan nyata. Bagi para manajer yang ingin mengadopsi cara ini, terdapat beberapa langkah untuk menarik pelajaran bisnis dari sebuah novel:- Menganalisis Motivasi Karakter: Memahami mengapa seorang tokoh mengambil keputusan tertentu dalam konflik cerita.
- Menarik Paralelisme: Mencari kesamaan antara konflik dalam buku dengan isu-isu yang dihadapi di kantor atau organisasi.
- Ringkasan Plot: Berlatih merangkum inti masalah dan solusi yang ditawarkan dalam narasi untuk melatih ketajaman berpikir.