KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penarikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah sebesar Rp 300 triliun secara bertahap dari bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan penempatannya kembali di Bank Indonesia (BI) dinilai bukan sinyal bahwa bank sentral kehabisan amunisi untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun sebagai upaya penguatan koordinasi fiskal dan moneter. Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, menilai langkah tersebut lebih tepat diartikan sebagai upaya penguatan koordinasi fiskal dan moneter di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan ketidakpastian pasar keuangan global. "Menurut saya, penarikan dana SAL dari Himbara dan penempatan ke Bank Indonesia jangan langsung dibaca sebagai tanda bahwa BI kehabisan cadangan devisa atau sudah tidak punya ruang intervensi. Ini lebih tepat dibaca sebagai penataan ulang kas pemerintah dan penguatan koordinasi fiskal-moneter di tengah tekanan rupiah," ujar Josua kepada Kontan, Kamis (25/6/2026).
Bukan Tanda Cadangan Devisa Minipis, Ini Tujuan Pengembalian SAL ke BI
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penarikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah sebesar Rp 300 triliun secara bertahap dari bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan penempatannya kembali di Bank Indonesia (BI) dinilai bukan sinyal bahwa bank sentral kehabisan amunisi untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun sebagai upaya penguatan koordinasi fiskal dan moneter. Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, menilai langkah tersebut lebih tepat diartikan sebagai upaya penguatan koordinasi fiskal dan moneter di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan ketidakpastian pasar keuangan global. "Menurut saya, penarikan dana SAL dari Himbara dan penempatan ke Bank Indonesia jangan langsung dibaca sebagai tanda bahwa BI kehabisan cadangan devisa atau sudah tidak punya ruang intervensi. Ini lebih tepat dibaca sebagai penataan ulang kas pemerintah dan penguatan koordinasi fiskal-moneter di tengah tekanan rupiah," ujar Josua kepada Kontan, Kamis (25/6/2026).
TAG: