Bukan Lagi Blue Chip, Investor Pilih Saham Di Papan Akselerasi, Ini Rekomendasinya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kini lebih suka berburu cuan melalui saham-saham di papan akselerasi dibandingkan saham berkapitalisasi besar ataupun saham blue chip. Lalu, apa pilihan saham di papan akselerasi yang layak dibeli hari ini?

Saham-saham yang tercatat di papan akselerasi menjadi primadona para investor. Ini tercermin dari pergerakan indeks papan akselerasi yang menjadi satu-satunya yang hijau di antara indeks pencatatan lainnya. 

Sepanjang tahun berjalan ini, indeks papan akselerasi sudah menguat 6,05% per Jumat (24/4). Sementara indeks papan utama anjlok 18,08% dan indeks papan pengembangan turun 12,99%. 


Bahkan saham-saham blue chip di Indeks LQ45 juga loyo tahun ini. Sejak awal tahun 2026 hingga 27 April 2026, indeks LQ45 turun 165,26 poin atau 19,40% ke level  686,74.

Baca Juga: Harga Saham Blue Chip Ini Naik Tinggi Karena Dividen Jumbo, Saatnya Beli / Jual?

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mencermati penguatan indeks papan akselerasi didorong oleh masuknya dana ke saham-saham small cap.

“Anomali ini menunjukkan adanya aliran dana yang berpindah dari papan utama dan pengembangan ke saham-saham small cap di papan akselerasi,” katanya kepada Kontan, Minggu (26/4/2026).

Nafan menilai saham-saham small cap cenderung bergerak lebih independen terhadap fluktuasi IHSG. Ini membuatnya relatif minim korelasi dengan sentimen makro global maupun domestik.

Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang bagi trader jangka pendek untuk memanfaatkan volatilitas harga. Terutama bagi pelaku scalping yang mengincar pergerakan cepat disertai lonjakan volume transaksi.

“Pergerakan saham small cap seringkali tidak sejalan dengan IHSG, sehingga menjadi peluang bagi trader untuk mencari profit di tengah pasar yang fluktuatif,” ucap Nafan.

Tonton: Pajak Tol Batal! Pemerintah Tahan Beban Pajak Baru

Namun demikian, Nafan mengingatkan bahwa strategi ini memiliki risiko tinggi. Investor perlu disiplin dalam menerapkan manajemen risiko, termasuk penggunaan stop loss.

Lebih lanjut, Nafan menyarankan agar eksposur terhadap saham di papan akselerasi tetap dibatasi. Menurutnya, komposisi yang ideal berkisar antara 5% hingga 10% dari total portofolio.

“Karena sifatnya spekulatif, investor sebaiknya membatasi alokasi dana dan tetap menerapkan stop loss untuk menghindari kerugian yang lebih besar,” jelasnya.

Selain itu, Nafan  menyoroti potensi risiko auto rejection yang kerap terjadi pada saham-saham berkapitalisasi kecil. Hal ini dapat membatasi ruang gerak harga dalam jangka pendek.

“Strategi hit and run bisa diterapkan, namun tetap harus waspada terhadap potensi auto rejection yang dapat menghambat likuiditas,” tambahnya.

Praktisi Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto menambahkan, masih ada peluang untuk trading pada saham-saham yang tercatat di papan akselerasi ini di tengah fluktuasi IHSG. 

 
KING Chart by TradingView
“Strateginya sederhana, trend following pada saham-saham itu dengan melakukan pembelian pada support trendline maupun dinamis seperti moving average,” ucap William. 

Dari 32 emiten yang tercatat di papan akselerasi, William merekomendasikan investor untuk mencermati saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), PT Hoffmen Cleanindo Tbk (KING), PT Klinko Karya Imaji Tbk (KLIN) dan PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (CASH).   

845 Sanksi Dalam 3 Bulan! Kepatuhan Emiten RI Disorot
© 2026 Konten oleh Kontan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News