Buletin Keamanan AS Terkait Ancaman Iran Diblokir Sementara, Mengapa?



KONTAN.CO.ID - Gedung Putih untuk sementara menghentikan rilis buletin keamanan federal yang berisi peringatan meningkatnya ancaman terhadap Amerika Serikat akibat konflik dengan Iran. Informasi ini disampaikan seorang pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump kepada Reuters.

Reuters melaporkan, buletin tersebut disusun oleh Biro Investigasi Federal (FBI), Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), dan National Counterterrorism Center. Dokumen itu sebenarnya ditujukan bagi aparat penegak hukum di tingkat negara bagian dan lokal.

Namun, pemerintahan Trump meminta agar rilis buletin tersebut ditunda sementara untuk ditinjau kembali. Tujuannya adalah memastikan informasi di dalamnya benar-benar akurat sebelum disebarkan lebih luas.


Pejabat yang mengetahui proses tersebut mengatakan penundaan dilakukan untuk melakukan pemeriksaan ulang isi laporan. Ia berbicara dengan syarat anonim karena membahas urusan internal pemerintah.

Menurut pejabat tersebut, peringatan yang disusun oleh kantor Intelijen dan Analisis di DHS dinilai belum memberikan gambaran yang cukup jelas dan masih perlu diperbaiki dari sisi penulisan.

Sebelumnya, media Daily Mail melaporkan bahwa Gedung Putih memblokir sementara rilis buletin yang memuat rincian tentang kemungkinan cara kelompok proksi Iran melakukan serangan di wilayah Amerika Serikat.

Hingga kini, pihak FBI dan National Counterterrorism Center belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait laporan tersebut.

Sementara itu, juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri mengatakan bahwa pengiriman buletin intelijen kepada Gedung Putih untuk ditinjau terlebih dahulu merupakan prosedur yang normal sebelum dokumen tersebut disebarkan ke berbagai lembaga.

Baca Juga: Ada Ancaman di Selat Hormuz, Kuwait Petroleum Menyatakan Force Majeure

Dalam pernyataannya, Gedung Putih menegaskan bahwa mereka terus berkoordinasi dengan berbagai lembaga pemerintah untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada publik benar-benar akurat, terbaru, dan telah melalui proses verifikasi yang tepat.

Gedung Putih juga menegaskan bahwa proses peninjauan tambahan diperlukan agar tidak ada informasi yang dirilis tanpa koordinasi yang matang.

Serangan Amerika Serikat terhadap Iran sendiri disebut sebagai operasi militer terbesar AS di Timur Tengah sejak invasi Irak pada tahun 2003.

Tonton: Drone Iran Banjiri Timur Tengah! Negara Teluk Jadi Target Utama

Sejak pekan lalu, pemerintah Amerika Serikat juga telah melakukan lebih dari selusin penerbangan charter untuk mengevakuasi ribuan warga negara Amerika dari kawasan Timur Tengah, menurut keterangan Departemen Luar Negeri pada Sabtu.