KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini selama Januari 2026, lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi atau ekspektasi pasar terhadap risiko kebijakan fiskal pemerintah, bukan semata-mata karena kebijakan moneter atau keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI). "Pelemahan rupiah yang dipengaruhi persepsi pasar biasanya bukan sekadar puas atau tidak puas terhadap level suku bunga, melainkan penilaian pasar atas risiko yang lebih luas, seperti arah defisit fiskal, kualitas koordinasi kebijakan, dan keyakinan bahwa kebijakan moneter tetap kredibel dan independen," ungkap Josua. Dari sisi kebijakan moneter, BI menurutnya sudah melakukan langkah optimal untuk menjaga stabilitas rupiah. Terlihat dari keputusan BI yang menahan suku bunga acuan di level 4,75% pada Januari 2026, yang pada dasarnya sudah sesuai dengan ekspektasi pasar.
Bukan Moneter, Pelemahan Rupiah Lebih Dipicu Persepsi Risiko Kebijakan Fiskal?
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini selama Januari 2026, lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi atau ekspektasi pasar terhadap risiko kebijakan fiskal pemerintah, bukan semata-mata karena kebijakan moneter atau keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI). "Pelemahan rupiah yang dipengaruhi persepsi pasar biasanya bukan sekadar puas atau tidak puas terhadap level suku bunga, melainkan penilaian pasar atas risiko yang lebih luas, seperti arah defisit fiskal, kualitas koordinasi kebijakan, dan keyakinan bahwa kebijakan moneter tetap kredibel dan independen," ungkap Josua. Dari sisi kebijakan moneter, BI menurutnya sudah melakukan langkah optimal untuk menjaga stabilitas rupiah. Terlihat dari keputusan BI yang menahan suku bunga acuan di level 4,75% pada Januari 2026, yang pada dasarnya sudah sesuai dengan ekspektasi pasar.
TAG: