Bukan Tanda Cadangan Devisa Minipis, Ini Tujuan Pengembalian SAL ke BI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penarikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah sebesar Rp 300 triliun secara bertahap dari bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan penempatannya kembali di Bank Indonesia (BI) dinilai bukan sinyal bahwa bank sentral kehabisan amunisi untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun sebagai upaya penguatan koordinasi fiskal dan moneter.

Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, menilai langkah tersebut lebih tepat diartikan sebagai upaya penguatan koordinasi fiskal dan moneter di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan ketidakpastian pasar keuangan global.

"Menurut saya, penarikan dana SAL dari Himbara dan penempatan ke Bank Indonesia jangan langsung dibaca sebagai tanda bahwa BI kehabisan cadangan devisa atau sudah tidak punya ruang intervensi. Ini lebih tepat dibaca sebagai penataan ulang kas pemerintah dan penguatan koordinasi fiskal-moneter di tengah tekanan rupiah," ujar Josua kepada Kontan, Kamis (25/6/2026).


Baca Juga: Cadangan Devisa April 2026 Susut , Biaya Menjaga Stabilitas Rupiah Semakin Mahal

Ia menegaskan, posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang memadai. Per akhir Mei 2026, cadangan devisa tercatat sebesar US$ 144,9 miliar atau setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor maupun 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Angka tersebut masih jauh di atas standar kecukupan internasional yang umumnya berada di kisaran tiga bulan impor.

"Jadi narasi bahwa BI sudah kehabisan cadangan devisa tidak tepat. Yang lebih tepat adalah BI ingin mengurangi beban intervensi langsung dengan memperkuat bauran kebijakan," kata Josua.

Menurutnya, upaya BI untuk mengurangi ketergantungan pada intervensi langsung di pasar valas dengan memperkuat bauran kebijakan dilakukan melalui penyesuaian suku bunga acuan, menjaga daya tarik instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), intervensi pasar valuta asing, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah.

Meski demikian, Josua mengakui pengembalian dana SAL ke BI tetap dapat dilihat sebagai langkah memperkuat amunisi kebijakan dalam arti yang lebih luas, bukan amunisi cadangan devisa secara langsung.

Baca Juga: Perry Warjiyo: Cadangan Devisa RI Lebih dari Cukup untuk Jaga Stabilitas Rupiah

"Dana SAL adalah rupiah, bukan dolar AS. Karena itu, pemindahan dana SAL dari Himbara ke rekening pemerintah di BI tidak otomatis menambah cadangan devisa," ujarnya.

Menurut Josua, dampak utama kebijakan tersebut lebih terasa pada pengelolaan likuiditas rupiah di pasar domestik.

Penempatan dana pemerintah di BI dapat membantu bank sentral mengatur jumlah uang beredar, meredam spekulasi di pasar keuangan, sekaligus memperkuat keyakinan investor bahwa pemerintah dan BI bergerak dalam satu arah menjaga stabilitas ekonomi.

Nilai dana SAL yang ditarik juga tidak kecil, mencapai sekitar Rp 300 triliun. Jika dikonversi menggunakan kurs sekitar Rp 18.000 per dolar AS, nilainya setara dengan sekitar US$ 16 miliar hingga US$ 17 miliar.