KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ambisi perusahaan dalam mengadopsi teknologi kecerdasan buatan atau
artificial intelligence (AI) masih terbentur pada kesiapan infrastruktur data. Laporan Data Streaming Report 2026 yang dirilis Confluent mengungkapkan, sebanyak 72% pemimpin teknologi informasi (TI) global mengaku kesulitan memperluas implementasi AI karena infrastruktur data real-time belum memadai.
Baca Juga: APM Optimistis Semester II Lebih Bergairah, GIIAS dan Model Baru Jadi Andalan Survei yang melibatkan 4.625 pemimpin TI di 14 negara, termasuk Indonesia, tersebut menunjukkan bahwa hambatan utama pengembangan AI kini bukan lagi keterbatasan investasi, melainkan fondasi data yang belum siap menopang operasional AI dalam skala besar. Sebanyak 72% responden mengaku menghadapi sedikitnya tiga tantangan dalam mengembangkan AI. Kendala terbesar adalah keterbatasan infrastruktur pemrosesan data secara real-time (72%), diikuti persoalan asal-usul, ketepatan waktu, dan kualitas data (66%), serta kepemilikan data yang masih terfragmentasi (65%). Kondisi tersebut turut menghambat pengembangan AI otonom (autonomous AI). Sebanyak 66% responden menyebut persoalan infrastruktur dan kualitas data menjadi tantangan utama penerapan AI otonom. Akibatnya, baru 32% perusahaan yang berhasil mengimplementasikan AI otonom di lingkungan produksi.
Baca Juga: Toyota Optimistis Penjualan Mobil Akan Membaik pada Semester II Chief Product Officer Confluent Shaun Clowes mengatakan, tantangan terbesar perusahaan saat ini bukan lagi besarnya investasi AI, melainkan kesiapan data sebagai fondasi utama teknologi tersebut. "Sebagian besar organisasi tidak memiliki masalah investasi dalam AI, melainkan masalah data. Sistem AI bergantung pada informasi yang terkini, akurat, dan kontekstual, namun masih terlalu banyak sistem yang dibangun berdasarkan data yang terfragmentasi, proses batch, dan infrastruktur yang tidak dirancang untuk kecerdasan berkelanjutan," ujar Shaun dalam keterangan resmi, Rabu (29/7/2026). Menurut Shaun, ketika implementasi AI mulai bergeser dari tahap uji coba menuju proses bisnis inti, perusahaan membutuhkan sistem yang mampu menyajikan data secara real-time agar model AI dapat menghasilkan keputusan yang relevan. Laporan tersebut juga mencatat sebanyak 80% pemimpin TI menjadikan pemanfaatan data perusahaan sebagai penggerak sistem AI sebagai prioritas utama bisnis.
Baca Juga: MIND ID Pertahankan 90% Pemasok Lokal, Perkuat Rantai Pasok Industri Tambang Selain itu, 88% responden menilai platform data streaming menjadi faktor penting dalam mendukung pengembangan AI otonom karena mampu menyediakan data yang lebih tepercaya, kontekstual, dan mudah diakses. Sebanyak 94% responden memperkirakan data streaming akan meningkatkan dampak investasi AI, sementara 90% meyakini teknologi tersebut dapat mempercepat adopsi AI di perusahaan. Menariknya, investasi pada data streaming kini mulai melampaui investasi pada teknologi AI itu sendiri. Sebanyak 88% pemimpin TI menempatkan data streaming sebagai prioritas strategis, lebih tinggi dibandingkan AI dan machine learning (AI/ML) yang dipilih oleh 82% responden. Di Indonesia, tantangan pengembangan AI bahkan dinilai lebih besar. Sebanyak 82% pemimpin TI mengaku menghadapi sedikitnya tiga hambatan utama dalam mengembangkan AI.
Baca Juga: BLTZ Siapkan Ekspansi dan Diversifikasi Bisnis untuk Dorong Kinerja 2026 Dari jumlah tersebut, 79% menyebut keterbatasan infrastruktur data real-time sebagai kendala terbesar, sedangkan 74% menilai kualitas data masih menjadi penghambat utama penerapan AI otonom. Meski demikian, optimisme terhadap pemanfaatan data streaming di Indonesia menjadi yang tertinggi dibandingkan negara lain dalam survei. Sebanyak 99% responden memperkirakan teknologi tersebut akan meningkatkan efektivitas investasi AI, sementara 98% percaya platform data streaming dapat mempercepat adopsi AI di perusahaan.
Bahkan, sebanyak 98% pemimpin TI di Indonesia menempatkan data streaming sebagai prioritas strategis, melampaui investasi pada solusi AI dan machine learning. Area Vice President Asia Confluent Rully Moulany menilai, perusahaan di Indonesia memiliki ambisi besar dalam mengembangkan AI, tetapi masih menghadapi tantangan pada kesiapan infrastruktur data. "Organisasi di Indonesia tidak kekurangan ambisi dalam hal AI, namun terhambat oleh infrastruktur data yang tidak pernah dirancang untuk sistem real-time dan otonom. Perusahaan yang berinvestasi dalam data streaming yang kuat saat ini akan menjadi yang paling siap mengubah uji coba AI menjadi nilai bisnis yang nyata," ujar Rully. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News