Bukit Asam (PTBA) Dapat Fasilitas Pembiayaan Rp 6 Triliun, Simak Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mendapatkan fasilitas pembiayaan hingga Rp 6 triliun untuk modal kerja.

Fasilitas tersebut berasal dari dua perjanjian kredit, yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memberi pinjaman Rp 2 triliun dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 4 triliun. 

"Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung kebutuhan operasional dan modal kerja PTBA," jelas Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno dalam keterbukaan informasi di BEI pada Senin (28/9/2026). 


Eko bilang, Perjanjian Kredit I dengan BRI berbentuk Kredit Modal Kerja Rekening Koran Pemanfaatan DHE SDA dengan plafon hingga Rp 2 triliun.

Baca Juga: Astra Graphia (ASGR) Berpotensi Beri Dividend Yield 11,79%, Analis Ingatkan Risikonya

Sebagai jaminan, PTBA memberikan blokir atau agunan berupa rekening penempatan DHE milik perusahaan di BRI. 

Selanjutnya, Perjanjian Kredit II dengan Bank Mandiri berupa Kredit Talangan Dana DHE SDA dengan plafon hingga Rp 4 triliun. 

Untuk fasilitas dari Bank Mandiri, jaminannya berupa blokir atau agunan rekening penempatan DHE milik PTBA di Bank Mandiri.

Pemanfaatan DHE SDA tersebut mengacu pada ketentuan pemerintah mengenai pengelolaan devisa hasil ekspor sumber daya alam. 

Berdasarkan PP No. 36 Tahun 2023 yang terakhir diubah melalui PP No. 21 Tahun 2026, eksportir dapat memanfaatkan sebagian DHE SDA untuk tujuan yang telah diatur, termasuk melalui instrumen keuangan. 

Ketentuan Bank Indonesia juga memungkinkan eksportir memperoleh fasilitas pembiayaan atau kredit dengan agunan berupa DHE SDA yang ditempatkan pada bank Himbara. 

Bagi PTBA, skema tersebut memberikan tambahan fleksibilitas dalam mengelola likuiditas. Fasilitas kredit akan digunakan untuk membiayai kebutuhan modal kerja operasional. 

“Meski memberikan tambahan ruang likuiditas, fasilitas tersebut tetap menimbulkan kewajiban pembayaran pokok dan bunga bagi PTBA,” katanya.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, untuk jangka pendek, fasilitas pembiayaan Rp6 triliun tersebut lebih tepat dilihat sebagai instrumen penguatan likuiditas dan modal kerja.

Baca Juga: AALI Bagi Dividen Interim Rp 233 dengan Potensi Yield 2,91%, Simak Jadwalnya

Artinya, ini bukan indikasi bahwa PTBA sedang mengalami tekanan keuangan. Sebab, plafon Rp6 triliun tidak berarti PTBA otomatis menarik seluruh dana tersebut. 

“Fasilitas ini justru memberikan fleksibilitas kepada perseroan dalam mengelola kebutuhan modal kerja, terutama ketika terdapat jeda antara penerimaan hasil ekspor dan kebutuhan pembayaran operasional,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (30/9/2026).

Dari sisi neraca, risikonya perlu diperhatikan apabila fasilitas tersebut ditarik secara besar dan berlangsung dalam waktu panjang. Sebab, hal ini akan meningkatkan kewajiban berbunga dan beban bunga PTBA. 

Per Juni 2026, utang berbunga PTBA tercatat sekitar Rp2,98 triliun, sehingga apabila seluruh plafon Rp6 triliun digunakan, leverage perusahaan secara nominal akan meningkat cukup signifikan. Nilai fasilitas tersebut juga setara sekitar 23,68% dari ekuitas PTBA per 30 Juni 2026.

“Namun, karena pembiayaan tersebut dijamin oleh DHE SDA dan ditujukan untuk modal kerja, bukan semata-mata ekspansi agresif, dampaknya terhadap fundamental masih dapat dikelola sepanjang arus kas operasional tetap kuat,” katanya.

Nafan bilang, strategi yang perlu diperkuat PTBA adalah disiplin cash-flow management, optimalisasi perputaran modal kerja, efisiensi biaya produksi dan logistik, serta memastikan utilisasi fasilitas kredit benar-benar menghasilkan operating cash flow yang lebih besar daripada biaya pendanaannya. 

Baca Juga: Strategi Baru BI Redam Volatilitas Rupiah, Ini Dampaknya bagi SBN dan Pasar Saham

Dengan kata lain, fasilitas tersebut idealnya digunakan sebagai revolving liquidity buffer dan bukan sebagai sumber pembiayaan permanen. 

PTBA juga perlu menjaga keseimbangan antara kebutuhan DHE, kewajiban domestik (DMO), belanja modal, dan pembayaran utang. 

“Hal ini penting karena pada semester I 2026 fundamental operasional PTBA sebenarnya menunjukkan perbaikan,” katanya.

Sepakat, Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, PTBA perlu menjaga utilisasi fasilitas secara selektif, mempercepat perputaran modal kerja, menjaga arus kas operasi dan disiplin belanja modal alias capital expenditure (capex) agar fasilitas tersebut tidak berubah menjadi beban neraca. 

Untuk prospek akhir 2026 hingga 2027, kinerja operasional PTBA dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan, terutama apabila perseroan mampu mengejar target volume. 

Nafan menuturkan, PTBA menargetkan produksi dan pembelian batu bara 2026 sebesar 49,55 juta ton serta penjualan 49,51 juta ton, lebih tinggi dibandingkan realisasi 2025. 

Sementara pada semester I 2026, produksi baru mencapai 19,45 juta ton dan penjualan 21,1 juta ton. Artinya, semester II menjadi periode penting untuk mengejar target tersebut. 

“Perbaikan stripping ratio, optimalisasi angkutan kereta api, serta pemulihan volume produksi akan menjadi faktor penting untuk menjaga biaya tetap kompetitif,” tuturnya.

Untuk 2027, prospek fundamental PTBA akan sangat bergantung pada kombinasi volume produksi/penjualan dan harga batu bara, bukan hanya kenaikan volume.

Sentimen positif penggerak kinerjanya di tahun depan antara lain peningkatan kapasitas produksi dan logistik, permintaan domestik yang relatif defensif karena kebutuhan PLN, diversifikasi pasar ekspor, efisiensi biaya, serta perkembangan proyek hilirisasi dan infrastruktur angkutan batubara. 

Sebaliknya, faktor pemberatnya adalah potensi normalisasi harga batu bara global, tekanan biaya penambangan dan stripping ratio, kewajiban DMO, volatilitas rupiah, kebutuhan capex yang besar, serta meningkatnya beban bunga apabila fasilitas kredit DHE digunakan secara agresif. 

“Pada semester I 2026 sendiri, penjualan domestik mencapai 10,77 juta ton sementara ekspor 10,33 juta ton, menunjukkan bahwa PTBA memiliki kombinasi eksposur domestik dan ekspor yang cukup seimbang,” katanya.

Dari sisi pergerakan saham, PTBA masih memiliki daya tarik berbasis fundamental dan cash-flow. Namun, katalisnya akan sangat sensitif terhadap arah harga batu bara, pencapaian target volume, margin, serta kebijakan pemerintah terkait DMO dan hilirisasi. 

Kinerja laba semester I yang tumbuh 218% YoY memberikan basis fundamental yang jauh lebih kuat dibandingkan periode sebelumnya, sementara pemulihan produksi pada kuartal II dan kenaikan harga jual rerata (ASP) menunjukkan adanya perbaikan operasional.

“Namun, investor tetap perlu mencermati apakah lonjakan laba tersebut dapat dipertahankan ketika harga batu bara mengalami normalisasi,” paparnya.

Sukarno melihat, prospek operasional PTBA positif hingga 2027, ditopang pemulihan volume, ASP yang lebih baik, perbaikan stripping ratio, serta ekspansi logistik Tanjung Enim-Kramasan dan Kertapati. 

Volume produksi di tahun 2026 juga diperkirakan sekitar 49,5 juta ton, naik sekitar 5% YoY, sementara volume 2027 berpotensi relatif stabil pada level tersebut.

Sentimen positif berasal dari kenaikan volume, harga jual batu bara, efisiensi biaya, ekspansi logistik dan potensi dividend yield yang menarik. 

“Sementara, sentimen pemberat meliputi pelemahan harga batu bara, kenaikan fuel cost, apresiasi rupiah, risiko transisi energi, regulasi, serta kebutuhan capex downstream yang dapat mengurangi ruang pembagian dividen,” ungkapnya.

Nafan masih menyarankan wait and see untuk PTBA. Sementara, Sukarno merekomendasikan beli untuk PTBA dengan target harga Rp 3.320 per saham. 

“Target tersebut mencerminkan valuasi blended NAV dan DCF, dengan valuasi sekitar 8,2x P/E dan 4,8x EV/EBITDA,” kata Sukarno.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News