KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mengembangkan usaha kecil tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Bagi sebagian pemilik toko, pertumbuhan justru berawal dari persoalan sederhana yang muncul dalam aktivitas sehari-hari. Mulai dari pelanggan yang membutuhkan layanan tambahan, catatan utang yang hilang, keterbatasan uang pecahan untuk kembalian, hingga penggunaan modal yang kurang tepat, berbagai persoalan tersebut dapat memengaruhi operasional dan perkembangan usaha.
Baca Juga: Jaring Talenta, Sinar Mas Digital Day 2026 Gelar The Genius Math League Mengutip
Loan Impact Report BukuWarung terhadap 1.839 pemilik usaha di 33 provinsi pada Selasa (8/9/2026), sebanyak 72% responden mengalami pertumbuhan usaha yang ditandai dengan kenaikan pendapatan rata-rata 58%. Selain itu, 43% responden menyatakan berhasil memperbesar skala usahanya. Sejumlah pengalaman pemilik usaha dalam laporan tersebut menunjukkan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengatasi persoalan operasional sekaligus membuka ruang pertumbuhan. 1. Menambah layanan sesuai kebutuhan pelanggan Peluang pengembangan usaha bisa muncul ketika pemilik toko melihat kebutuhan baru di lingkungan sekitar. Hal tersebut dialami Riko Febriansyah, pemilik Virza Ponsel di Simalungun. Semula, usahanya hanya menjual pulsa dan voucher. Namun, setelah sejumlah pabrik berdiri di wilayah tersebut dan mendatangkan pekerja dari luar Sumatra, kebutuhan terhadap layanan transaksi keuangan ikut meningkat. Riko kemudian menambahkan layanan tarik tunai dan transfer. “Setelah sejumlah pabrik baru berdiri di wilayah saya, banyak pekerja dari luar Sumatra membutuhkan layanan untuk mengambil gaji dan mengirim uang kepada keluarga,” cerita Riko. Penambahan layanan tersebut membuat konternya tidak hanya menjadi tempat membeli pulsa, tetapi juga memenuhi kebutuhan transaksi keuangan masyarakat sekitar.
Baca Juga: Jadwal MPL ID S18 Week 5: Ada Big Match Team Liquid ID vs Bigetron 2. Menjaga catatan utang pelanggan Pencatatan transaksi juga menjadi bagian penting dalam mengelola usaha kecil, terutama bagi toko yang masih melayani pembelian secara utang. Indah Setiawati, pemilik Indah Ponsel di Simalungun, pernah kehilangan seluruh catatan utang pelanggannya setelah buku pencatatan tersiram teh. “Saya sampai menangis karena datanya hilang semua,” tuturnya. Pengalaman tersebut membuat Indah beralih menggunakan pencatatan digital melalui ponsel. Dengan catatan yang lebih mudah dipantau, ia dapat mengetahui arus uang masuk dan keluar serta utang pelanggan yang belum dibayar. “Saya jadi bisa mengetahui berapa uang yang masuk dan keluar, serta utang pelanggan yang belum dibayar,” ujar Indah.
Baca Juga: Mencecap Manisnya Usaha Gula Aren 3. Mengurangi persoalan uang kembalian Persoalan uang pecahan juga dapat mengganggu transaksi di toko. Ketika uang kembalian tidak tersedia, sebagian pedagang bahkan menggunakan permen sebagai pengganti. Hal itu pernah dialami Tua Pangoluan Sitorus, pemilik toko THS Siantar di Pematang Siantar. Ketika toko ramai, ia juga pernah mengalami pelanggan yang belum membayar karena transaksi terlewat. Untuk mengurangi persoalan tersebut, Tua menyediakan pembayaran secara digital melalui QRIS. “Pelanggan sekarang bisa membayar dengan jumlah yang tepat tanpa menunggu kembalian. Tidak ada lagi yang komplain diberi kembalian permen,” katanya.
Baca Juga: Kuliah Mandiri yang Membawa Berkah 4. Menggunakan modal berdasarkan kebutuhan Tambahan modal tidak selalu harus digunakan untuk memperbesar jumlah stok. Bagi usaha kecil, menentukan jenis barang yang tepat justru dapat menjadi faktor penting agar modal tidak tertahan terlalu lama. Pujiono, pemilik toko kelontong di Sragen, misalnya, menggunakan tambahan modal untuk memperbanyak variasi barang yang dijual. Dari semula hanya sekitar lima hingga enam jenis barang, tokonya kini menyediakan sekitar 10 hingga 15 jenis. “Lebih baik stok sedikit, tetapi jenisnya beragam,” kata Pujiono. Ia menentukan barang yang akan dibeli berdasarkan catatan penjualan. Produk yang cepat terjual dan lebih cepat menghasilkan uang menjadi prioritas. Menurut Pujiono, tambahan modal dapat membantu pengembangan usaha, tetapi jumlahnya tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan usaha agar kewajiban pembayaran tidak menjadi beban.
Baca Juga: Semerbak Aroma Fulus dari Kedai dan Ekspor Kopi 5. Mengevaluasi catatan usaha secara rutin Pencatatan transaksi tidak akan banyak membantu jika hanya dilakukan tanpa evaluasi. Pemilik usaha juga perlu melihat kembali catatan tersebut untuk mengetahui kondisi bisnis. Beberapa hal yang dapat diperhatikan antara lain barang yang paling cepat terjual, stok yang terlalu lama tersimpan, pengeluaran yang masih dapat ditekan, serta utang pelanggan yang belum dibayar. Bagi Indah, catatan tersebut juga membantunya mengelola pelanggan yang terbiasa berutang. “Saya dulu jadi tempat orang berutang. Sekarang saya berani menolak karena ada datanya,” ujar Indah. Pengalaman sejumlah pemilik usaha tersebut menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan tidak selalu datang dari ekspansi besar.
Baca Juga: Merancang Desain Kain Tradisional Menjadi Cuan Perbaikan pada layanan, pencatatan transaksi, sistem pembayaran, pengelolaan stok, hingga disiplin terhadap utang pelanggan juga dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat usaha kecil. Dalam konteks tersebut, teknologi dapat menjadi salah satu alat untuk membantu pelaku usaha mengelola persoalan operasional, tetapi keputusan bisnis tetap bergantung pada kemampuan pemilik usaha membaca kebutuhan pelanggan dan mengelola sumber daya yang dimiliki. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News