Bukan IQ Tinggi, Warren Buffett Ungkap Kriteria Aneh Orang Sukses Jangka Panjang



KONTAN.CO.ID -  Nama Warren Buffett, Bos Berkshire Hathaway yang dijuluki sebagai Oracle of Omaha, sudah tidak asing lagi di telinga para pelaku pasar modal.

Namun, selain lihai memilih saham, Buffett juga dikenal gemar membagikan perspektif unik mengenai cara meraih kesuksesan dan kekayaan bagi generasi muda.

Dalam sebuah diskusi yang dilansir CNBC, Buffett mengungkapkan sebuah tantangan berupa eksperimen pikiran yang sering ia ajukan kepada para mahasiswa. Tantangan ini bertujuan untuk membantu mereka memahami esensi dari kesuksesan finansial jangka panjang yang tidak melulu soal angka.


Baca Juga: Bos Arsenal FC, Stan Kroenke, Jadi Pemilik Lahan Privat Terbesar di AS

Buffett meminta para mahasiswa membayangkan sebuah skenario unik. Misalkan dalam satu kelas berisi 300 orang, mereka diperbolehkan memilih lima orang teman untuk "dibeli" sahamnya.

Sebagai imbalannya, mereka berhak mengantongi 10% dari total penghasilan kelima teman tersebut seumur hidup. Pertanyaannya, kriteria apa yang akan digunakan untuk memilih mereka?

Menurut Buffett, pilihan tersebut biasanya tidak akan jatuh pada teman yang memiliki wajah paling rupawan, atlet yang paling jago di lapangan, atau bahkan mahasiswa dengan nilai IQ paling tinggi.

Sebaliknya, orang cenderung akan memilih individu yang memiliki karakter kuat, integritas, dan kebiasaan positif yang menjamin pertumbuhan nilai di masa depan.

Menjadi Sosok yang Bernilai Tinggi

Poin utama dari simulasi Buffett ini adalah menyadarkan setiap orang bahwa mereka memiliki kendali penuh untuk menjadi sosok yang layak dipilih oleh orang lain.

Mengutip laporan CNBC, Buffett menegaskan bahwa menjadi salah satu dari orang-orang dengan prospek pendapatan tertinggi bukanlah hal yang mustahil.

Hal ini bukan tentang bakat fisik yang luar biasa, melainkan tentang pengembangan diri secara konsisten. Buffett memberikan beberapa poin penting bagi seseorang untuk meningkatkan nilai jual mereka di masa depan:

  • Menjadi pribadi yang baik: Membangun karakter dan integritas merupakan modal sosial yang harganya sangat mahal dalam dunia bisnis dan investasi.
  • Haus akan informasi: Banyak membaca membuat seseorang memiliki sudut pandang yang lebih luas dan tajam dalam mengambil keputusan finansial.
  • Hidup hemat: Menjaga pengeluaran agar selalu lebih kecil dari pendapatan adalah aturan emas manajemen keuangan yang sering kali diabaikan demi gengsi.
  • Investasi pada diri sendiri: Mengalokasikan waktu produktif untuk terus meningkatkan kemampuan dan keahlian di bidang masing-masing.

Bahaya Gali Lubang Tutup Lubang

Dalam urusan manajemen uang, Buffett memberikan peringatan keras mengenai kebiasaan berutang. Ia menjelaskan bahwa seseorang hanya bisa nekat menghabiskan 110% dari pendapatannya satu kali saja.

Setelah itu, mereka akan terjebak dalam masalah keuangan atau "tenggelam" dalam tekanan finansial sepanjang sisa hidupnya.

Tonton: Hore, Bank Mandiri Siap Bagi Dividen Interim, Jumlahnya Mendekati Rp 10 Triliun

Meskipun beberapa jenis pinjaman seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) mungkin masih masuk akal dalam situasi tertentu, secara umum Buffett menyarankan untuk menjauhi utang konsumtif.

Menurutnya, jika seseorang sudah terperosok ke dalam lubang utang, akan sangat sulit untuk bangkit kembali. Ia menyarankan para investor muda untuk menempuh "jalan mudah", yaitu dengan disiplin menjaga agar arus kas tetap surplus setiap bulan.

Fokus pada Peningkatan Kapasitas Diri

Buffett juga menceritakan kebiasaan mendiang mitra bisnisnya, Charlie Munger, dalam mengelola waktu kerja. Munger memiliki prinsip untuk "menjual" jam paling produktif dalam sehari kepada dirinya sendiri terlebih dahulu.

Artinya, Munger akan menggunakan satu jam pertama setiap pagi secara khusus untuk belajar dan meningkatkan kapasitas pikirannya sebelum ia mulai bekerja untuk klien atau orang lain.

Buffett menilai tindakan ini sangat logis karena masa depan seseorang adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan tidak bisa menggantungkan nasib kepada orang lain.

Pesan Buffett sangat jelas bahwa faktor keberuntungan memang ada, terutama dalam kondisi kelahiran atau yang ia sebut sebagai ovarian lottery. Namun, kesuksesan jangka panjang tetap ditentukan oleh bagaimana seseorang mengasah diri serta mengelola modal finansial dan intelektualnya sejak dini.

Selanjutnya: Prakiraan Cuaca Jabodetabek 18 Januari: Ini 3 Kota yang Wajib Bawa Payung

Menarik Dibaca: Cara Membuat Parfum Sendiri di Rumah, Cukup Pakai Essential Oil!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News