Bukan Hanya Urea, Pasokan Fosfat Global Terancam Konflik Timur Tengah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perang di Timur Tengah telah menciptakan gangguan besar terhadap pasokan nutrisi tanaman berbasis nitrogen global. Kini, ancaman yang berpotensi lebih besar muncul di bagian penting lain dari pasar pupuk.

Fokus sejak konflik dimulai adalah pada urea, pupuk nitrogen utama yang digunakan pada jagung. Harga nutrisi tersebut telah melonjak karena perang menghalangi pengiriman melalui Selat Hormuz, membuat para petani berebut untuk mendapatkan pasokan.

Yang sebagian besar diabaikan dalam kekacauan ini adalah risiko terhadap pupuk fosfat. Ini adalah elemen kunci untuk tanaman seperti kedelai, yang merupakan tulang punggung produksi pangan.


Timur Tengah hanya menyumbang sekitar seperlima dari perdagangan global untuk tiga produk fosfat utama, menurut The Fertilizer Institute. Tetapi hampir setengah dari pasokan sulfur dunia, yang diubah menjadi asam sulfat untuk pengolahan pupuk fosfat, berasal dari negara-negara di Timur Tengah yang rentan terhadap gangguan di Selat Hormuz.

Dampak di sepanjang rantai pasokan bisa mulai menjadi "eksponensial" jika konflik berlanjut lebih lama lagi, setelah produsen menghabiskan cadangan sulfur dan asam sulfat yang ada, kata Commodity Market Intelligence, ICIS, seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (21/3).

Andy Hemphill, ICIS Fertilizers Market Editor mengatakan, itu adalah kabar buruk bagi pasokan pangan global, yang bergantung pada fosfat untuk mendukung pertumbuhan komoditas pangan, mulai dari kedelai hingga kentang. 

Konflik tersebut sudah menimbulkan kekhawatiran tentang inflasi dan ketahanan pangan. Ini juga merupakan ancaman terbaru bagi petani AS, yang sudah menghadapi biaya produksi tinggi selama bertahun-tahun. 

Hampir 80% fosfor AS digunakan untuk ladang kedelai dan jagung, yang kemudian diproses menjadi pakan ternak dan bahan bakar.

TAG: