KONTAN.CO.ID - Pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh setelah keputusan suku bunga diperkirakan menjadi perhatian utama pasar dibandingkan keputusan kenaikan suku bunga itu sendiri. The Fed diperkirakan menaikkan suku bunga pada Rabu (16/9/2026) untuk pertama kalinya sejak 2023. Kebijakan tersebut mencerminkan inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi serta kenaikan biaya pinjaman global.
The Fed diperkirakan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%.
Baca Juga: Broker Global Ramai-ramai Prediksi S&P 500 Tembus 8.000 pada 2026 Langkah tersebut dinilai hampir tak terhindarkan karena inflasi masih berada di atas target 2% bank sentral AS dan biaya pinjaman jangka panjang global terus meningkat. Keputusan tersebut juga menjadi perhatian karena berbeda dengan ekspektasi Presiden AS Donald Trump ketika menunjuk Warsh memimpin The Fed. Trump sebelumnya menyatakan berharap Warsh menurunkan suku bunga dan belakangan mengancam akan mengenakan tarif impor baru jika The Fed tidak memangkas biaya pinjaman. Kini, perhatian pasar beralih pada bagaimana Warsh menjelaskan keputusan tersebut dan apakah investor obligasi global menganggap kebijakan The Fed kredibel dalam menghadapi inflasi yang telah berada di atas target selama lebih dari lima tahun. "Jika mereka menaikkan suku bunga dan keputusan itu diambil secara bulat, itu merupakan sinyal kuat," kata Robert Sockin, Kepala Ekonom AS PGIM.
Baca Juga: SK Hynix Berunding dengan Intel untuk Produksi Chip Memori di AS Pertama Kalinya Menurut Sockin, sinyal tersebut akan semakin kuat apabila proyeksi ekonomi The Fed menunjukkan kemungkinan kenaikan suku bunga kembali pada tahun ini dan mungkin pada 2027. Sockin juga merujuk pada pidato Warsh di simposium ekonomi Jackson Hole pada bulan lalu. Saat itu, Warsh mengatakan jika inflasi tidak turun dengan cukup cepat, The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan. "Yang akan menjadi tantangan adalah jika dia terdengar dovish dan mengatakan ini hanya penyesuaian kecil. Pasar akan bereaksi buruk terhadap hal itu," ujar Sockin.
Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Menguat, Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Perusahaan Energi Inflasi Masih di Atas Target The Fed dijadwalkan merilis pernyataan kebijakan moneter dan proyeksi ekonomi terbaru pada Rabu pukul 14.00 waktu setempat atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Proyeksi tersebut akan mencakup perkiraan para pejabat The Fed mengenai tingkat suku bunga yang dianggap tepat pada akhir 2026. Dalam proyeksi Juni, pandangan para pejabat terbelah. Sebanyak sembilan dari 19 pejabat memperkirakan suku bunga perlu naik setidaknya 25 basis poin hingga akhir 2026. Sementara sembilan pejabat lainnya memperkirakan suku bunga dapat bertahan atau turun 25 basis poin.
Baca Juga: Indeks Nikkei Ditutup Menguat Hari Ini (16/9), Ditopang Saham Produsen Energi Warsh yang tidak menyukai diagram proyeksi suku bunga atau "dot plot" tidak menyerahkan proyeksi pribadinya. Sejak saat itu, dukungan terhadap kenaikan suku bunga semakin kuat. Tiga pejabat The Fed menyatakan perbedaan pendapat dan memilih kenaikan suku bunga dalam rapat 28-29 Juli. Sejumlah pejabat lain juga mengatakan siap menaikkan suku bunga apabila inflasi tidak segera menunjukkan tanda-tanda penurunan. Namun, inflasi belum menunjukkan perbaikan berarti. Indeks
Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator yang digunakan The Fed untuk target inflasi 2%, meningkat pada laju tahunan 3,7% pada Juni dan Juli. Angka tersebut melanjutkan tren kenaikan yang berlangsung sepanjang sebagian besar tahun lalu. Data PCE berikutnya yang akan dirilis pada 30 September diperkirakan hanya menunjukkan sedikit perubahan. Sejumlah ekonom masih memperkirakan tekanan inflasi pada akhirnya mereda. Namun, kenaikan harga minyak kembali di atas US$100 per barel, tarif baru AS terhadap Kanada serta ancaman tarif impor tambahan meningkatkan risiko inflasi. Pertumbuhan ekonomi AS yang tetap kuat di tengah lonjakan investasi AI juga menjadi faktor yang dipertimbangkan The Fed. Dalam pidatonya di Jackson Hole, Warsh mengatakan para pembuat kebijakan perlu yakin bahwa inflasi mendasar bergerak menuju target secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Ia juga menilai data terbaru belum menunjukkan perbaikan berarti dalam tren inflasi mendasar.
Baca Juga: Perang AS-Iran Telan US$ 38 Miliar, Biaya Bisa Bertambah US$ 3 Miliar Sebulan Pasar Obligasi Jadi Sorotan Pasar obligasi global turut memberikan tekanan bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan suku bunga yang lebih tinggi. Imbal hasil US Treasury 10 tahun pada Selasa (15/9) kembali menembus 5% dan mencapai level tertinggi dalam 19 tahun. Kenaikan imbal hasil obligasi global membuat sejumlah ekonom dan investor melihat adanya tren kenaikan biaya pinjaman jangka panjang yang tidak hanya dipengaruhi oleh inflasi, risiko penerbit maupun faktor lain yang menentukan tingkat imbal hasil pasar. Jika tren tersebut berlanjut, suku bunga jangka pendek perlu lebih tinggi agar bank sentral dapat mempertahankan tingkat pelonggaran atau pengetatan kebijakan yang sama. Sejumlah pejabat The Fed, termasuk Warsh, menilai kebijakan moneter saat ini tidak memberikan tekanan besar terhadap perekonomian. Dinamika pasar obligasi global juga dapat menjadi salah satu alasan pemerintahan Trump tidak sepenuhnya menolak kenaikan suku bunga The Fed. Perubahan ekspektasi pasar secara tiba-tiba dapat memunculkan pertanyaan mengenai kredibilitas Warsh dalam mengendalikan inflasi. Kondisi tersebut berpotensi mendorong imbal hasil obligasi jangka panjang lebih tinggi jika investor memperkirakan inflasi akan meningkat dan meminta kompensasi lebih besar. Imbal hasil US Treasury 10 tahun menjadi salah satu acuan biaya kredit bagi konsumen, termasuk suku bunga hipotek. Biaya pembiayaan rumah yang masih tinggi menjadi perhatian di tengah janji Trump untuk membuat biaya hidup lebih terjangkau.
Baca Juga: Inflasi Inggris Melonjak Jadi 3,1% di Agustus, BOE Diproyeksi Pertahankan Suku Bunga Pernyataan Warsh Jadi Kunci Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Rabu mencapai lebih dari 90%. Namun, ekspektasi pasar tersebut bukan alasan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga. Warsh sebelumnya memperingatkan risiko "hall of mirrors", yakni kondisi ketika pembuat kebijakan mulai mengikuti pandangan pasar keuangan yang pada saat bersamaan terbentuk berdasarkan sinyal dari The Fed sendiri. Analis Standard Chartered John Davies dan Steve Englander menilai, The Fed seharusnya mempertahankan suku bunga pekan ini. Mereka mengatakan biaya untuk menunggu dinilai rendah. Meski demikian, cara Warsh menggambarkan kenaikan suku bunga akan menjadi perhatian utama investor.
Baca Juga: Pasca Serangan Drone, Saudi Tawarkan Minyak Mentah Melalui Pelabuhan Oman Pasar akan mencermati apakah kenaikan tersebut dianggap sebagai langkah satu kali, tahap awal dari rangkaian kenaikan berikutnya yang bergantung pada data ekonomi, atau pendekatan lainnya. Robin Brooks, Senior Fellow di Brookings Institution menilai konferensi pers Warsh setelah rapat memiliki risiko besar bagi pasar. Investor saat ini memperhitungkan empat kali kenaikan suku bunga hingga Juni tahun depan. Kondisi tersebut membuat Warsh kemungkinan menghadapi pertanyaan berulang mengenai arah kebijakan moneter. Menurut Brooks, jika Warsh terdengar lebih dovish dibandingkan ekspektasi pasar, imbal hasil obligasi tenor panjang dapat kembali meningkat meskipun The Fed telah menaikkan suku bunga untuk menahan kenaikan imbal hasil tersebut.