KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menugaskan Perum Bulog untuk membangun 100 gudang baru untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Merespons hal ini, Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian menilai pembangunan gudang baru tidak akan efektif menekan inflasi jika hanya difokuskan pada komoditas beras dan jagung. Menurutnya, pemerintah juga penting menyertakan fasilitas
cold storage guna menangani komoditas hortikultura yang sering menjadi pemicu utama gejolak harga.
Baca Juga: Bulog Berencana Bangun Gudang Baru Harus Holistik, Ini Kata Pengamat "Komoditas hortikultura menyumbang inflasi yang besar pada kategori
volatile food. Sebaiknya gudang baru ini tidak cuma untuk beras, tapi juga untuk
cold storage agar pemerintah punya kendali saat harga pangan segar melonjak," ujar Eliza pada Kontan.co.id, Kamis (23/4/2026). Terkait pendanaan, Eliza mewanti-wanti agar proyek ini tidak membebani APBN secara penuh. Mengingat kondisi fiskal yang terbatas, ia menyarankan penggunaan skema
blended financing dengan melibatkan sektor swasta dan koperasi. Menurutnya, Bulog tidak harus selalu membangun gedung dari nol, melainkan bisa menyewa gudang milik swasta lokal selama memenuhi standar SOP yang ditetapkan. Eliza juga mendorong adanya konvergensi program dengan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Kerja sama ini dinilai saling menguntungkan karena Kopdes yang fokus pada pengolahan gabah membutuhkan fasilitas penyimpanan, sementara Bulog bisa menghemat investasi awal yang besar dengan skema kemitraan.
Baca Juga: Pencopotan Dua Dirjen Kemenkeu Picu Sorotan, Ini Kata Ekonom Eliza juga menekankan perlunya pengawasan ketat dan transparansi dalam proses pembangunan 100 gudang ini agar terhindar dari pemborosan anggaran dan praktik ketidakefisienan harga
Lebih lanjut, Eliza turut menyoroti hambatan di sisi hilir, yakni penyaluran beras Stabilisasi pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dinilai terlalu kaku karena kewajiban penggunaan aplikasi digital oleh pengecer. Selain itu, kemasan 5 kg dianggap terlalu besar bagi masyarakat menengah ke bawah yang memiliki penghasilan harian. "Masyarakat bawah belinya harian, bukan mingguan. Pemerintah harus mempermudah penyaluran dengan menyediakan kemasan 1 kg agar lebih terjangkau oleh daya beli mereka yang terbatas," tegasnya. Untuk memaksimalkan distribusi, Eliza menyarankan Bulog memperbanyak armada operasi pasar keliling hingga ke pemukiman warga, guna memangkas ongkos transportasi konsumen ke pasar induk. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News